Thursday, April 30, 2015

[Cooking Mom] Setelah 16 Tahun Meragu. Berhasil Bikin Gulai Aceh Ala Mami Mertua.


Menjadi istri seorang berdarah Aceh dan Batak, tentu membuatku harus belajar mengenal banyak makanan di utara Sumatera tersebut. Biasanya juga masak yang pindang-pindangan atau tumis-tumisan sederhana saja, namun setelah menikah, aku dikenalkan lagi dengan varian jenis makanan yang rada rumit masaknya, seperti sayur ubi tumbuk khas medan dan tentu saja gulai Aceh kesukaan suami tercinta. 

Sebetulnya, resep gulai Aceh ini pernah didiktekan mertua, bahkan pernah diajari  satu kali cara memasaknya waktu pulang kampung ke Belawan. Tapi, justru setelah melihat catatan dan cara memasaknya yang menurutku saat itu luar biasa ribet, aku jadi keder untuk belajar membuatnya. Bukan apa-apa, aku kenal bumbu dapur aja setelah 2 tahun menikah. Lah ini, dikenalkan dengan masakan dengan berjibun rempah di dalamnya, serta proses masak yang harus digiling (waktu itu mertua tidak merekomendasikan menggunakan blender...harus digiling tangan. Ampun deh...aku nyerah banget kalau udah lihat gilingan batu gede milik keluarga besar suami). hehehe

Beberapa kali (alm) Mami mertua menyarankan aku memasak gule aceh, karena memang ini makanan kesukaan suami banget. Tapi kupikir, ada mami ini. Dan saat Mami mertua berpulang ke rahmatullah, aku masih berpikir.. ah masih ada adek ipar ini. Kebetulan, Nancy, adek suami ini jago masak, dan rasa masakannya tidak beda jauh dari buatan (alm) mami mertua. 

Tapi setelah 2 tahun kepergian (alm) mami mertua, dan rasa malu, karena minta tolong adik ipar bikin gulai aceh melulu, akhirnya aku nekad ingin mencoba.

Beberapa bulan yang lalu, aku minta adik iparku, Nancy, menuliskan resep gule aceh ala Mami mertua. dan kemarin, aku coba memasaknya dengan diniatkan betul. Sebelumnya aku mendapat kiriman asam sunti dari Papi mertua di Belawan, kemudian kupastikan semua bumbu dan ikan sudah siap. Aku paling gak bisa masak, kalau baru mulai, harus nyari-nyari bumbunya dulu.

Maka kusiapkan waktu 2 jam, khusus untuk mengumpulkan bahan, memotong dan menggiling, hingga memasaknya. Waktu yang relatif banyak buatku, karena sebetulnya aku lebih memilih 2 jam itu untuk menulis depan komputer, ketimbang nongkrong cantik di depan kompor... Tapi demi suami tercintahhh *tsaah :D 

Baiklah, berikut ini langkah-langkah membuat Gule Aceh ala Mami mertua. Menurut suamiku, bisa saja rasa dan kondisi gule berbeda-beda. Tergantung versi yang masak. Sementara indikator enak atau tidak enaknya, terletak dari apakah dimakan habis dan nambah gak suamiku jika menyicipinya. *Alhamdulillah, pulang kantor, suami makan pake lauk ini, gak komentar banyak, hanya makan sampai habis dan nambah lagi saudara-saudara! aku gak perlu pujian deh hehehe.. Suami makan dengan lahap dan nambah aja, sudah senang banget... 

Hemmm.. kembali ke persiapan memasak ya..

Siapkan dulu bahan-bahan berikut ini : *semua ini berdasarkan catatan adik iparku. ada beberapa bagian yang kutambahkan menurut versiku. Jadi mungkin teman-teman yang mau nyoba di rumah, bisa disesuaikan saja jumlahnya, yang penting semua bahan ada. 


Ini tulisan tangan adik iparku.
Ilmu masak mami mertua, emang banyak turun ke dia


 1. Siapkan 1 kg ikan tongkol. potong sesuai selera. Aku menggunakan ikan tongkol, karena ikan ini banyak dagingnya, tidak mudah hancur saat dimasak dan karena emang ikan kesukaan suami. Siapkan 2-3 jeruk nipis untuk dibalur ke ikannya yaaa..:) 

2. 1 ons cabe merah. Kemaren aku hanya punya cabe satu genggam. nggak ngukur berapa beratnya. Pastikan juga ada cabe rawit untuk diceburkan nanti (saya suka pedas soalnya). 

3. 1 genggam bawang merah.

4. 1 siung bawang putih. (kemaren aku pake 2 siung, karena aku suka bawang putih)

5. 1 ruas jahe

6. 1 ruas lengkuas (laos) *kemaren dapat seuprit di dapurku :D 

7. 1 telunjuk kecil kunyit

8. 4 (empat) lembar daun kunyit ukuran kecil, atau kalau suka bisa lebih banyak, atau jika tak suka, bisa selembar daun kunyit saja. 

9. 4 (empat) sendok makan ketumbar (lah kemaren ternyata aku kurang nih ketumbarnya, hanya 2 sendok makan... salah baca resep ini ternyata...hehehe ketahuannya pas nulis lagi resep ini..) 

10. 1 jepit jintan kasar (aku kemaren ukuran ujung sendok makan, jadi seujung kecil)

11. 1 jepit jintan halus

12. 4 (empat) buah cengkeh (bisa lebih bisa kurang, tapi harus ada)

13. 1 genggam kecil asam sunti (ini mempengaruhi asam manis kuahnya. dan asam sunti ini adalah hasil pengawetan atas asam belimbing wuluh. kemaren aku minta dikirimin oleh Papi mertua)


Inilah penampakan bumbu-bumbu dan bahan tersebut sebelum diolah
Aku biasanya kalau masak, memang harus dibuat seperti ini, kalau nggak, suka lupa urutan masaknya
*cooking mom jadi2an hehehe



Selanjutnya, kita giling (blender) 3 bagian. 

Bagian pertama 4 sdm ketumbar, jintan halus dan kasar. ketiga bahan ini diblender sampai halus. kemaren karena blenderku kurang bagus, aku harus menggiling dengan tangan bahan ini. karena gak kegiling sama mesin blenderku. lalu letakkan dalam wadah sendiri. 

