“An abnormal fear or hatred of foreigners and strange things.”
Mata perempuan itu menatap lekat tulisan pada layar. Hening sebentar. Ia sepertinya mencoba menelaah kata-kata tersebut.
Perlahan terdengar hembusan nafasnya. Kembali senyap.
Tak lama, tangannya kembali memegang tetikus.
“Klik!”
“A person unduly fearful or contemptuous of that which is foreign, especially of strangers or foreign peoples.”
Keningnya berkerut sedikit. Keminiman ilmu yang dimilikinya, mengharuskan otaknya bekerja lebih keras dari biasa, guna mengunyah mentah-mentah kata-kata asing tersebut. Kali ini bukan resep atau cerita anak yang dijadikannya kata kunci di mesin pencari, namun kata asing yang semakin hari, semakin membuatnya bertanya-tanya, apa definisinya ya?
Tangannya kembali menscroll tulisan yang ada di layar komputernya. Sekali-sekali kegiatan terhenti, karena harus membuka kamus terjemahan Inggris –Indonesia.
“Ugh, inilah akibat kursus bahasa Inggris hanya untuk dapetin sertifikat doank.” Gerutunya dalam hati, sementara tangannya sibuk membolak balik lembar kertas kamus, setebal bantal boneka anaknya.
“Ah coba di laman lain, ah….” Pikirnya makin ingin tahu.
“Hatred or fear of foreigners or strangers or of their politics or culture”
“Hemmm, politik dan budaya dari orang asing pun masuk dalam indikatornya ya?” bisiknya perlahan. Tangan kirinya bergerak perlahan mencari gelas teh hangat, yang sudah disiapkannya sebelum melakukan pencarian data pagi itu.
Suara menyeruput air teh, sedikit memecahkan keheningan subuh. Aliran teh hangat menelusuri kerongkongannya. Nyaman, namun pikirannya tidak.
Mulut perempuan berusia jelang 40 tahun itu kembali berkomat-kamit, membaca sebait kalimat.
“Xenophobia is defined as “an unreasonalble fear or hatred of foreigners or strangers of of that which is foreign or strange. It comes from the Greek words (xenos) meaning “stranger”, “foreigner”, and (phobos), meaning “fear”.
Jemarinya melakuan kebiasaan lama, yakni mengelus-elus dagunya. Sesekali kepalanya terlihat sedikit miring. Bertanda ia sedang berpikir keras.
“Wah, dari bahasa Yunani, toh, kata Xeno berasal?” pikirnya. Sesaat kemudian ujung bibirnya sedikit naik, ada sedikit senyum meruncing di sana.
“Kog ya, aku jadi inget sodara jauhku yang bernama Seno, sih? Penyebutannya aja mirip, artinya pasti gak sama, ah….” Gigi geliginya muncul sekilas menyertai senyum, yang sayangnya lebih mirip seringai. Entah kenapa, di saat serius begini, malah muncul konsep sontoloyo menyamakan kata Xeno dengan Seno. Kepalanya menggeleng sebentar. Berusaha mengusir kekonyolan yang baru saja menggodanya.
“Klik!” Tetikusnya kembali bekerja.
Kali ini Oxford English Dictionary secara online dibukanya. Muncul kalimat, xenophobia include : deep-rooted, irrational hatred towards foreigners, unreasonable fear or hatred of the unfamiliar, especiallya people of other races.
Meski tak letih, namun perempuan itu meletakkan punggungnya pada kursi komputer. Lagaknya, ia mulai mencoba membentuk pattern atau cetakan pola pikir dalam otaknya, yang kalau tak rajin digunakan, dijamin akan sama dengan kondisi museum tua di kawasan Kota.
“Apa aku seperti itu ya?” Tanyanya pada diri sendiri. Senyap. Tak ada jawaban. Lalu, ia berdiri, perlahan berjalan menjauhi komputer di ruang kerjanya. Berjingkat sebentar. Entah, alasannya tak jelas, mengapa harus berjingkat di rumah sendiri?. Perlahan, dibukanya pintu kamarnya. Lampu temaran di kamar, tak membuatnya sulit untuk memandangi satu persatu wajah anak-anaknya.
Aura tenang bayi laki-lakinya yang berusia 4 bulan membuatnya tersenyum bahagia sebentar. Matanya terbiasa dengan remang kamar dan mencari wajah anak perempuannya. Anak perempuannya yang beberapa minggu lagi, akan berusia 4 tahun, tampak pulas dengan gaya tidurnya yang rusuh.
Tiba-tiba, tanpa dapat ditahannya, kilasan-kilasan frame cerita sehari-harinya muncul bertubi-tubi.
“Udah, Billa di dalam aja. Gak usah ikut Bunda. Cuma sebentar, kog, Bunda beli tahunya. Si tukang tahunya ada di depan. Kakak gak usah ikut-ikutan, ntar diculik tukang tahu itu.”
