Monday, July 29, 2013

Pamulang's One Day Story #1 : Seru aja!

gambar pinjem dari sini : http://serpongraya.files.wordpress.com/2009/07/pamulang.jpg


Siang  itu, aku harus pergi ke pusat kota Pamulang. Ibukota Kotamadya Tangerang Selatan. Di suasana puasa Ramadan, menjelang 10 hari lagi Lebaran. Ada rasa khawatir menyelinap. Karena kali ini, aku harus ke ATM mentransfer sejumlah uang. Kekhawatiran itu beralasan, karena dalam 3 hari terakhir ini, aku mendapat berita tentang kehilangan uang milik tetangga, tanteku dan teman pembantuku.

Tanteku dicopet di dalam angkot dekat Ciputat, dan kehilangan dompet serta BB nya. cara pelaku mencopet dengan melakukan "atraksi" pura-pura kena serangan jantung, dan dalam keadaan panik, si tante menyanggah tubuh si pemuda yang "terkena serangan jantung" tersebut. Ternyata, pelakunya tak dia sendiri, ada laki-laki lain yang juga penumpang, berusaha menolong juga untuk membawa pergi si pelaku. Dalam keadaan agak "hiruk pikuk" dalam angkot, si Tante tak menyangka jika dompet dan BB nya dalam tas beresleting telah lenyap. Itu juga karena diberitahu penumpang perempuan lain yang tergagap-gagap ketakutan. Uang 3 juta melayang. Uang THR untuk keluarga dan pembantunya. 

Belum lagi kisah tetanggaku yang dihipnotis di kawasan supermarket Giant Pamulang Square. Kabarnya dia kehilangan uang hampir 6 juta rupiah dan menyiksakan trauma yang mendalam, karena penghipnotisnya adalah laki-laki yang berpenampilan rapi. 

Cerita lainnya adalah dari pembantuku. Yang menceritakan kalau temannya yang juga ART baru saja terima uang THR, dan uang itu hilang lenyap di kawasan ramai (mungkin pasar) ketika ia berniat berbelanja. 

Cerita-cerita ini disampaikan padaku beberapa hari lalu. Akibatnya aku sempat kecut, ketika diminta suami yang sedang di offshore untuk ke ATM mentransfer uang untuk keluarga. 

Tapi, dengan Bismillah dan meminta perlindungan dari Allah, aku berangkat juga ke ATM. 

Siang itu cukup adem, tapi ternyata tak ada satupun ojeg yang berdiri menjual jasanya.

"Ojeg!...Ojeg!" teriakku pada dua orang pria yang ada di dekat tempat mangkal ojeg. Tapi aku dicuwekin. Tiba-tiba datang seorang pengendara motor, ternyata perempuan dan bertanya, "Mau pake ojeg, Bu?" 

Aku mengangguk ragu.

"Kalau gitu, ayo... mau kemana?" tanyanya membelokkan motor maticnya.

"Ke Gerbang Vila Dago," jawabku. Kawasan itu tempat terdekat untuk mengambil angkot dan juga menuju atm. 

"Ayo, sekalian, saya juga mau ke Kintamani. Gak usah takut, Bu. Saya biasa jualan bensin di pangkalan ojeg itu. Tapi hari ini bensinnya sudah habis, jadi saya ngojeg aja." Jelas perempuan berusia 30an tahun itu. Ia sepertinya mengerti wajah waspada dan ingin tahu yang muncul di aura mukaku.

Aku tersenyum. dan akhirnya menggunakan jasa ojeg perempuan. Ini adalah pengalaman pertama kali untukku. 

Sesampai di tempat tujuan, kuberikan ongkos jasa lebih banyak dari biasanya. Karena aku salut dengan perjuangannya mencari uang halal. 

Ketika naik angkot, kupastikan penumpangnya perempuan cukup banyak, dan aku memilih duduk di samping supir. 