Bagian kedua, bawang merah, bawang putih dan cabe. digiling sampe halus. Oh iya, pastikan ada bawang merah beberapa siung yang diiris, dan cabe rawit yang disiapkan untuk diceburkan tanpa digiling ke kuah gulai nantinya. sisihkan dalam satu wadah. 

Bagian ketiga, asam sunti yang digiling halus juga. tentunya selama menggiling, tambahkan sejumlah air, agar mudah menggilingnya. Lalu sisihkan

*singkatnya, semua bumbu dihaluskan kecuali daun kunyit dan cengkeh. 

Kemudian, khusus ikan tongkol, setelah dibalur jeruk nipis 2-3 butir, selama 2-3 kali. Jadi kalau lihat Mami mertua itu, kalau mau masak ikan tongkol untuk gulai aceh ini, selalu direndamnya dengan sedikit air jeruk nipis ini sebentar. Lalu dicucinya sedikit, kemudian dibalurin lagi dengan air jeruk nipis yang baru. Lalu endapkan. Jadi mengendapkan ikan tongkol dengan air jeruk nipis ini lebih baik dilakukan di awal, sebelum melakukan penggilingan dan pengirisan bumbu.

Kata alm. Mami mertua, itu untuk mengurangi aroma amis ikan tongkol. Saya ikuti caranya...:)

Agak kabur gambarnya.
Ini penampakan bahan2nya setelah diblender dan dihaluskan


Langkah selanjutnya :

Masukkan minyak sayur untuk menumis, secukupnya saja, kalau kita menggunakan kuali dengan pelapis teplon, gak perlu terlalu banyak minyaknya. Tumis bawang merah yang sudah diiris sedikit. Tumis hingga wangi. 

Tips dari ibuku sendiri, kalau menumis bawang, kalau sudah aromanya wangi
merebak kemana-mana, itu artinya siap dimasukkan bahan masakan yang lain. :) 


Setelah wangi, masukkan semua bumbu yang sudah digiling satu persatu. Pastikan semuanya sudah masuk, lalu tumis terus sampai aromanya merebak dan mewangi. 
Sekitar 2-3 menit dengan api sedang, kayaknya aroma khas rempah akan menyeruak memenuhi wilayah dapur kita...:)
ini campurang semua bahan


Jika sudah wangi, baru masukkan satu persatu ikan tongkol. Pastikan biji jeruk nipisnya gak ikut masuk.  Kadang, kalau khilaf, terus ada biji jeruk nipis masuk dan kegigit, langsung pahit dan bikin gak enak makan gulai ini lagi...

Tumis terus ikan tongkol dalam keseluruhan bahan yang ditumis. Jangan lupa masukkan air secukupnya *suamiku senang banyak kuah gulainya. kemudian juga garam sesuai tingkat kesukaan asinnya. Lalu aduk perlahan. 


Penampakan ikan tongkol yang kubeli di pasmod BSD :) 

Setelah itu, masukkan bumbu sisanya, yakni daun kunyit, cabe rawit atau cabe merah yang dibagi 2 *dipotek dua kalau istilahku, juga cengkeh. 
Aduk kembali dengan perlahan. 

Penampakan caber rawit dan daun kunyit bikin nambah selera ya? :) 

Untuk memastikan tongkolnya sudah masak dengan sempurna, perkiraan waktu menurut Nancy, sekitar 15 - 20 menit. Aku memilih 20 menit, karena daging ikan tongkolnya agak besar. Aku khawatir tidak matang sampai ke dalam, jika kurang lama. Tapi ini soal selera juga sih. Yang pasti, tips dari si adik ipar sih, jika sudah dirasa tidak ada bau kunyit lagi, sudah boleh diangkat dan siap untuk dihidangkan....

Hemmm.. Delicious kan ya? :)
 

Penampakan Gulai Aceh perdana buataku, setelah berpuluh-puluh menit berjibaku di dapur.
Mudah-mudahan akan sering bikinnya. Selama ada bahannya :) 

Nah, selama aku masak, apa yang terjadi dengan rumahku? Ke mana anak-anakku berada? Hehehe..Setelah selesai masak, dan membersihkan dapur, baru aku perhatikan. Rumahku yang sudah kayak kapal pecah, makin pecah berkeping-keping. *mulai lebai...hehehe

Bantal guling dan mainan bantal2an, semua ditumpuk oleh Aam dan dijadikan "sarang" barunya. Kemudian, mainan number dan puzzle yang kusembunyikan, berhasil ditemukannya dan tersebar indah di atas lantai..:)
Terakhir, Kak Billa dan Aam membajak komputerku. Untung beberapa tulisan sudah kusave. Dan itu artinya, hingga malam menjelang nanti, aku tidak bisa menggunakan komputer tersebut. 



bantal jadi sarang aam 
Puzzle number bertebaran di mana-mana 


Demikianlah kisah ini dibuat, dengan segenap rasa suka cita..:)

Semoga resep masakan ini bisa terus kubuat dan suatu hari bisa kuturunkan pada Billa. Gimanapun juga, ini adalah resep kesukaan ayah mereka dan juga resep keluarga besar ayahnya. 


Btw,...

Selamat mencoba teman-teman sekalian..:) 



Abaikan kondisi rumah yang sudah kayak kapal pecah
Moment lagi rukun begini selalu bikin aku gak jadi marah
meski rumah sudah hancur lebur..:)

*Pamulang, 30 April 2015

Sunday, March 29, 2015

(Aam) 3 Tahun Yang Seru...

Aam usia 2,5 tahun

Nama lengkapnya, Muhammad Ammar Al Mumtaz Onasis...

Tahu nggak, kenapa aku ngotot kasih nama Mumtaz...?

Karena aku bermimpi, di saat usia kandunganku masuk 6 bulan. Dalam mimpi itu aku memanggil seorang anak laki-laki kecil yang lincah ke sana ke mari, Kupanggil dia..."Hei Mumtaz!" beberapa kali.

Ketika bangun tidur, kuingat nama itu.
Ketika bisa di depan komputer kucari arti nama itu.

