Showing posts with label lomba menulis. Show all posts
Showing posts with label lomba menulis. Show all posts

Sunday, August 05, 2012

[Xenophobia] Am I A Xenophobia Maker?

 ***

“An abnormal fear or hatred of foreigners and strange things.”
Mata perempuan itu menatap lekat tulisan pada layar.  Hening sebentar. Ia sepertinya mencoba menelaah kata-kata tersebut.
Perlahan terdengar hembusan nafasnya. Kembali senyap.
Tak lama, tangannya kembali memegang tetikus.
“Klik!”
“A person unduly fearful or contemptuous of that which is foreign, especially of strangers or foreign peoples.”
Keningnya berkerut sedikit. Keminiman ilmu yang dimilikinya, mengharuskan otaknya bekerja lebih keras dari biasa, guna mengunyah mentah-mentah kata-kata asing tersebut. Kali ini bukan resep atau cerita anak yang dijadikannya kata kunci di mesin pencari, namun kata asing yang semakin hari, semakin membuatnya bertanya-tanya, apa definisinya ya?
Tangannya kembali menscroll tulisan yang ada di layar komputernya. Sekali-sekali kegiatan terhenti, karena harus membuka kamus terjemahan Inggris –Indonesia.
“Ugh, inilah akibat kursus bahasa Inggris hanya untuk dapetin sertifikat doank.” Gerutunya dalam hati, sementara tangannya sibuk membolak balik lembar kertas kamus, setebal bantal boneka anaknya.
“Ah coba di laman lain, ah….” Pikirnya makin ingin tahu.
“Hatred or fear of foreigners or strangers or of their politics or culture”
“Hemmm, politik dan budaya dari orang asing pun masuk dalam indikatornya ya?” bisiknya perlahan. Tangan kirinya bergerak perlahan mencari gelas teh hangat, yang sudah disiapkannya sebelum melakukan pencarian data pagi itu.
Suara menyeruput air teh, sedikit memecahkan keheningan subuh. Aliran teh hangat menelusuri kerongkongannya. Nyaman, namun pikirannya tidak.
Mulut perempuan berusia jelang 40 tahun itu kembali berkomat-kamit, membaca sebait kalimat.
Xenophobia is defined as “an unreasonalble fear or hatred of foreigners or strangers of of that which is foreign or strange. It comes from the Greek words (xenos) meaning “stranger”, “foreigner”, and (phobos), meaning “fear”.
Jemarinya melakuan kebiasaan lama, yakni mengelus-elus dagunya. Sesekali kepalanya terlihat sedikit miring. Bertanda ia sedang berpikir keras.
“Wah, dari bahasa Yunani, toh, kata Xeno berasal?” pikirnya. Sesaat kemudian ujung bibirnya sedikit naik, ada sedikit senyum meruncing di sana.
“Kog ya, aku jadi inget sodara jauhku yang bernama Seno, sih? Penyebutannya aja mirip, artinya pasti gak sama, ah….” Gigi geliginya muncul sekilas menyertai senyum, yang sayangnya lebih mirip seringai. Entah kenapa, di saat serius begini, malah muncul konsep sontoloyo menyamakan kata Xeno dengan Seno. Kepalanya menggeleng sebentar. Berusaha mengusir kekonyolan yang baru saja menggodanya.
“Klik!” Tetikusnya kembali bekerja.
Kali ini Oxford English Dictionary secara online dibukanya. Muncul kalimat, xenophobia include : deep-rooted, irrational hatred towards foreigners, unreasonable fear or hatred of the unfamiliar, especiallya people of other races.
Meski tak letih, namun perempuan itu meletakkan punggungnya pada kursi komputer. Lagaknya, ia mulai mencoba membentuk pattern atau cetakan pola pikir dalam otaknya, yang kalau tak rajin digunakan, dijamin akan sama dengan kondisi museum tua di kawasan Kota.
“Apa aku seperti itu ya?” Tanyanya pada diri sendiri. Senyap. Tak ada jawaban. Lalu, ia berdiri, perlahan berjalan menjauhi komputer di ruang kerjanya. Berjingkat sebentar. Entah, alasannya tak jelas, mengapa harus berjingkat di rumah sendiri?. Perlahan, dibukanya pintu kamarnya. Lampu temaran di kamar, tak membuatnya sulit untuk memandangi satu persatu wajah anak-anaknya.
Aura tenang bayi laki-lakinya yang berusia 4 bulan membuatnya tersenyum bahagia sebentar. Matanya terbiasa dengan remang kamar dan mencari wajah anak perempuannya. Anak perempuannya yang beberapa minggu lagi, akan berusia 4 tahun, tampak pulas dengan gaya tidurnya yang rusuh.
Tiba-tiba, tanpa dapat ditahannya, kilasan-kilasan frame cerita sehari-harinya muncul bertubi-tubi.