"Weits! ada tivinya nih angkot!" desisku perlahan. Si Supir asyik mengikuti lagu dalam tivi tersebut. Aku tersenyum. Perjalananku sangat singkat, karena sebetulnya tidak begitu jauh posisi atm dan juga tempat tirai yang akan kutuju. Aku juga memastikan menggunakan ATM yang dekat dengan petugas keamanan (satpam) bank. Mengantisipasi hal-hal yang tak diinginkan.

Aku sendiri berpenampilan biasa. Pake sendal jepit, berjilbab kaos, celana panjang dan baju kaos panjang, dan tas kecil diselempang. Aku mencoba tak menjadi pusat perhatian. :) 

Kembali dari ATM, aku naik angkot lagi. Kupastikan supirnya sudah tua, dan penumpangnya banyak perempuan. Lalu aku duduk di dekat ibu-ibu yang baru saja belanja dari uang THR mereka.

Ternyata mereka sangat hebat dalam mengetahui perbedaan harga-harga barang dari satu tempat di tempat lain. Aku mendengarkan bagaimana mereka membicarakan perbedaan harga biskuit, beras dan mi instan. 

Aku sebetulnya tadi berniat  mampir ke supermarket, untuk membelikan apel buat mama. Tapi ya ampuuuun, itu yang antri di kasir, mengular panjaaaaang. Segera saja aku balik badan dan pulang. 

Sesampai di gerbang Vila Dago, aku menggunakan jasa ojeg lagi. Kali ini tukang ojegnya juga sudah berumur. 

Hemmm, aku jadi inget para orang-orang tua yang masih aktif bekerja di Singapura sebagai cleaning service. Sepertinya sekarang pun di kawasan Pamulang, mulai banyak orang-orang tua yang masih aktif bekerja.

Tak sampai 10 menit kemudian, aku sudah pulang ke rumah dengan selamat. Yup... hari itu aku merasa berkah pergi keluar rumah tanpa masalah. Terus terang, hari ini aku pun deg-degan, karena harus keluar rumah lagi, membeli sesuatu yang penting untuk di rumah. 


Mudah-mudahan hari ini baik, dan aku terhindar dari ujian dan malapetaka. Karena menjelang lebaran ini, kejahatan meningkat. Semua pencuri, perampok dan penipu berlomba-lomba mengeruk dana secara tak halal, tak perduli sekarang ini bulan Ramadan sekalipun. Yang penting bagi mereka, selama Lebaran nanti, mereka punya uang untuk berfoya-foya dan membeli barang-barang yang menyenangkan hati keluarga mereka. Tanpa peduli uangnya adalah haram. 

#sigh.... 

Friday, July 05, 2013

[Billa] Menjelang Usia ke 5 Tahun


Kakak baru usia 2 tahun, sudah bawel dan hapal huruf hijaiyah. Sekarang menjelang 5 tahun, kemampuan verbalnya makin menjadi-jadi. Alhamdulillah

Tidak terasa, beberapa minggu lagi, usia Kakak Billa akan memasuki 5 tahun. Aku mulai merasa begitu banyak perkembangan pada karakter dirinya.

Mulai yang biasanya suka ngambek, sekarang sudah nyaris terjadi.

Biasanya, sulit diajak kerjasama, sekarang sudah enak banget. Kooperatif dalam memilih channel tivi  (karena dulu selalu hanya boleh channel Disney Junior, sekarang sekali-sekali Bundanya atau Neneknya boleh lihat chanel tivi yang lain. Duh happynya...hehehe).

Juga tak susah dimintai tolong, misalnya membersihkan sendiri mainannya, ambilin diaper adeknya, atau jagain adeknya sebentar, ketika Bundanya mandi atau sholat dan banyak hal lain yang membuat Bundanya merasa lebih nyaman, paling tidak sekarang yang dihadapi tinggal fase tantrum dek Aam saja. :)

Seiring dengan perkembangan fisik (yang sudah mencapai 100 centimeter, akhirnya semeter juga tinggi si Kakak..ihihiih saking mungilnya), juga berkembang mental dan kecerdasannya.