Kutemukan ini pada link tentang nama 

Mumtaza - bahasa Arab - untuk Perempuan - artinya Yang Paling Istimewa. Sementara ada kata Mumtaz dalam bahasa Arab juga yang berarti : Istimewa, lebih menonjol dari yang lainnya. 
Mumtaz - bahasa Spanyol - untuk laki-laki - artinya Yang Paling Pintar

Juga menemukan kalimat ini terkait kata Mumtaz di link ini : 

Arti nama mumtaz adalah menyolok, dibezakan. sangat indah.Nama mumtaz bisa digunakan untuk nama bayi laki-laki. Nama Mumtaz berasal dari bahasa benggala dengan jumlah huruf sebanyak 6 karakter dan diawali dengan huruf M.


Singkat cerita, aku jatuh cinta pada nama Mumtaz. Dan kuutak-atik nama calon anak ke-3ku ini menjadi : Muhammad Ammar Al-Mumtaz Onasis. Kata Ammar adalah permintaan dari ayahnya, yang menginginkan anaknya menjadi Pemimpin. Kata Muhammad karena mengikuti sunnah, agar bisa meniru jejak sikap Sang Rasulullah. 

Cara penulisan nama ini, mirip dengan nama Putra pertamaku, almarhum Muhammad Miftahurrahman Onasis. Kata Miftah kutemukan sebagai nama yang selevel dengan kata Salsabila, saudara kembar alm.Miftah. Salsabila berarti Mata Air Surga. Sementara Miftah berarti Kunci Pintu Surga. 

Baiklah..., *lap airmata... i miss my miftah already.... 

Mari kita kembali bercerita tentang Aam. 

Aam lahir secara caesar, di usia kandungan minggu ke 38. Itu adalah 17 hari setelah kepergian Papaku. Kisah tentang kepergian Papa yang begitu mengiris dan membuatku menjadi lemah fisik dan mental, pernah kutuliskan di blog, dengan judul Tiket Kepergian. Sehingga, yang awalnya aku berniat melahirkan secara normal, mengingat jarak kelahiran yang relatif jauh dengan kehamilan pertama, tapi ternyata aku give up, karena secara mental dan fisik, aku letih. 


Aam, si anak kangguru, selalu ikut kemanapun aku pergi

Aku baru pulang dari Singapore akhir Februari, dan mendarat di rumah sakit karena demam tinggi. Lalu awal Maret harus terbang ke Palembang, karena kepergian Papa secara mendadak. Padahal Papa sudah bersiap untuk ke Jakarta di tanggal 2 Maret tersebut, menemaniku melahirkan. 
Tanggal 6 Maret aku sudah boyong Mama ke Jakarta lagi. Dan keletihan yang teramat sangat itu, mendorongku memilih untuk menyelamatkan Aam, karena aku tak memiliki lagi tenaga untuk melahirkan secara normal. Mentalku drop, fisikku ikut KO. 

Akhirnya, lahirlah anak ke-3 ku ini, dengan suara tangisan yang kencang di RS Pondok Indah. 4 Jam kemudian, sudah dengan lahap dan pintar menyusu ASI padaku. Subhanallah, rasanya lengkap sekali karunia Allah untuk aku dan suami.

Semua berjalan menyenangkan. Aam lulus ASIX dengan sempurna. Lalu mulai mengenal makanan tambahan. Di sini kadang aku merasa kurang berhasil, karena aku jarang memberinya makanan yang buatan sendiri. Sebagian besar adalah kepingan roti dan bubur instan, sebagaimana kakaknya dulu kuperlakukan. 

Aam, tapi termasuk bayi yang memiliki banyak kemampuan yang lebih dulu dari Billa. Jika Billa, putriku baru punya gigi dan baru bisa duduk di usia 9 bulan, dan baru bisa berjalan di usia 15 bulan. Maka beda dengan Aam, yang sudah tumbuh gigi di usia 6 bulan, kemudian duduk di usia 7 bulan, hanya melewati fase merangkak sekitar 4 minggu, lalu berjalan dan berlari di usia 9-10 bulan. 


Ini adalah senyum dan tawa Aam sebelum usianya setahun.
Terlihat normal sekali
. 

Tenaganya luar biasa kuat. Ia mampu membalikkan keranjang dan semua benda yang menarik perhatiannya. Aam tetap tertarik pada foto hingga usia 13 bulan. Dan kemudian, semuanya mulai tidak menyenangkan. 

Aam tidak mau berbicara satu katapun. Bublingnya terasa aneh di telingaku. Ia nyaris tak pernah menoleh jika dipanggil. Foto-fotonya tetap menarik perhatian, tapi ia sepertinya lebih tertarik pada benda-benda yang melingkar. Ia sanggup membalikkan sepeda roda 4 milik Kakaknya, hanya sekedar untuk memutar roda-rodanya. 

Di usianya yang ke 16 bulan, Aam belum mengucapkan satu katapun (Terlambat Berbicara). Mulai rutin memutar-mutar roda, tidak aware atau peduli siapa aku atau siapa ibunya, tidak tertarik jika dipanggil atau diajak bermain bersama, suka spinning (memutar-mutar) sendiri, berjalan dengan kaki menjinjit dan ujung-ujungnya, yang membuatku semakin khawatir adalah, Aam mulai mengumpulkan benda-benda tertentu, lalu membentuk barisan. Tanpa makna sekalipun. Semakin membuatku khawatir, ketika ia mulai tantrum dan flapping tanpa sebab khusus. Entah ia senang atau marah atau takut.

Di usianya yang ke 16 bulan, aku mengkhawatirkan ciri-ciri yang muncul. Hingga aku tertarik untuk mempelajarinya melalui media youtube, dan aku tercenung mendapati beberapa link, tentang autis dan ciri-cirinya yang mirip dengan kelakukan Aam.  Beberapa kemiripan kelakuan pada Aam, ada pada videoklip tentang autism sign and symptoms ini.  Ada banyak video dan link terkait autisme yang kupelajari. 