“Udah, Billa di dalam aja. Gak usah ikut Bunda. Cuma sebentar, kog, Bunda beli tahunya. Si tukang tahunya ada di depan. Kakak gak usah ikut-ikutan, ntar diculik tukang tahu itu.”
Adegan sesaat itu terjadi di malam hari, karena tukang tahu itu selalu menjual tahunya malam hari. Meski tahu jualannya si Tukang Tahu itu enak, tapi hati perempuan itu sering tak nyaman setiap kali laki-laki dewasa, dengan baju seadanya, berkulit hitam terpanggang matahari dan bahkan mungkin ditambah sinar bulan, berdiri menunggunya membayar tahu belanjaan. Laki-laki itu selalu menyapa anak perempuan kecilnya dengan ramah, jika putrinya berkeras hati untuk tetap melihat si Tukang Tahu.
Kali lain,
“Eh, kakak di dalam aja. Udah…, gak usah ikut-ikutan belanja sayur. Bunda gak suka kakak baek-baek sama laki-laki asing kayak tukang sayur itu. Awas, ntar kakak diambilnya lho….! Mau jauh-jauhan sama Bunda?”
Kalimat itu sekali-sekali muncul dari mulut si perempuan, ketika putrinya bersikeras ikut serta menemaninya belanja pada tukang sayur, yang rutin melintasi jalan di depan rumah. Penampilan si Tukang Sayur yang mirip si Tukang Tahu, membuatnya khawatir, terutama, setiap kali laki-laki dewasa itu mencoba menyapa putrinya dengan ramah.
Di kesempatan berbeda,
“Hush, gak boleh bicara ama orang asing, termasuk tukang ojeg, ya!” perintahnya dengan suara berbisik pada putrinya. Ketika putrinya yang sangat ramah itu menyapa si Tukang Ojeg. Lagi-lagi, sikap perempuan itu mendokrin putrinya, agar tak beramah-ramah pada laki-laki dewasa dengan penampilan, yang juga mirip si Tukang Tahu dan si Tukang Sayur.
Deg!
Rasa-rasanya ada yang tak beres pada dirinya. Tiba-tiba, pagi itu, hati si Perempuan yang juga berkulit tak putih, terasa penuh sesal.
“Duh, apa yang sudah aku lakukan? Apa aku sekedar berprasangka buruk pada penampilan laki-laki dewasa yang lusuh? 
Atau aku termakan berita-berita tentang penculikan serta perkosaan terhadap anak kecil, yang dilakukan oleh orang-orang asing di sekitar rumah? 
Terlalu khawatirkah aku akan berita  yang ada di televisi dan media massa lain tentang kejahatan orang dewasa terhadap anak kecil?
Ataukah aku mulai ketakutan tanpa alasan pada orang-orang asing yang sebenarnya berprofesi baik itu?” Pikiran perempuan tersebut berkecamuk. Rasa bersalah mulai muncul.
Perlahan, tangannya menutup pintu kamar. Tiba-tiba seperti muncul udara dingin di sekitar tubuhnya. Ada gementar kecil perlahan menyusup. Ia mulai waspada terhadap dirinya sendiri. Ada yang tak beres pada konsep buatannya mengenai orang asing.
Tak lama, ia kembali duduk di kursi di depan komputer. Tangannya mengelus tetikus, menggenggam dan mengarahkannya pada beberapa laman yang masih terpampang di layar.
Sebaris paragraf penjelasan mengenai karakter orang yang xenophobia muncul. Ia mendekatkan wajahnya sedikit maju ke arah layar. Memastikan mata dengan kacamata plusnya membaca dengan baik. Otaknya -lagi-lagi- mencoba mencerna tulisan dalam bahasa Inggris. Sedikit keluh muncul dalam hatinya, setiap kali harus bekerja keras menerjemahkan kalimat-kalimat asing itu. Namun dikalahkannya keluhan tersebut, demi harapan mendapat masukan positif bagi kesalahan yang mungkin telah dilakukannya.
“A xenophobic person has to genuinely think or believe at some level that the target is in fact a foreigner. This arguably separates xenophobia from racism and ordinary prejudice in that someone of a different race does not necessarily have to be of a different nationality. In various contexts, the terms "xenophobia" and "racism" seem to be used interchangeably, though they can have wholly different meanings (xenophobia can be based on various aspects, racism being based solely on race, ethnicity and ancestry). Xenophobia can also be directed simply to anyone outside a culture, not necessarily one particular race or people.”
Matanya melekat pada kalimat rasis dan prasangka yang muncul berdampingan dengan kata xenophobia. Meski masih kesulitan menelaah semua kalimat tersebut. Hatinya agak tidak tenang. Sebuah tanda tanya besar muncul di kepalanya.
“Apakah aku telah menjadi seseorang yang membentuk karakter xenophobia pada putriku sendiri? Am I already, a xenophobia maker?