Adegan sesaat itu terjadi di malam hari, karena tukang tahu itu selalu menjual tahunya malam hari. Meski tahu jualannya si Tukang Tahu itu enak, tapi hati perempuan itu sering tak nyaman setiap kali laki-laki dewasa, dengan baju seadanya, berkulit hitam terpanggang matahari dan bahkan mungkin ditambah sinar bulan, berdiri menunggunya membayar tahu belanjaan. Laki-laki itu selalu menyapa anak perempuan kecilnya dengan ramah, jika putrinya berkeras hati untuk tetap melihat si Tukang Tahu.
Kali lain,
“Eh, kakak di dalam aja. Udah…, gak usah ikut-ikutan belanja sayur. Bunda gak suka kakak baek-baek sama laki-laki asing kayak tukang sayur itu. Awas, ntar kakak diambilnya lho….! Mau jauh-jauhan sama Bunda?”
Kalimat itu sekali-sekali muncul dari mulut si perempuan, ketika putrinya bersikeras ikut serta menemaninya belanja pada tukang sayur, yang rutin melintasi jalan di depan rumah. Penampilan si Tukang Sayur yang mirip si Tukang Tahu, membuatnya khawatir, terutama, setiap kali laki-laki dewasa itu mencoba menyapa putrinya dengan ramah.
Di kesempatan berbeda,
“Hush, gak boleh bicara ama orang asing, termasuk tukang ojeg, ya!” perintahnya dengan suara berbisik pada putrinya. Ketika putrinya yang sangat ramah itu menyapa si Tukang Ojeg. Lagi-lagi, sikap perempuan itu mendokrin putrinya, agar tak beramah-ramah pada laki-laki dewasa dengan penampilan, yang juga mirip si Tukang Tahu dan si Tukang Sayur.
Deg!
Rasa-rasanya ada yang tak beres pada dirinya. Tiba-tiba, pagi itu, hati si Perempuan yang juga berkulit tak putih, terasa penuh sesal.
“Duh, apa yang sudah aku lakukan? Apa aku sekedar berprasangka buruk pada penampilan laki-laki dewasa yang lusuh?
Atau aku termakan berita-berita tentang penculikan serta perkosaan terhadap anak kecil, yang dilakukan oleh orang-orang asing di sekitar rumah?
Terlalu khawatirkah aku akan berita yang ada di televisi dan media massa lain tentang kejahatan orang dewasa terhadap anak kecil?
Ataukah aku mulai ketakutan tanpa alasan pada orang-orang asing yang sebenarnya berprofesi baik itu?” Pikiran perempuan tersebut berkecamuk. Rasa bersalah mulai muncul.
Perlahan, tangannya menutup pintu kamar. Tiba-tiba seperti muncul udara dingin di sekitar tubuhnya. Ada gementar kecil perlahan menyusup. Ia mulai waspada terhadap dirinya sendiri. Ada yang tak beres pada konsep buatannya mengenai orang asing.
Tak lama, ia kembali duduk di kursi di depan komputer. Tangannya mengelus tetikus, menggenggam dan mengarahkannya pada beberapa laman yang masih terpampang di layar.
Sebaris paragraf penjelasan mengenai karakter orang yang xenophobia muncul. Ia mendekatkan wajahnya sedikit maju ke arah layar. Memastikan mata dengan kacamata plusnya membaca dengan baik. Otaknya -lagi-lagi- mencoba mencerna tulisan dalam bahasa Inggris. Sedikit keluh muncul dalam hatinya, setiap kali harus bekerja keras menerjemahkan kalimat-kalimat asing itu. Namun dikalahkannya keluhan tersebut, demi harapan mendapat masukan positif bagi kesalahan yang mungkin telah dilakukannya.
“A xenophobic person has to genuinely think or believe at some level that the target is in fact a foreigner. This arguably separates xenophobia from racism and ordinary prejudice in that someone of a different race does not necessarily have to be of a different nationality. In various contexts, the terms "xenophobia" and "racism" seem to be used interchangeably, though they can have wholly different meanings (xenophobia can be based on various aspects, racism being based solely on race, ethnicity and ancestry). Xenophobia can also be directed simply to anyone outside a culture, not necessarily one particular race or people.”
Matanya melekat pada kalimat rasis dan prasangka yang muncul berdampingan dengan kata xenophobia. Meski masih kesulitan menelaah semua kalimat tersebut. Hatinya agak tidak tenang. Sebuah tanda tanya besar muncul di kepalanya.
“Apakah aku telah menjadi seseorang yang membentuk karakter xenophobia pada putriku sendiri? Am I already, a xenophobia maker?
***
Pamulang. Terinspirasi pada kisah diri sendiri.
Isi tulisan terdiri atas 1137 kata.
Definisi dan informasi mengenai xenophobia dikutip dari : sini, sana, situ, sebelah sana dan sebelah sini.
Diikutsertakan pada lomba menulis bertema xenophobia, milik Liliput Berjilbab.
Ditulis dengan perasaan penuh kekhawatiran, apakah aku salah faham dengan kata xenophobia? Rasis? Prasangka jelek? Aaaah, apa pun itu. Akhirnya aku jadi belajar banyak setelah menulis ini.