Kemudian, ketika ke dokter spesialis anak, spesialis tumbuh kembang, Aam didiagnosa Speech Delayed, dan direkomendasikan untuk Tes Bera (tes pendengaran) dan Konsultasi ke psikolog.
Hasil dari pemeriksaan itu, Aam dinyatakan baik pendengarannya, dan psikolog menetapkan ada diagnosa menuju autisme. Istilahnya High Functioning Autism. 

Aku rasanya mau masuk ke dalam tanah. Rasanya langit runtuh. 

Tak pernah dalam hidupku, akan berhadapan dengan diagnosa autisme pada anak yang kunantikan itu. 

Kupilih second opinion, ke dokter spesialis anak, spesialis syaraf yang juga aktif di sebuah klinik terapi untuk anak berkebutuhan khusus. Dokter ke dua ini tidak melabelisasi apapun pada Aam, tapi menyarankan terapi sensorik integrasi dan jika sudah banyak perkembangan positif, maka bisa dibarengi dengan terapi wicara. Dokter ke dua ini hanya bilang, ada masalah pada tumbuh kembang Aam, dan dapat dikejar dengan terapi yang rutin. 

Maka, sejak itu, di usianya yang baru 17 bulan, Aam menjadi pasien terapi termuda di klinik di depan Pasar Modern BSD tersebut. Terapisnya sungguh sabar dan mampu membantuku untuk bisa menstimulasi Aam. Para terapis itu menandatangani surat keterangan kesehatan aam, dengan kata "diagnosa pdd-nos" (salah satu jenis autis). Kalimat itu sering membuatku miris dan sedih. 

Aku bahkan sempat ngedrop dari segi kesehatan, nyaris jatuh semangat, setiap kali pulang dari terapi. Berbulan-bulan aku berupaya meyakini, bahwa aku bisa melewati fase ini, bahwa Aam akan berhasil menjalani terapi. Namun tetap saja, ada perasaan khawatir yang berlebihan. Akupun akhirnya terkena gejala vertigo dan keletihan yang besar.  

Pertemuanku dengan seorang dokter umum, di sebuah rumah sakit swasta dekat rumah, membuatku bangkit kembali dan bersemangat. Dokter itu cerita memiliki seorang putri dengan IQ 89 dan dia berjuang untuk memberi kepercayaan diri anak tersebut. Anak gadis yang sekarang berteman denganku di dunia maya itu berhasil menuntaskan sarjana pendidikannya dan sekarang sering mendampingi ayahnya yang dokter spesialis tumbuh kembang anak (dokter pertama yang mendiagnosa Aam speech delayed), sebagai narasumber tentang mendidik anak berkebutuhan khusus. 

Setelah menangis selama sejam di ruang praktek dokter umum itu, aku keluar dengan beban yang meringan. Semangatku naik. Dan itu berpengaruh pada diri Aam. 

Memasuki usia ke 24 bulan, kata pertama yang Aam ucapkan adalah Ayah! dan dia mulai mengenali aku sebagai Bundanya. Dan usia 24 bulan itu menjadi momen terbukanya keran kemampuan Aam. Sejak itu, berbagai kejutan diberikannya kepadaku, ayahnya dan kakaknya. 

Mulai dari kemampuan komunikasi yang sangat payah, hingga akhirnya bisa menatap mataku lebih dari 10 detik. Dari tak paham dengan namanya, hingga sekarang bisa menulis nama dan mengeja namanya dengan baik. Begitu banyak kejutan-kejutan yang diberikan oleh Aam, apalagi dia mulai diberikan terapi bicara di usia 24 bulan tersebut. Akhirnya 1 tahun lebih ia terapi, begitu banyak perkembangan positif yang kurasakan. Meski, jika dibandingkan dengan anak seusianya, Aam masih terbilang terlambat. Tapi kami berdua menjadi tim yang solid. Aam mulai mengenaliku dan kami masuk ke fase tidak mau kehilangan. Fase dimana Aam tidak mau ditinggal dan tak mempercayai orang lain. Ini juga butuh stimulasi dan terapi. 


Usia kurang lebih 2 tahun, aam mulai bisa membentuk huruf dan angka
menggunakan media apa saja.
ini adalah kumpulan patahan crayon, yang dibentuknya menjadi huruf  "J" 

Tak apa... aku mulai yakin dengan bantuan komunitas, teman-teman di dunia maya yang bersedia membagi pengalaman mereka tentang anak-anak mereka yang didiagnosa autis, terlambat bicara dan beragam diagnosa lainnya. 

Akhirnya, Aam berhenti terapi, karena terlalu sering sakit. Aam ternyata memiliki alergi yang cukup berat terhadap udara lembab. 
Kemdudian, Aam kumasukkan Paud dekat rumah. Meski hanya 1 semester, aku mulai mengenali beberapa ciri khas lain dari Aam, yang membuatku yakin, Aam bukan autis. 

Ada lompatan kognitif yang dialami oleh Aam. 

Sebelumnya, aku baru ngeh, jika pada anak, secara ringkas ada tumbuh kembang yang seharusnya dialami anak secara runut, Yakni Sensorik - Bahasa - Motorik - Kognitif - Moral. (Tulisan detail tentang ini, dapat ditemukan di artikel blog tentang Tahap Perkembangan Anak Usia Dini.) Aku sendiri menemukan istilah atau urutan itu di komunitas orang tua peduli anak gifted. 

Nah istilah anak gifted ini muncul, akibat seorang teman di dunia maya mengenalkan group itu padaku. Ia melihat postinganku tentang kemampuan Aam yang melesat setelah usianya 30 bulan. 

Aam memang terobsesi dengan puzzle sederhana berupa hurup dan angka. Di usianya ke 18 bulan, ia sudah dengan mahir memasukkan huruf-huruf tersebut di tempatnya, dan di usianya yang ke 20, ia belum bisa bicara, tapi sudah hapal huruf dan angka dengan baik. 

Puncak kenyataan, bahwa Aam bukan autis, adalah ketika ia menemukan solusi pada sebuah masalah. Ia membuat kata POCOYO menggunakan puzzle hurufnya, namun karena huruf O, hanya ada 1 huruf, maka ia membuat O yang lain menggunakan clay/playdoh, lalu menyelipkannya pada kata P C YO, menjadi POCOYO. 