***
Pamulang. Terinspirasi pada kisah diri sendiri.
Isi tulisan terdiri atas 1137 kata.
Definisi dan informasi mengenai xenophobia dikutip dari : sini, sana, situ, sebelah sana dan sebelah sini
Diikutsertakan pada lomba menulis bertema xenophobia, milik Liliput Berjilbab. 
Ditulis dengan perasaan penuh kekhawatiran, apakah aku salah faham dengan kata xenophobia? Rasis? Prasangka jelek? Aaaah, apa pun itu. Akhirnya aku jadi belajar banyak setelah menulis ini. 

Sunday, July 15, 2012

[Lomba] Update Peserta & Hadiah Lomba Aku dan Kain Gendongan Batik

Dear my friends... 

Berikut peserta lombanya ya... : 

1. Faziazen dengan judul Gendongan Pembawa Seratus Ribu 

2. Mimie dengan judul Dengan Jaritku Gendong Kemana-mana

3. Azita dengan judul Better Late than Never

4. Om Jampang dengan judul Kami Tak Butuh Lagi Kain Gendongan 

5. Pingkan dengan judul Tak Gendong Aja

6. Maya dengan judul Lha Kog Kampanye?

7. Ummu Yusuf, dengan judul Pertama dan Terakhir Milik Yusuf

8. Ibu Seno dengan judul Setia Sampai Hancur 

9. Yustika, dengan judul Mencari Sebuah Gendongan 

10. Febi Fabiola, dengan judul Sebal Sebal Suka

11. Indah, dengan judul Jarit Batik Multifungsi 

12. Dhewie, dengan judul Tidak Kehilangan Peminatnya 


14. Al Fajr dengan judul Bocah Kecil Juga Kuat Nggendong Dong

15. Yaya, dengan judul Keren Dengan Kain Panjang

16. Vrisca dengan judul Multifungsi Yang Berkesan Kuno 

17. Larass, dengan judul Kenyamanan Itu Ada Di Pundak Kanan 

18. Ria, dengan judul Di ujung Selendang Jarit Biruku

19. Lanisa, dengan judul Warisan dan Hadiah Untuk Lintang 

20. Rana, dengan judul Tetap Semangat!

21. Anazkia, dengan judul  Kain Gendongan Penuh Kenangan 

22. Uni Intan, dengan judul Safety Belt Dengan Kain Panjang Ibu 

23. BuPeb, dengan judul Gak Sengaja 

24. Lugu Sekali (Neefia) , dengan cerita yang langsung ditulis di reply  ^_^V 


Terima Kasih buat semua yang sudah bersusah payah meluangkan sedikit waktu untuk meramaikan lomba ini. Pengumuman pemenang akan diumumkan dalam waktu yang akan kami tentukan ya... *Berhubung Mbak Tin lagi heboh ama kerjaannya dan saya dihebohkan oleh dua balita saya, maka kita berdua akan "sedikit" santai mengumumkan pemenangnya. Silahkan para peserta ikutan lomba lain lagi ya.. *lagi banyak tuh... kita berdua juga lagi rajin mantengin lomba juga soalnya.. xixixi

InsyaAllah... 

Hadiahnya : 

Buku-buku yang ada tulisanku atau  kutulis, diantaranya : 

serial lovely ramadhan dan lovely lebaran


sebuah buku scary moment #1

serta buku 

yang ini best seller lhooo :) 

terakhir buku fiksi berjudul : Yakuza Moon 




Belum lagi buku-buku dari mbak Tin... insyaAllah ntar diposting susulan...

Nanti pemenangnya ada dua kategori ya...

pemenang tulisan favorit 1,2 dan 3 serta pemenang foto favorit 1, 2 dan 3.... ^_^V 

Sekali lagi, terima kasih ya atas keikutsertaannya... Jika ada yang belum tercantum namanya di sini mohon diberitahu ya... 


Salam Lomba, 

Bunda B & A Plus Mbak Titin 

Wednesday, July 11, 2012

[Lomba Senyumku Untuk Berbagi] Ternyata,Tak Sulit Untuk Tersenyum



Kalimat "ternyata tak sulit untuk tersenyum" ini kutujukan pada suamiku, yang sejak awal berkenalan, lebih sering tersenyum kecil ataupun hanya menarikkan sedikit saja ujung garis bibirnya, jika diminta tersenyum. Kalau istilah anak sekarang "cool" gitu deh.

Berbeda jika ia ngobrol dan bercanda dengan teman-teman dari sekolahnya dulu. Maka tebaran gigi rapinya yang menawan selalu muncul bersama canda, gurau dan nostalgia bersama para teman. 

Di tahun 2012 ini, aku membujuknya dengan sedikit paksa untuk mau difoto dengan session family picture oleh adikku di sebuat taman di kawasan BSD. Meskipun sempat mengerutkan kening atas ide foto keluarga ini, suamiku akhirnya bersedia mengikuti mauku. Alasanku kala itu hanyalah ingin menyimpan memori sedang hamil besar anak kedua... hehehe

Ternyata oh ternyata, kesulitannya untuk unjuk gigi dan tertawa bersama dalam sebuah keluarga tak sesulit yang kuduga. Karena dengan hanya melihat gaya centil dan narsis ala Billa -putriku yang berusia jelang 4 tahun-, suamiku bersedia melebarkan bibir dan tawanya. Sungguh menyenangkan sekali melihat laki-laki yang kucinta ini menebar tawanya. 

Salah satunya ada  pada foto yang satu ini. 



Tulisan ini diikutsertakan dalam tebaran senyum di lomba kak list dan kawan-kawan




Foto diambil oleh Dhinang Iskandar
Lokasi : Taman BSD
Moment diambil  sekedar menangkap satu memori ketika hamil 30 mingguan (Sekitar awal tahun 2012)

Friday, June 29, 2012

[Berbagi Cerita Bersama BCA] Menyusun Rencana Pendidikan Anak Sedini Mungkin


     Laki-laki setengah baya itu menggenggam tangan perempuan di sampingnya. Emosinya tertahan, dadanya sesak oleh rasa haru. Airmata yang hanya menggumpal di pelupuk mata, menjadi bukti akan rasa bahagia yang meluap di hatinya. Pandangan berkabutnya mengarah ke atas panggung. Tampak, seorang laki-laki muda, dengan wajah mirip perempuan di sisinya, berjalan penuh kebanggaan. Sebuah gelar kesarjanaan bersanding manis, bersamaan dengan pengesahan wisuda si laki-laki muda. 


     Laki-laki setengah baya yang dipanggil Ayah oleh si laki-laki muda, menarik nafas penuh kelegaan. Keberhasilan anaknya menyelesaikan pendidikan merupakan buah yang manis, atas keberhasilannya menyusun perencanaan finansial di bidang pendidikan sedini mungkin. Sebuah rencana hidup yang tercapai, berkat kemampuan menata dan melaksanakan rencana tersebut dengan baik.

