Showing posts with label flashfiction. Show all posts
Showing posts with label flashfiction. Show all posts

Sunday, June 03, 2012

[FF Ninelights] Tak Rela


Dahi laki-laki itu berkerut. Matanya terpejam. Berhari-hari, ia coba menahan diri. Namun, kali ini ia tak tahan lagi. Perasaan tertekan atas sikap tetangga kostnya selama ini, telah sampai batas akhir.
Papan tipis yang membatasi antar kamar kost, sudah pasti tak sanggup menahan semua suara.  
Perlahan, ia melangkah ke arah kost sebelah. Tangan kirinya memegang pipi, sementara yang kanan menggenggam obeng.
Teriknya matahari memanggang atap seng. Panas cuaca makin menambah keruh hatinya. Nafasnya memburu. Detak jantungnya ikut membuat suasana menjadi tegang. Genggamannya makin kuat memeluk obeng.
“Benda ini pasti bisa membunuh pemicu deritaku selama ini.” ikrarnya dalam hati.  
“Ah…, pintu kostnya terbuka.” Senyum keji terukir di bibirnya.
Ketika tapak kakinya mendekati pintu tetangga, alunan lagu dangdut itu makin membahana.
“Dari pada sakit hati, lebih baik sakit, gigi iiiini…, biar tak mengapaaaaa. Rela, rela. Rela aaakuuuuu relakan. Rela… Rela,… Rela aaaakuuu….”
Kepala dan giginya makin berdenyut. Bersamaan dengan dendam yang memuncak, diangkatnya obeng, lalu diarahkan dan ditusuknya tepat pada sasaran.
 “BRAK, BRUK…, KRAAAK!!! “
“AAAAAAAARRRGGGHHH !!!”
Jeritan pemilik kamar menggantikan lagu dangdut yang mendadak senyap.
“Apa yang sudah kamu lakukan?!!” Pemilik kamar terlonjak dari kursi. Wajahnya pucat tak berdarah.
 “Aku tak rela  harus tersiksa oleh lagu yang kau putar setiap hari itu! Aku tak terima kalau penyanyi itu bilang, sakit gigi lebih baik dari pada sakit hati! Tau!” Balas laki-laki pemegang obeng dengan mata mengilat.
CD dangdut berjudul Sakit Gigi, hancur berkeping-keping. Obengnya bekerja dengan baik. Meski giginya masih berdenyut, namun ia puas. Dendamnya terbalas sudah.

***
Jumlah Kata : 244 (diluar judul)
FF ini diikutsertakan dalam lomba milik Ninelights
Gambar pinjem dari sini.

Thursday, September 29, 2011

[Batam FF – Perjuangan] Antara Belalang, Lebah dan Aku.


“Ugh!....”  Kualihkan mata ke arah lain.
“Lumayan kejam,” desisku.
Sambil menggenggam dedaunan kering, aku menyaksikan sebuah perkawinan terkejam yang pernah kulihat. Kepala Belalang Sembah jantan itu terguling, setelah ditebas kaki tajam Belalang Sembah betina, paska perkawinan mereka.  Aku setengah takjub akan kejadian tersebut.
“Perjuangan cinta yang mengagumkan,”  bisikku perlahan pada angin yang berlalu di wajahku.
Tak lama, kutolehkan pandangan ke atas kepala,  tertarik akan dengungan suara yang dihasilkan oleh segelintir Lebah. Mereka saling berkejaran, seekor Lebah besar, sepertinya itu Lebah Ratu, dan segelintir lebah-lebih kecil. Mungkinkah  ini para Lebah Pejantan? tanyaku dalam hati.
Tak sampai hitungan jam, satu persatu Lebah Pejantan itu mati dan jatuh ke tanah. Tinggallah Lebah Ratu dan seekor Lebah Pejantan yang muncul sebagai pemenang. Perkawinan pun terjadi. Perjuangan cinta selama beberapa waktu, membuahkan perkawinan yang berujung pada kematian bagi Lebah Pejantan.
Aku lagi-lagi menggelengkan kepala. Tersenyum kecut.
“Perkawinan kejam lainnya,” keluhku. Berjuang dan berkorban demi cinta, harga dan kehormatan diri. Benar-benar sebuah perjuangan, simpulku dalam hati.
Sejenak, aku merasa iri pada pengorbanan dua jenis binatang yang mati itu.
Aku menarik nafas perlahan. Mataku melirik ke sekitarku. Sepi….
Kupandangi wajah suamiku yang kaku dan berwarna pucat. Aku tak ingat, di mana kuletakkan bagian lain dari tubuhnya. Yang kutahu, hari ini aku harus menguburkan kepalanya di hutan ini. Jauh dari mana pun dan siapa pun. Sehingga dia tak dapat lagi menjual diriku kepada lelaki lain, demi uang di dompetnya.
Dengan sisa kekuatan yang kumiliki, kutanam kepalanya dalam tanah, dekat dengan bangkai Lebah dan Belalang Sembah jantan.

***
Diikutsertakan pada lomba FF Mpers Batam
Jumlah kata : 248 kata. 

gambar pinjem dari sini.

Wednesday, August 24, 2011

[Batam FF Rindu, Ketika Kakak Merindu]





“Kakak harus makan yang banyak ya, Nak,” bisikku perlahan ke telinga Risma. Namun, hanya gelengan kepala yang diberikan untukku. Aku hanya bisa menarik nafas. Ini hari pertama ia ngambek.
Di hari lain.  “Ayolah, Nak. Sudah dua hari tak kau sentuh juga masakan Bunda,” bujukku mulai sedih. Tubuh kecilnya terlihat makin kecil.
Kupandangi Risma yang tidur-tiduran sambil menutup wajahnya dengan bantal. Ia berusaha menghindari wajahku dan masakan yang setiap hari kuberikan. Risma hanya menyentuh susu yang kusajikan di sisi tempat tidurnya. Tapi tidak menyentuh makanan atau sekedar sekerat roti pun.
“Eh, Kakak lihat deh!, Adik makannya banyak. Kakak ikutan makan banyak, yuk!” Upayaku tak pernah berhenti. Aku tahu, besok ia pasti akan kalah dan  bersedia makan.  Aku mulai tahu penyebab ngambeknya sekarang.
Akhirnya, pagi itu datang.  
Risma menyipitkan matanya, ketika sinar mentari masuk dari jendela kamar, yang dibukakan oleh seorang pria. Aku berdiri tersenyum di samping pria tersebut.
Senyum lebar Risma muncul seketika. Bergegas ia turun dari tempat tidur. Boneka panda kesukaannya terlempar ke lantai, tak diperdulikan. Segera diberikannya pelukan terhangat yang ia miliki pada tubuh pria di sampingku.
Sembari tersenyum, kuletakkan sarapan di sisi tempat tidurnya. Ia melirik ke arah nampan makanan tersebut.
“Ayah, ayo makan yuk! Risma sudah menahan lapar tiga hari, karena menunggu  kepulangan Ayah,” kata Risma sambil menyerbu sarapan.
Tak tampak  wajah lesu dan sikap malas seperti yang dilakukannya beberapa hari kemarin. Putriku yang berusia 5 tahun itu ternyata terkena penyakit rindu.  Rindu pada sang Ayah yang harus bertugas keluar kota beberapa hari saja. 

***
ikut serta dalam lomba FF nya mpers batam. 
FF 247 kata *insyaAllah tidak salah hitung.