Ini adalah momentum bagiku memandang Aam
ia menyelesaikan masalah ini dengan keren banget!


Dari situ, banyak teman yang menyelami masalah anak berkebutuhan khusus memberiku semangat, dan menyatakan, bahwa Aam tidak autis. 

Aku mulai mempelajari perkembangan Aam, mempelajari informasi tentang anak gifted. *ada artikel menarik yang baru kutemukan saat mencari info tentang gifted child. Aku juga bergabung dengan komunitas terkait ortu yang peduli anak gifted, yang digawangi oleh mbak Julia. (berikut salah satu artikel tulisan ttg anak gifted berdasarkan penjelasan mbak Julia yang memiliki anak gifted).

Saat ini, di usianya masuk ke 3 tahun, Aam sudah meninggalkan ciri-ciri autis, seperti flapping, skimming, menjinjit, tertarik pada roda, terlambat berbicara, tidak respon pada panggilan dan ajakan bermain. 


Aam yang sekarang adalah Aam yang sudah mulai bisa berkomunikasi dua arah, meskipun belum maksimal, sudah bisa berkata dengan 2 kata, merespon panggilan dan ajakan bermain dengan semangat, tidak pernah skimming dan tidak tertarik pada roda lagi. Ia sudah mampu mengetahui cara bermain mobil-mobilan yang tepat, mengerti semua fungsi mainannya dengan baik. 


aam dan sebagian koleksi huruf dan angkanya

Saat ini, Aam sangat terobsesi dengan alpabet dan huruf (termasuk hijaiyah dan bahasa asing). Menguasai alpabet dalam penyebutan English dan Bahasa Indonesia. Mengenal banyak huruf dan mampu spelling dengan baik (tapi harus membaca). Sudah bisa membaca, tapi tergantung moodnya. Untuk kata dengan 3-4 huruf, ia sudah bisa membaca, jika ia ingin. Aam juga malas bermain dengan teman sebayanya, apalagi jika yang diajari itu adalah sesuatu yang ia sudah mampu, seperti mengenal warna dalam dua bahasa, mengenal banyak kosa kata, dan yang sekarang lagi dinikmatinya, menjalankan program youtube dan menonton alpabet dalam bahasa Inggris dan Rusia (untuk yang terakhir ini, kadang bisa kucegah, kadang tidak. terkadang ia menyanyikan lagu dalam bahasa Rusia yang terasa aneh buat telingaku). 

Untuk permainan atau penggunaan tab dan komputer, Aam hanya diajari sekali oleh kakaknya, sisanya ia menghidupkan sendiri dan memilih sendiri program-program  yang diminatinya. Beberapa minggu yang lalu, di bulan Januari, Aam mengejutkanku dengan menulis alpabet dan huruf di atas lantai dengan menggunakan spidol. 

Sumpah! aku tidak pernah mengajarinya menulis. 
huruf A,B,C pertama yang dibuat Aam sendiri
Lembar lain, lanjutan dari huruf sebelumnya. 



Lompatan kognitif inilah yang kemudian dicurigai sebagai kemampuan Aam yang dikategorikan gifted child. Aku tidak terlalu peduli lagi dengan labelisasi yang ada. Aku hanya berdoa dan berharap, Aam bisa mengikuti tumbuh kembang dengan baik. Mungkin saja secara IQ Aam diatas rata-rata (meskipun belum pernah dites), tapi secara emosi, Aam masih harus diajari tentang sopan santun, tentang pergaulan, dan banyak hal lain terkait sosial interaksi dengan sesama anak. Keberadaan Kak Billa (kakaknya) sungguh banyak membantu. Karena Kak Billa yang memiliki masalah dengan preposisi visual ini di usia 5 tahun, tapi memiliki kemampuan berbahasa yang sangat baik, justru membantu Aam dalam bersikap. 

Untuk itu, aku bersyukur sekali, melihat perhatian Kak Billa yang besar terhadap adiknya. Kecerdasan Emosi yang dimilik Kak Billa, bisa jadi di atas normal. Ia sangat peduli dengan adiknya, serta banyak memberikan kehangata dalam berkomunikasi dan bersikap. Aku sungguh terbantu. 
Aam menjelang 3 tahun . Terlihat intens memperhatikan sesuatu
ini Aam sedang melihat cara membuat lego di salah satu toko mainan

Di usianya yang ke 3 tahun, Aam tidak aware dengan hadiah ulang tahun. 
Tapi ia sangat menyukai playdog/clay dan segera membentuk benda-benda, huruf serta angka dengan bahan tersebut. 

Aku masih terus berusaha belajar mengenal perkembangan Aam yang penuh kejutan. Berdoa semoga Aam menjadi anak yang soleh, siapa tahu kemampuannya ini, akan menolongnya menjadi orang yang sosial tinggi, besar dan hebat demi agama dan keyakinannya atas hal-hal yang disukainya. Menjadi kebanggaan orang tua, keluarga, negara dan agamanya. 

Semoga doaku pada namanya, sebagai seorang pemimpian yang istimewa, menonjol dan paling cerdas, dikabulkan Allah SWT. Amin.

Happy belated Birthday My Boy
Bunda tuliskan postingan ini, 9 hari setelah ulang tahunmu. Suatu hari, semoga Aam baca tulisan ini, dan tahu, betapa Bunda bangga memiliki anak seperti Aam dan Kak Billa. I love you son... 



Thursday, March 19, 2015

(Traveling Mom) Ke Bandung Dalam Waktu 24 Jam - Bagian II

Cerita ini adalah bagian ke 2 dari kisah ke Bandung Dalam Waktu 24 jam, yang sebelumnya aku upload beberapa hari lalu.

Sekarang, aku lanjutkan ceritanya ya...


Pagi Hari, 07 Januari 2015

Berbeda dengan kebiasaan sebelumnya, kali ini aku bangunkan anak-anak lebih pagi. Hahaha.. Bukan apa-apa, selama ini jika nginep di hotel bagus itu biasanya ngikut fasilitas kantor Ayah anak-anak. Jadi kesan gratisan yang lengket di kepala, bikin males banget bangun pagi. Sering banget, aku dan anak-anak memilih sarapan sendiri di kamar, biasanya bawa roti atau mie gelas.... qiqiqiqi. Meskipun hotel berbintang sekalipun, kecuali kalau agak lama. Kalau hanya sehari, aku biasanya milih sarapan di kamar aja. Sementara anak-anak akan kubiarkan tidur sampe jam 9 pagi...