 *** 

     Cerita satu babak di atas bukanlah sekedar mimpi atau fiksi belaka. Ini dapat terjadi pada kita dan setiap orang, bila berhasil membuat perencanaan yang tepat dan melaksanakannya sedini mungkin.

     Sebagai salah satu orang tua yang turut prihatin, akan makin meningkatnya biaya pendidikan di Indonesia, maka saya pun berangan dan bermimpi kelak akan memiliki sebuah kebebasan finansial untuk pendidikan anak-anak saya. 

     Saya ingin memiliki sebuah rencana hidup yang dapat terpenuhi. Salah satunya adalah memiliki tabungan pendidikan bagi kedua anak saya. Sehingga kelak, kedua anak saya nantinya, dapat mengecap jenjang pendidikan yang tinggi, dan saya dengan mudah berhasil mewujudkannya. Sehingga perasaan bangga dan bahagia, seperti yang dirasakan pada tokoh Ayah dan Ibu pada fiksi yang saya tulis di atas, dapat pula saya rasakan. 
     
     Untuk itu, dibutuhkan sebuah solusi perbankan yang mampu memberi jawaban atas keinginan dan rencana hidup kita tersebut. 

     Tokoh Ayah yang bangga sekaligus lega atas selesainya si anak dalam melaksanakan pendidikan, tidak mungkin terjadi jika saja ia tak memiliki rencana masa depan yang mantap. Bisa jadi, tokoh Ayah tersebut, telah membuka tabungan pendidikan ataupun produk perbankan di sebuah bank yang memberikan kemudahan transaksi serta layanan perbankan yang prima.

     Jika memang demikian adanya, maka bukan sebuah kisah fiksi lagi, karena di dunia nyata, ada bank yang mampu memenuhi itu semua. Salah satu bank yang saya tahu memiliki itu semua adalah BCA. Hampir dapat dipastikan, BCA memiliki banyak produk yang mengarahkan para konsumennya pada kebebasan finansial di masa depan. Setiap rencana hidup yang ingin dicapai, dapat terwujud dengan bantuan BCA, sebagai bank yang memiliki fasilitas terbaik.

     Kita semua tahu, setiap tahun, biaya pendidikan selalu naik dan mengalami peningkatan angka yang sangat significant. Oleh karenanya, dibutuhkan ketepatan dalam memilih produk dan kecepatan menentukan waktu untuk menabung. Makin cepat kita menabung, maka makin mudah bagi kita mengatur keuangan bagi masa depan keluarga. 

     Salah satu upaya yang mendukung rencana hidup terkait masalah pendidikan adalah dengan membuka deposito. Mari, kita ambil contoh produk milik BCA. Di BCA akan ditemukan adanya produk deposito BCA. Produk ini memiliki banyak keunggulan. Antara lain, kita dapat memilih sendiri jangka waktu deposito. Kemudian dapat memilih dalam 9 mata uang. Kita tidak akan menemukan kesulitan dalam melakukan transfer bunga ke rekening BCA atau bank lain. Satu lagi, adanya Automatic Roll Over (ARO) atau sebuah sistem yang melakukan perpanjangan deposito secara otomatis untuk jangka waktu yang sama tanpa pemberitahuan atau penegasan lebih lanjut dari deposan.

     Syarat untuk membuka rekening depositonya pun tak sulit. Cukup dengan melengkapi dan menandatangani formulir permohonan, lalu membawa serta menyerahkan foto kopi identitas diri yang masih berlaku, kemudian memenuhi setoran awal minimum, maka kita sudah dapat memiliki rekening deposito. Sebuah tabungan yang melancarkan rencana finansial pendidikan bagi anak kita. BCA sendiri memberikan beberapa pilihan investasi yang dapat kita pilih.

     Apabila ingin menabung untuk jangka waktu lebih dari 3 tahun, maka kita dapat memilih layanan investasi berorientasi jangka panjang, namun tetap praktis dan fleksible. Pilihannya berupa Edusave yang merupakan produk jaminan biaya pendidikan anak, serta Provisa Max yakni sebuah investasi terencana dengan perlindungan maksimal serta keuntungan optimal. 

     Dengan mempelajari produk terkait pendidikan yang dimiliki sebuah bank, dapat dipastikan, memudahkan kita untuk memenuhi rencana hidup yang ingin kita capai. 

     Jadi, jangan tunda lagi. Susunlah rencana pendidikan bagi anak sedini mungkin. Pilih produk bank yang mendukung kondisi finansial kita serta lakukan sekarang juga. 

     Jika masih bingung, mencari fasilisator yang membantu tercapainya rencana hidup terkait masalah pendidikan bagi anak, maka jangan segan untuk mengklik www.bca.co.id. Karena website ini memiliki banyak informasi yang membantu mewujudkan kebebasan finansial pendidikan bagi sang buah hati kita.

