Dahi laki-laki itu berkerut. Matanya terpejam. Berhari-hari, ia coba menahan diri. Namun, kali ini ia tak tahan lagi. Perasaan tertekan atas sikap tetangga kostnya selama ini, telah sampai batas akhir.
Papan tipis yang membatasi antar kamar kost, sudah pasti tak sanggup menahan semua suara.
Perlahan, ia melangkah ke arah kost sebelah. Tangan kirinya memegang pipi, sementara yang kanan menggenggam obeng.
Teriknya matahari memanggang atap seng. Panas cuaca makin menambah keruh hatinya. Nafasnya memburu. Detak jantungnya ikut membuat suasana menjadi tegang. Genggamannya makin kuat memeluk obeng.
“Benda ini pasti bisa membunuh pemicu deritaku selama ini.” ikrarnya dalam hati.
“Ah…, pintu kostnya terbuka.” Senyum keji terukir di bibirnya.
Ketika tapak kakinya mendekati pintu tetangga, alunan lagu dangdut itu makin membahana.
“Dari pada sakit hati, lebih baik sakit, gigi iiiini…, biar tak mengapaaaaa. Rela, rela. Rela aaakuuuuu relakan. Rela… Rela,… Rela aaaakuuu….”
Kepala dan giginya makin berdenyut. Bersamaan dengan dendam yang memuncak, diangkatnya obeng, lalu diarahkan dan ditusuknya tepat pada sasaran.
“BRAK, BRUK…, KRAAAK!!! “
“AAAAAAAARRRGGGHHH !!!”
Jeritan pemilik kamar menggantikan lagu dangdut yang mendadak senyap.
“Apa yang sudah kamu lakukan?!!” Pemilik kamar terlonjak dari kursi. Wajahnya pucat tak berdarah.
“Aku tak rela harus tersiksa oleh lagu yang kau putar setiap hari itu! Aku tak terima kalau penyanyi itu bilang, sakit gigi lebih baik dari pada sakit hati! Tau!” Balas laki-laki pemegang obeng dengan mata mengilat.
CD dangdut berjudul Sakit Gigi, hancur berkeping-keping. Obengnya bekerja dengan baik. Meski giginya masih berdenyut, namun ia puas. Dendamnya terbalas sudah.
***
Jumlah Kata : 244 (diluar judul)
FF ini diikutsertakan dalam lomba milik Ninelights