Nah, berhubung kali ini hotelnya bayar sendiri, duuuh rugi donk kalau aku dan anak-anak gak nyobain sarapan? hehehe

Meskipun harapanku tak terlalu tinggi dengan menu sarapannya, tapi ternyata, Allah baik hati memberikan kenyataan yang menyenangkan.
Menu Aam pagi ini Susu di kamar, dan lanjut buah. 

Sementara kak Billa memilih roti panggang dengan selai coklat dan kacang.
Bukan apa-apa, selama ini, aku kalau nginep di hotel berbintang dengan menu Eropa atau Asia lainnya (bukan Indonesia pokoke) suka ilang selera.  *Dasar emang lidahnya susah sih ya?

Nah, di hotel Sensa ini, pilihannya relatif banyak, dan yang aku demen, pilihan menu makanan tradisional termasuk jajanan pasarnya ada! Yeeey...! Aku paling demen kalau ada jajanan pasar... Terus anak-anak juga ada banyak pilihan, mulai dari buah, nasi goreng, roti, bubur ayam, lontong...ah sedap banget... mana rasanya juga pas di lidahku... Untuk sarapan, aku kasih jempol 4 deh... mirip dengan sarapan di hotel satu lagi... duh apa ya... yang pernah si Ayah anak-anak training dulu itu.. *entar ditanyain lagi deh ama Ayah anak-anak.. :)



Ini salah satu sisi ruang sarapannya, bersebelahan dengan kolam renang.

Setelah selesai makan pagi, maka anak-anakpun bersegera ganti baju untuk berenang. Tapi aku sih gak yakin dengan keinginan anak-anak ini, mengingat air kolam renang di Bandung selalu bikin menggigil. Hahaha

Lihat saja reaksi Aam setelah masuk ke kolam. Ia buru-buru keluar kolam dan bersujud tidak mau masuk ke kolam lagi...Dingin soalnya.. Kalau sudah gini, jadi kangen kolam renang yang ada air panasnya ya? :)

Aku juga sempat bawa makanan sarapan ke meja dekat berenang, jadi bisa makan tambahan lagi, sambil memperhatikan anak-anak dan suami berenang. Kak Yudi dan Rafif juga ikut datang. Rafif langsung menikmati kolam renang bersama Kak Billa. 

Ini bukan sujud sholat ya... Ini sujud minta ampun gak mau masuk kolam lagi. Dingiiin : ) 
Kolam renangnya sendiri terdiri dari dua kolam. Kolam anak-anak, itu seukuran perut Kak Billa. dan kolam dewasa, seukuran 1 meteran. '
Kak Billa di kolam renang anak-anak
Ayah anak-anak, selaku mantan pelaut, gak bisa lihat airlah... Pasti berenang juga. Aku sih pengen, tapi males ganti baju...hehehe.. Jadilah ngobrol sama Kak Yudi ngalor ngidul...:D 

ayahnya naak-anak beraksi 
Oh iya, yang keren dari kolam renang dewasanya adalah, lokasinya bisa memandang kota Bandung. Kebayang gak kalau malam hari, dengan lampu dari arah kota? Atau pagi hari, dengan cuaca cerah, melihat kota dan gunung? Cakep banget kan? 

Pemandangan kota Bandung dari kolam renang.
Sungguh cakep! NIlai plus deh buat hotelnya 
Ini tampak dari sisi lain. kolam dan ruang sarapan
Untuk itu, aku juga kasih jempol deh untuk pilihan lokasi kolam renang yang bersebelahan sama ruang sarapan dan pemandangan kota Bandung. cakep abis! 

Kakak kecapekan main air, aam kecapekan lari-lari di sepanjang teras kolam renang. 
Sekitar 1,5 jam main air dan berenang, kamipun bersiap-siap untuk kegiatan berikutnya. Oh iya, aku semalam sudah ngepacking semua barang yang mau dibawa kembali pulang. Jadi setelah berenang ini, kami langsung beres-beres. Kunjungan berikutnya adalah kebun binatang Bandung yang lokasinya tak sampai 10 menit dari hotel. Ini adalah salah satu sebab lain aku memilih hotel Sensa, karena targetku memang kebun binatang. Sensasi kebun binatang selalu berpengaruh bagus untuk anak-anak. 

Oh iya, beberapa catatan terkait Hotel Sensa dari sisi kritik membangun  serta yang perlu diwaspadai menurutku, antara lain :

1. Kamar mandinya gak pake kunci booo.. Jika bareng keluarga inti kayak kami sih tak masalah. Tapi kalau bareng adek ipar, bareng teman, bareng mertua, waaaah nggak banget... Gimana rasanya kalau lagi pup atau mandi, tau-tau nongol wajah lain di depan pintu...waaaah...:D

2. Bentuk pintu yang model sliding begitu, membuat Aam senang memainkannya. Dan ia mengalami kejepit jari satu kali...hihihi.. Jadi untuk para ibu-ibu yang bawa balita atau batita super aktif kayak Aam, ya kudu lebih hati-hati ya... 

3. Kami meminta sejadah ke housekeeping, tapi ternyata lama sekali datangnya. Berkali-kali kami menelpon ke Bell boy dan front desk, gak datang-datang juga sejadahnya. Akhirnya baru datang, setelah beberapa jam. Apa nyari dulu tuh sejadah ya? :) 

4. Posisi mejanya yang unik, membuat Aam yang super aktif mondar mandir dan menjadikannya permainan sliding sendiri. Ini jadi salah satu informasi untuk para ibu yang memiliki anak tak bisa diam. Harus selalu waspada dengan kondisi mejanya yang unik tersebut. 


Menjelang Siang hari, 07 Januari 2015

Alhamdulillah, siang ini, Kak Yudi dan Rafif juga masih bersedia jadi teman, guide serta supir pribadi...ehem-ehem... bu hajjah...:D untuk mengantar kami sekeluarga ke kebun binatang.