Tuesday, June 12, 2012

LOMBA AKU DAN KAIN GENDONGAN


Hai-hai, kali ini aku mau bikin lomba bareng Mbak Tin nih… Idenya sih dari celetukan mbak tin di replynya di SINI.
Terus, kepikiran juga, kalau berdua mbak Tin, kayaknya gak terlalu berat deh jadi juri sebuah lomba…
Sooo, berhubung sebentar lagi, yakni tanggal 20 Juni,  ulang tahun pernikahanku ke 13, jadi ambil moment ini deh buat lomba kali ini. *maksa banget gak sih momentnya? hehehe
Sesuai dengan tema lomba : Aku dan Kain Gendongan, maka lomba ini mengajukan beberapa syarat sebagai berikut :
1.    Pesertanya kudu warga Multiply sejati, alias punya akun MP minimal 4 bulan dan rajin update isi MP nya. Jadi gak boleh nyaru yaaa J
2.    Posting tulisan di Blog, bukan di bagian Foto ya…J dan jumlah kata gak lebih dari 1000 kata, jadi jangan lupa ditulis jumlah kata dibawah tulisannya yaaa (di luar judul ya) , biar juri gak pusing bacanya…., hehehe
3.    Peserta gak harus jadi kontak Cambai ataupun Tintin ya… jadi postingan kudu dipost for everyone, jadi  juri bisa lihat tanpa kudu permisi dulu..:) dan gak mesti ngeadd kita ya jadi kontaknya. Toh kalau menang, ntar kita hubungi juga kog via PM…hehehe. Terus terang ini mencegah tambahan kontak yang silaturahimnya gak berlanjut pasca lomba nih. :P
4.   Wajib posting foto bareng kain gendongannya ya, dan ini boleh jurnal lama yang diperbaharui dengan kata-kata atau kalimat yang lebih menarik dan informatif. Atau cerita masa lalu, dengan foto terbaru juga boleh. kan, poin penilaian ada pada kreatifitas penyajian foto dan cerita, terutama nilai dan isi cerita sendiri kudu menarik dan informatif yaaaa!
5.    Ceritanya harus berkaitan dengan kain gendongan, masalah yang digendong apaan yaaaa terserah… syukur-syukur gendong anak sendiri atau ponakan. Gak boleh gendong suami orang, :P  Tentang gak bisa pake gendongan jg boleh, asal tetap mencantumkan foto berikut kain gendongan. J Pokoke Kain Gendongan [BATIK] Jadi Pemeran Utama ! hehehe
6.    Postingan peserta kudu menyertakan keterangan gambar, keterangan lomba (alias menuliskan link lomba ini) serta menyetorkan link postingan ke postingan lomba ini. Ups, jangan lupa, bikin tagnya ya [Aku dan Kain Gendongan] Got it?
7.    Lomba ini dibuka mulai tanggal 13 Juni 2012 hingga tanggal 13 Juli 2012. (Sebulan cukup lama kan ya?). Pengumumannya akan diberitahukan di postingan lainnya.
8.    Nah, hadiahnya buku-buku (buku yang ada tulisanku, juga buku-buku lainnya, mbak Tin sendiri sudah bilang nyumbang tiga buku), mungkin akan ada hadiah kain gendongan plus yang lainnya menyusul ya.. (siapa tau, aku dapat voucer juga nih, buat dibagi2, amiiin)  *ntar diedit lagi deeeh J
9.    Kriteria pemenangnya berdasarkan tulisan dan kreatifitas foto. Aku dan Mbak Tin akan kabari lagi lebih lanjut ya, berapa banyak yang jadi pemenang. Makin banyak peserta dan hadiahnya, insyaAllah akan banyak pemenangnya kan ya? Amiiin
10. Soo.. have fun ya … Kita promosi kain gendongan BATIK yuuuk ! itung-itung menjaga hak kekayaan intelektual milik bangsa kita, sebelum diakui oleh negara lain.. hehehe
Tertanda,

Dian Onasis  dan Titin Syam


Sunday, June 03, 2012

[FF Ninelights] Tak Rela


Dahi laki-laki itu berkerut. Matanya terpejam. Berhari-hari, ia coba menahan diri. Namun, kali ini ia tak tahan lagi. Perasaan tertekan atas sikap tetangga kostnya selama ini, telah sampai batas akhir.
Papan tipis yang membatasi antar kamar kost, sudah pasti tak sanggup menahan semua suara.  
Perlahan, ia melangkah ke arah kost sebelah. Tangan kirinya memegang pipi, sementara yang kanan menggenggam obeng.
Teriknya matahari memanggang atap seng. Panas cuaca makin menambah keruh hatinya. Nafasnya memburu. Detak jantungnya ikut membuat suasana menjadi tegang. Genggamannya makin kuat memeluk obeng.
“Benda ini pasti bisa membunuh pemicu deritaku selama ini.” ikrarnya dalam hati.  
“Ah…, pintu kostnya terbuka.” Senyum keji terukir di bibirnya.
Ketika tapak kakinya mendekati pintu tetangga, alunan lagu dangdut itu makin membahana.
“Dari pada sakit hati, lebih baik sakit, gigi iiiini…, biar tak mengapaaaaa. Rela, rela. Rela aaakuuuuu relakan. Rela… Rela,… Rela aaaakuuu….”
Kepala dan giginya makin berdenyut. Bersamaan dengan dendam yang memuncak, diangkatnya obeng, lalu diarahkan dan ditusuknya tepat pada sasaran.
 “BRAK, BRUK…, KRAAAK!!! “
“AAAAAAAARRRGGGHHH !!!”
Jeritan pemilik kamar menggantikan lagu dangdut yang mendadak senyap.
“Apa yang sudah kamu lakukan?!!” Pemilik kamar terlonjak dari kursi. Wajahnya pucat tak berdarah.
 “Aku tak rela  harus tersiksa oleh lagu yang kau putar setiap hari itu! Aku tak terima kalau penyanyi itu bilang, sakit gigi lebih baik dari pada sakit hati! Tau!” Balas laki-laki pemegang obeng dengan mata mengilat.
CD dangdut berjudul Sakit Gigi, hancur berkeping-keping. Obengnya bekerja dengan baik. Meski giginya masih berdenyut, namun ia puas. Dendamnya terbalas sudah.