Harga tiketnya murah meriah, hanya Rp. 20 ribu per orang, dan Kalau tidak salah Aam gratis deh. Jadi kita hanya bayar untuk 5 orang saja.
tiket masuk kebun binatang Bandung 

Aam seperti biasa, memasuki wilayah baru, adalah upaya meningkatkan kewaspadaan baginya. Hehehe.. Ia kemudian memegang tanganku sepanjang masuk ke kawasan kebun binatang. Meskipun tidak terlalu rapi, tapi kebun binatang Bandung, relatif bersih. Pilihan bermain dan melihat binatang juga lumayan. Aku bandingkan dengan beberapa kota lain, seperti Palembang misalnya, kalau tidak salah, baru-baru saja punya kebun binatang mini di kawasan Punti Kayu :D

Narsis dulu sebelum jalan-jalan dalam kebun. 
Bagiku, kebun binatang memiliki makna ganda... Di satu sisi, aku terkadang miris menyaksikan kehidupan mereka di balik kandang... Sungguh kalau dipikir-pikir, mana ada sih yang mau dikerangkeng dan ditontonin orang-orang? Tapi di sisi lain, melihat mereka lebih dekat, memberi pengetahuan baru bagi anak-anak, termasuk kita orang tua juga. Entahlah... selalu saja rasa yang muncul itu gonta-ganti gitu. Terkadang sedih lihat kondisinya, meskipun aku yakin para penjaga kebun dan pengurus binatang itu maksimal kerjanya. Tapi di sisi lain, ini kesempatan untuk mengenalkan anak-anak jenis binatang yang biasa mereka lihat di buku atau di internet.

Kak Billa sendiri girang bukan kepalang, ketika berhasil memberi makan burung langsung dari tangannya. Mengalahkan rasa takut dan ragu, serta senang berhasil memberi makan hewan, adalah sensasi sehat bagi anak-anak.

Sessi yang selalu dikenang Kak Billa.
Berani memberi makan burung kakak tua
Peace Man! :) 
Kak Billa memang penyayang binatang, berapa kali ia menginginkan punya hewan peliharaan di rumah. Tapi aku gak suka. Tanggung jawabnya besar. Saat ini saja, ada dua ekor ikan hias di rumah, yang kasih makan juga aku dan ayahnya, toh si Kakak hanya lirik-lirik aja. :)

Aam sendiri terlihat tertarik, tapi menahan antusiasnya. Genggaman tangannya padaku atau ayahnya selalu menguat, setiap kali kami mendatangi sebuah kandang hewan tertentu. Melihat buaya di balik kaca, ular, harimau dan lainnya.

Melihat buaya "darat" hehehe 
Aam malah tertarik dan minta dibeliin pistol gelembung udara dengan tema Angry Bird. hahaha, oke deh kiddo! Kalau urusan Angry Bird, susah dilawan deeeh... Meskipun itu sejenis binatang, tapi Angry Bird yang ini kan mainan? ugh,... daripada tantrum, terpaksalah dibeli mainan seharga 50 ribu itu. Untungnya bermanfaat juga buat Aam. Karena ketika Ayah, Kak Billa dan Rafif naik unta, Aam tidak terlalu tantrum atau ingin menjauh, karena ia sibuk bermain gelembung udara bersama Kak Yudi...:)



Kak Yudi dan Aam Main gelembung udara
Nah, wahana naik unta ini ada di dalam kebun binatang. Kita harus beli tiket lagi, 15 ribu rupiah satu orang. Antri beberapa saat, kemudian mereka pun naik. Sebetulnya aku kaget juga, karena Kak Billa yang minta naik unta. Selama ini ia takut terhadap ketinggian, ternyata ia mau juga.
tiket wahana naik unta 

LIhat ekspresi khawatir kak Billa dan mulutnya yg sedang ngomel
Sementara ayahnya tersenyum lebar dan Rafif tertawa girang.. 

Meskipun kata ayahnya, si Kakak sepanjang naik unta ngomel melulu dan istigfar terus, karena terkaget-kaget sama gerakan tubuh unta. Aku geli sendiri membayangkan mulut cerewet si kakak ngomelin si unta...hihihi.. Dan ternyata ia pun tak ingin naik lagi. Selesai satu putaran naik unta, ia bergegas ingin segera turun.

Kak Billa terlihat tegang... hehehe
Oh iya... selesai naik unta itu, pengunjung yang beli tiket naik unta, dapat hadiah 3 cup kecil es krim. Wiiih, mantaplah ya.... hahaha. Kak Billa langsung hilang rasa betenya, dan menghabiskan 2 cup kecil es krim, membagi Aam sedikit. dan Ayahnya manyun gak dapat bagian...hehehe

Alhamdulillah, kegiatan ke kebun binatangnya berlangsung seru. Aam terlihat paling antusias ketika melihat binatang kesukaannya. Yakni Elephant alias Gajah!

Aam dan binatang kesukaannya... 
Dia terlihat tertawa dan tak tegang lagi. Lucunya, ini adalah hewan terakhir yang kami lihat. Karena setelah melihat gajah, kamipun kembali ke hotel untuk cek out. Udara juga sudah terasa menghangat.

Setelah cek out hotel, kami pun bersiap cari makan siang. Aku menyarankan rumah makan di depan stasiun Bandung. Supaya tidak khawatir kena  macet. Akhirnya pilihanpun ke rumah makan padang sederhana. Sayangnya, rumah makan itu harganya tidak sederhana karena tidak sebanding sama rasanya. Hiks... Baru kali ini aku makan tanpa ekspresi nikmat..hahaha.. Alias makan untuk kenyang aja. Aku sampe malas mengingat jenis makanan yang kumakan siang itu. Prinsipku, yang penting si kakak dan aam sudah makan dan perut kenyang. Jadi tidak khawatir masuk angin.

Makan yang penting kenyang.. Susah emang kalau lidah sumatera...
harus bertemu dengan selera sunda...hehehe
Selesai makan, kami sempatkan sholat zuhur dan jamak ashar di mushola rumah makan tersebut. Oh iya, barang-barang kami ada di bagasi mobil kak Yudi yang sudah parkir dengan manis di halaman stasiun kereta. Jadi rumah makan tersebut memang bisa dicapai dengan jalan kaki. Hanya beberapa puluh meter dari lokasi parkir.

Kami juga sempatkan mampir ke toko oleh-oleh di sebelah rumah makan. Membeli sedikit makanan khas Bandung untuk adik-adik yang tinggalnya satu kompleks dengan perumahan kami.

Tak lama, kami pun say good bye to Kak Yudi dan Rafif. Terima kasih yang sangat banyak untuk hospitalitynya ya Kak... semoga Allah menggantikan kebaikan Kakak dengan banyak pahala. Amin.




Siang Menjelang Sore, 07 Januari 2015

Sekitar  pukul 15.30 sore, kami pun masuk ke dalam kereta. Sebelumnya sempat mampir ke mini market. Kak Billa yang sudah beli sebuah buku untuk dipakainya menggambar, di Saung Udjo kemaren. Nah ia butuh sebuah spidol untuk menulis atau menggambar.

Kondisi Kereta... Sepi... 
Kak Billa, buku dan alat gambar..:) Selalu Dimanapun dan Kapanpun 
Begitu masuk ke dalam kereta, dan ternyata kondisinya juga mirip dengan keberangkatan kami kemarin, Kak Billa segera mengeluarkan buku dan menggambar. Yup! Kak Billa langsung menggambar kereta api dan juga kebun binatang. I love when she did that..:)

Tak lama setelah menggambar, ia pun menyaksikan dan menikmati perjalanan serta pemandangan alam dari jendela kereta. Antusias bibirnya masih terus berceloteh. Mungkin 24 jam itu cukup seru baginya, sehingga mulutnya terus berkicau membahas banyak hal.

Kak Billa selesai menggambar, menikmati pemandangan.
Ini ia menyaksikan kepala kereta (lokomotif) berada di sisi lain dari arah jembatan

Tak lama kemudian, keduanya mulai tenang. Ini bertanda mereka akan merasa ngantuk. Setelah makan roti dan minum susu. Juga makan cemilan yang diberi oleh Kak Yudi, *ibu satu ini super banget... sudahlah jadi guide dan supir pribadi kita, eeeeh, sempat-sempatnya tadi malam bikin kue bolu untuk tambahan bekal kami di jalan. Sungguh luar biasa... Mana masakannya selalu enak lagi..:)

Sekali lagi makasih ya kak... sayang aku lupa motoin kue bolunya nih..:(

Selama perjalanan kali ini, aku tidak tidur. Ayah anak-anak malah memilih tidur. Ia akan bekerja kembali hari Rabu besok. :) Jadi harus menyiapkan mental lagi menghadapi hiruk pikuk kemacetan dan segala macam tanggung jawab kerjaannya. Aku memilih bermain games dan juga membaca. Sayang aku tak terlalu bisa membaca dan lihat gadget dalam kondisi kendaraan bergerak. Akhirnya aku memilih untuk memperhatikan pemandangan di luar yang sudah gelap.

Alhamdulilah, sekitar pukul 19.30 malam, kereta kami pun tiba di stasiun Gambir. Kami kemudian menyiasati kondisi. Karena kak Billa dan Aam tertidur lelap. Aku memilih menggendong Aam, mengenakan tas punggungku dan memegang sejumlah makanan oleh-oleh. Ayah Billa menggendong Kak Billa dan memakai tas punggungnya, dan 2 koper (ukuran sedang dan kecil) yang bisa ditarik bersamaan.

Tak lama kami sudah berada di dalam taksi menuju Pamulang. Kondisi lalu lintas cukup padat. Akhirnya pukul 21.30 kami tiba di rumah. Aku pribadi luar biasa capek rasanya, Tapi sepadan dengan pengalaman seru untuk Kak Billa dan Aam.

Apalagi keesokan harinya, Aku mendapati Aam melakukan sesuatu pada puzzle koleksinya.

Dan inilah cara Aam "menceritakan" pengalamannya kemarin. 
Subhanallah, ia merekam pristiwa kemarin. Ia membuat puzzelnya yang berbentuk kereta api, mengeluarkan asap berupa huruf-huruf kesukaannya... sementara gerbongnya ia buat dari puzzle mobil yang dilepas. Duh, yang begini ini  yang tak akan terulang dan mahal rasanya untuk dikenang.

Terima kasih ya Allah.. atas kesempatan dan rejeki dariMu...


***

Pengeluaran di hari ke 2 adalah

Tiket Masuk Kebun Binatang Bandung untuk 3 dewasa dan 2 anak plus 1 batita Rp 100.000
Wahana Naik Unta untuk 3 orang Rp. 45.000
Makan Siang di RM Padang Rp. 280.000
Oleh-oleh Rp. 200.000
Mainan Angry Bird Aam (ditinggal di mobil Kak Yudi) dan spidol Kak Billa Rp. 60.000
Tiket pulang 4 x Rp. 110. 000 (Total Rp. 440.000).
Taksi sampe rumah Rp. 180.000

Total pengeluaran di hari 2 (untuk akomodasi, entertainment, transportasi dan konsumsi) adalah
Rp. 1. 305.000

Jadi, kalau kutotal, pengeluaran Ayah anak-anak selama 24 jam di Bandung adalah
Rp. 2.350.000 + Rp. 1. 305.000 = Rp. 3.655.000.

Hehehe, meleset lebih 1,6  juta dari perkiraanku. Tapi kulihat Ayahnya enjoy juga. Dan pengalaman buat Kak Billa dan Aam ini in sha Allah akan menjadi kenangan tersendiri buat Kak Billa. Apalagi besoknya sekolah, tema pelajarannya adalah pengalamanku dan liburan. Waaah cocok banget kan, Kak?

Sekarang, aku terpikir untuk mulai mengajukan proposal liburan naik kereta ke Jawa Tengah nih... :)

Semoga bisa....




Catatan :

Postingan ini, terutama terkait KA, Hotel dan Tempat Makan, MURNI kutulis atas kemauanku sendiri. Tidak atas permintaan dari pihak manapun.