***
Jumlah Kata : 244 (diluar judul)
FF ini diikutsertakan dalam lomba milik Ninelights
Gambar pinjem dari sini.

Sunday, April 01, 2012

TIKET KEPERGIAN


Oleh : Dian Onasis

“Dian…. Ada telepon dari Papa.” Suamiku menyerahkan handphonenya ke aku, seraya ia kembali menuju meja komputernya.

“Halo, Bos. Apa kabar? Tumben nelpon ke hape Bang Asis?” tanyaku setelah handphone suami ada di tanganku.

“Eh, kog malah Dian yang terima? Papa mau ngobrol ama Asis,” jawab Papa.

Aku manyun. Ternyata Papa mau ngobrol dengan suamiku, ketimbang diriku. Namun rasa kecewaku tak berlangsung lama, karena beberapa menit kemudian suami mendekatiku, “Nih, Papa mau ngobrol juga ama Dian, kog,” kata suamiku, tak lama setelah ia selesai bicara dengan Papa. Wajahnya tergores senyum menggoda.

Aku segera mengambil handphone tersebut dan berbicara dengan Papa.

Hari itu, tanggal 1 Maret 2012, jam 11 malam.

“Eh iya, Papa udah ngepacking buku Kho Ping Hoo satu koper lho, Ian,” kata Papa dari seberang sana. Papa tinggal di Palembang. Sementara aku tinggal di Pamulang, Tangerang Selatan.

“Lho, untuk apa Pap? Banyak banget? Yang kemaren Papa kirim aja belum Dian mulai baca,” jawabku protes.

Sambil tertawa khas Papa, beliau berkata “Ya, buat warisan ke Dian.” Lalu tawanya menggema di handphone. Aku bisa membayangkan wajah ganteng dan gigi rapi Papa yang selalu menarik perhatian, setiap kali Papa tertawa. Bahkan di usia senjanya, tawanya selalu menarik. Papa terdengar sehat, meski beberapa waktu lalu, Papa sempat anfal, karena dapat serangan jantung kecil. Namun beliau berhasil meyakinkanku dan keluarga, bahwa dia baik-baik saja.

Obrolan berlangsung beberapa menit. Papa cerita kalau tiket keberangkatannya bersama Mama dan adik bungsuku telah di tangan.

“InsyaAllah, besok jam 4 sore, kami terbang. Jadi ba’da zuhur, kami akan berangkat dari rumah,” kata Papa sebelum percakapan kami berakhir.

Papa dan Mama memang kuminta datang ke Pamulang, karena sebentar lagi aku akan melahirkan anak ke duaku. Aku ingin orang tuaku hadir dan menemani hari-hari menjelang kelahiran dan menikmati hari-hari pertama menimang cucu ke dua mereka. Papa dan Mama cukup lama menanti mempunyai cucu. Setelah sembilan tahun menikah, aku baru diberi momongan oleh Allah. Kemudian, 4 tahun berjarak, Allah memberiku kepercayaan lagi, untuk menimang seorang anak. Cucu ke dua bagi Papa dan Mama.
***

Sore menjelang, kulingkari tanggal 2 Maret 2012 di kalender kamarku. Mataku bengkak. Tangisku telah habis terkuras selama siang tadi.

Siang penuh duka. Ketika aku tertidur, dan dibangunkan oleh tante dan suamiku dengan wajah penuh duka. Saat itu aku tahu, ada yang telah pergi meninggalkan kami. Suamiku tak pernah menangis hingga bengkak matanya seperti itu.

Aku protes…! Aku memberontak dan aku tak perduli dengan kontraksi palsu bayi dalam kandunganku, ketika aku menendang-nendang kakiku, tak percaya dengan berita, kalau Papa telah pergi meninggalkanku untuk selama-lamanya.

“Tidaaaak! Papa sudah pegang tiket untuk bertemu aku hari ini….!” Protesku keras diantara isak tangisku.

“Aku sudah janji bertemu Papa hari ini!” Aku menendang dan memberontak dari pegangan suamiku. Tak perduli dengan kehamilan tua yang aku kandung.

“Tikeeet! Belikan aku tiket…! Aku harus ketemu Papa hari ini juga!” Makin kencang tendangan dan teriakanku, hingga akhirnya aku tersedu-sedu dalam keperihan hati.

“Istigfar Sayang, istigfar Bunda, ingat dedek dalam perut…,” bujuk suamiku berusaha keras untuk memeluk tubuhku.

Aku terus berteriak histeris selama beberapa menit, hingga tersadar akan adanya bayi dalam kandungan yang mengeras berkontraksi palsu. Aku beristigfar di sela-sela tangisan.

Flash back kejadian beberapa waktu sebelumnya, obrolanku dengan Papa. Candaku dengan Papa. Kenangan bersama Papa sejak kukecil muncul berlapis-lapis.

Papa yang selalu ada dan bersedia mengantarkan ke mana pun aku pergi. Menemani di saat aku ketakutan ikut lomba murid teladan tingkat Sekolah Dasar. Hingga menjadi partner setia, mengantarku ke kantor-kantor instansi ketika aku harus riset dan menyelesaikan thesisku bertahun lalu.

Papa yang dulu, selalu dan sering bertugas ke luar kota, namun selalu setia dan meluangkan waktunya meski sedikit sekalipun, ketika ada di rumah, untuk aku dan adik-adikku.

Papa yang ketika pensiun, menghabiskan waktunya untuk selalu menyenangkan hati kami semua.

Tawanya yang khas, candanya yang unik serta kharisma keren yang selalu memancar dari wajahnya, selalu menjadi sesuatu yang istimewa dari dirinya.

Aku tercenung.

Kepergiannya sangat tiba-tiba. Pamitnya yang tak merepotkan keluarga, baik fisik, mental maupun materi. Rasa kehilangan yang dimunculkannya, di kala Papa sangat dicintai keluarga. Serta senyum bahagia tergores tipis di bibir bekunya, tak ada tanda kesakitan pada tubuhnya ketika nyawa pergi meninggalkan raga.

Tiket penerbangannya yang dipegangnya bertanggal 2 Maret 2012 jam 16.00 sore itu, ternyata tiket kepergian untuk selamanya.

Sebuah tiket yang membawanya pergi, tanpa dapat kembali lagi kepada keluarganya.



Tiket Kepergian sebagai sebuah tanda, sebuah cerita.
***

Selamat jalan Papa. Aku bersama putriku Billa dan cucu yang tak sempat kau jumpai M. Ammar Al Mumtaz Onasis, akan dengan setia mendoakanmu di sini.
Pamulang, 1 April 2012.

Friday, September 30, 2011

[Babe] A day with my Dad...

Ini sebenarnya cerita lama... Mungkin Papa sendiri kalau ditanyain udah lupa ama kejadian ini..

Waktu itu aku masih SMP dan lagi butuh kardus untuk keperluan tugas sekolah. Dirumah saat itu cuma ada Papa aja, kalau gak salah, Mama lagi pergi dengan Yuk Sum tetangga belakang rumah.
Akupun mencari Papa dan bilang "Pa.. kita punya simpanan kardus bekas gak ya ?"
"Kayaknya ada di atas "dak" garasi deh, Nak.." jawab Papa..
"Wah gimana mau ngambilnya Boss ???" aku tanya balik..
"Ya pake tangga la, Say.. Dian naik ke atas sana.. masa gak berani sih ?" jawab Papa setengah menantang...

[Aduuuuh si bokap.. terkadang lupa deh kalau aku anak perempuan.. tapi emang sering sih Papa suka nyuruh aku ngerjain pekerjaan yang berbau-bau cowok gitu.. ]

"Wah Pa.. Dian keder nih kalau manjat..." keluhku.
"Coba dulu ah.." tangkis Papa sambil menarok tangga ke dekat "dak" garasi.

[ih.. kalau ada Mama waktu itu, pasti Papa diomelin karena nyuruh aku manjat-manjat gitu..heheheeh]..

Akhirnya kucoba juga, dan memanjat tangga tersebut hingga berhasil sampe ke atas "dak" garasi dan dari atas menjatuhkan sebuah kardus kebawah. Tidak lama, aku pun berniat mau turun dan mulai menarok salah satu kakiku ke anak tangga  kayu tersebut. Tapi kemudian aku terdiam seperti "freeze" alias terdiam,  aku merasa kaku dan ketakutan...
Tubuhku gemetaran dan gak tau harus gimana lagi supaya bisa turun...
Bahhh !!! Ternyata aku takut untuk turun.....

Rasanya pengen lompat aja langsung...tapi jaraknya cukup tinggi.. bisa-bisa patah kaki kalau nekad....

Akhirnya dengan setengah merengek menahan tangis, kupanggil Papa untuk mengawasi dan ngajarin cara turun tangga....

Hehehe...
Bukannya langsung nolong... Papa malah terkekeh-kekeh ngelihat diriku yang ketakutan untuk turun.
Setelah puas ngetawain, baru deh Papa ngajarin proses turun pake tangganya....

Aduuuuh...
Sumpah.. lemes banget dengkul dan kakiku.
Aku bener-bener ketakutan.
Rasanya lega banget begitu kaki ini menginjak lantai...

Papa sambil tersenyum terus bilang... "Baru kali ini Papa lihat orang berani naik tapi takut turun..."..

Buset deh !!!!
Hehehehe

Tau gak.. ampe hari ini aku paling takut kalau harus manjat untuk ngecek sesuatu atau apapun yang menggunakan tangga kayu atau tangga khusus manjat.. karena udah dipastikan aku akan ketakutan sewaktu turunnya....
aneh ya..

kog bisa takut turun tangga... hihihii......***Cerita di atas hanyalah satu dari sekian banyak cerita lainku yang berurusan dengan Papa yang paling berkesan selalu ada unsur Macho nya. Mulai dari mengajakku potong rambut di tempat beliau biasa potong rambut. Bayangkan, ketika aku mengalami fase kutuan, maka Papa dengan santainya mengajakku ke tempat Papa cukur rambut, dan rambutku dipotong ala laki-laki, dan dibersihkan kutunya.Belum lagi, Papa suka beri kejutan, seperti menjemputku di sekolah [waktu itu aku masih SMP] dengan mobil trailer ataupun mobil kantor super besar, yang kalau naiknya aku harus memanjat pintu mobil. Aku bangga sekali. Tak ada satupun anak di sekolahku yang dijemputnya dengan mobil raksasa tersebut.

Meski dulu Papa lebih banyak diluar kota ketimbang bersama kami di rumah, tapi untuk urusan sekolah dan pergi ke dokter, Papa selalu mengusahakan untuk hadir. Aku pikir, sehari bersama Papa selalu seru. Ada saja kegiatan macho yang kami lakukan. 

Hari ini, jika kupandang wajahnya yang telah berusia 70 tahun, aku selalu mengenang masa-masa "macho" ku bersama beliau. Belajar naik sepeda, belajar nyetir mobil, belajar berani disuntik dokter, hingga belajar berani pergi Kuliah Kerja Nyata berbekal pisau lipat dari Papa. I just love that moment. 

***

diikutkan dalam lombanya mbak Tintin disini {mudah2an berkenan dengan repost dan editan baru ini] 

gbr diculik dari sini :
http://www.savingadvice.com/images/blog/father-daughter.jpg

Thursday, September 29, 2011

[Batam FF – Perjuangan] Antara Belalang, Lebah dan Aku.


“Ugh!....”  Kualihkan mata ke arah lain.
“Lumayan kejam,” desisku.
Sambil menggenggam dedaunan kering, aku menyaksikan sebuah perkawinan terkejam yang pernah kulihat. Kepala Belalang Sembah jantan itu terguling, setelah ditebas kaki tajam Belalang Sembah betina, paska perkawinan mereka.  Aku setengah takjub akan kejadian tersebut.
“Perjuangan cinta yang mengagumkan,”  bisikku perlahan pada angin yang berlalu di wajahku.
Tak lama, kutolehkan pandangan ke atas kepala,  tertarik akan dengungan suara yang dihasilkan oleh segelintir Lebah. Mereka saling berkejaran, seekor Lebah besar, sepertinya itu Lebah Ratu, dan segelintir lebah-lebih kecil. Mungkinkah  ini para Lebah Pejantan? tanyaku dalam hati.
Tak sampai hitungan jam, satu persatu Lebah Pejantan itu mati dan jatuh ke tanah. Tinggallah Lebah Ratu dan seekor Lebah Pejantan yang muncul sebagai pemenang. Perkawinan pun terjadi. Perjuangan cinta selama beberapa waktu, membuahkan perkawinan yang berujung pada kematian bagi Lebah Pejantan.
Aku lagi-lagi menggelengkan kepala. Tersenyum kecut.
“Perkawinan kejam lainnya,” keluhku. Berjuang dan berkorban demi cinta, harga dan kehormatan diri. Benar-benar sebuah perjuangan, simpulku dalam hati.
Sejenak, aku merasa iri pada pengorbanan dua jenis binatang yang mati itu.
Aku menarik nafas perlahan. Mataku melirik ke sekitarku. Sepi….
Kupandangi wajah suamiku yang kaku dan berwarna pucat. Aku tak ingat, di mana kuletakkan bagian lain dari tubuhnya. Yang kutahu, hari ini aku harus menguburkan kepalanya di hutan ini. Jauh dari mana pun dan siapa pun. Sehingga dia tak dapat lagi menjual diriku kepada lelaki lain, demi uang di dompetnya.
Dengan sisa kekuatan yang kumiliki, kutanam kepalanya dalam tanah, dekat dengan bangkai Lebah dan Belalang Sembah jantan.

***
Diikutsertakan pada lomba FF Mpers Batam
Jumlah kata : 248 kata. 

gambar pinjem dari sini.

Wednesday, August 24, 2011

[Batam FF Rindu, Ketika Kakak Merindu]





“Kakak harus makan yang banyak ya, Nak,” bisikku perlahan ke telinga Risma. Namun, hanya gelengan kepala yang diberikan untukku. Aku hanya bisa menarik nafas. Ini hari pertama ia ngambek.
Di hari lain.  “Ayolah, Nak. Sudah dua hari tak kau sentuh juga masakan Bunda,” bujukku mulai sedih. Tubuh kecilnya terlihat makin kecil.
Kupandangi Risma yang tidur-tiduran sambil menutup wajahnya dengan bantal. Ia berusaha menghindari wajahku dan masakan yang setiap hari kuberikan. Risma hanya menyentuh susu yang kusajikan di sisi tempat tidurnya. Tapi tidak menyentuh makanan atau sekedar sekerat roti pun.
“Eh, Kakak lihat deh!, Adik makannya banyak. Kakak ikutan makan banyak, yuk!” Upayaku tak pernah berhenti. Aku tahu, besok ia pasti akan kalah dan  bersedia makan.  Aku mulai tahu penyebab ngambeknya sekarang.
Akhirnya, pagi itu datang.  
Risma menyipitkan matanya, ketika sinar mentari masuk dari jendela kamar, yang dibukakan oleh seorang pria. Aku berdiri tersenyum di samping pria tersebut.
Senyum lebar Risma muncul seketika. Bergegas ia turun dari tempat tidur. Boneka panda kesukaannya terlempar ke lantai, tak diperdulikan. Segera diberikannya pelukan terhangat yang ia miliki pada tubuh pria di sampingku.
Sembari tersenyum, kuletakkan sarapan di sisi tempat tidurnya. Ia melirik ke arah nampan makanan tersebut.
“Ayah, ayo makan yuk! Risma sudah menahan lapar tiga hari, karena menunggu  kepulangan Ayah,” kata Risma sambil menyerbu sarapan.
Tak tampak  wajah lesu dan sikap malas seperti yang dilakukannya beberapa hari kemarin. Putriku yang berusia 5 tahun itu ternyata terkena penyakit rindu.  Rindu pada sang Ayah yang harus bertugas keluar kota beberapa hari saja. 

***
ikut serta dalam lomba FF nya mpers batam. 
FF 247 kata *insyaAllah tidak salah hitung.