Tak sekedar ia mulai senang tampil dan juga memadupadankan pakaiannya, Kakak juga mulai suka mengajukan pertanyaan yang membutuhkan jawaban ekstra serius, agar tak salah memberi masukan.

Misalnya, beberapa hari ini, pertanyaan yang sering diajukannya adalah:

  1. Bunda suka masak gak? Nggak suka? Kenapa? Kog Nyai suka masak, tapi Bunda gak suka? Kalau Bunda gak suka masak, terus yang kasih petunjuk Kakak untuk masak siapa? *tepok jidat.  
  2. Superman itu orang islam atau bukan, Bunda? Kalau orang islam kan gak mana bisa terbang seperti itu kan Bunda? *efek dari nonton Man Of Steel...  
  3. Bunda lihat gak di tivi itu? Warna pelanginya ada tujuh. Merah, Orange, Kuning, Hijau, Biru, Ungu dan coklat. Kenapa lagu pelangi-pelangi cuma bilang "merah, kuning, hijau di langit yang biru?" *Bunda mulai meringis... 
  4. Bun... eh Bund... (ini panggilannya gak pernah utuh deh! Kalau gak Bun, Bund, atau Bun-bun... hiks). Kenapa kita harus pipis dan pup setiap hari, sih? Bikin capek bolak-balik ke kamar mandi. *Nah kalau ini Bundanya lumayan bisa jawab deh.... Sok-sok jelasin terkait metabolism tubuh dan kesehatan. Walhasil si Kakak angguk-angguk kepala. Mudah-mudahan emang ngerti, bukan sekedar toleransi ama jawaban Bundanya. hehehe  
  5. Eh Bund, ini lho yang Kakak maksud! (Si Kakak memaksa Bunda melihat tayangan tivi. Tapi Bunda asyik jawabin message temen...heheh). "Ini yang Kakak gak suka. Kalau Kakak kasih tau ke Bunda, sesuatu di tivi, Bunda lihat donk. Ini bukti kalau cerita Princess Sofia ada di dua chanel, satu di Disney junior satunya Disney chanel. Kalau Bunda gak ngelihat, gimana Bunda bisa percaya omongan Kakak!" (reaksinya luar biasa marah, matanya berair, dan kakinya mulai menghentak). *Bundanya gak enak hati dan mulai mersa bersalah deh! Buru-buru tarok hape, dan meminta maaf. Beruntung anak kecil sangat pemurah dan mudah memaafkan. Kakak biasanya langsung berlari mendekati dan memeluk diriku dan mencium pipi.  "Lain kali, langsung lihat ya Bun, kalau kakak kasih bukti!" *deuuu masih protes dikit ternyata...hehehe
Banyak lagi sebenarnya, bentuk protes dan pertanyaan-pertanyaan. Sepertinya kudu baca lebih banyak lagi dan nanya lebih dalam lagi ke teman-teman yang sudah melewati fase ini. Mudah-mudahan aku bisa mengarahkan dan memberi jawaban dengan baik dan tak menyesatkan.

Love you, Kakak. :)

Romantika Cintaku dan Dia.

Foto keluarga di studio Star PIM 


Sebelum kami berjumpa, Dia suka perempuan bermata sipit, berkulit putih dan berambut lurus.
Aku selalu memilih pria berkacamata dan bertubuh lebih tinggi dariku.
Ternyata yang dia dapatkan perempuan bermata bulat dan kabarnya tajam, berkulit gelap dan rambutnya ikal. Sementara aku, jatuh hati pada keindahan mata yang belum tertutup kaca dengan postur tubuhnya yang lebih pendek dariku.

Dia nyaris tak pernah menyela orang tua, dan nada suaranya tak pernah tinggi, apalagi jika bicara pada orangtuanya dan orangtuaku.
Sementara aku? Sering kesulitan mengontrol tone suara jika bicara pada mama papa dan suka menyela pembicaraan.
Akhirnya, dia juga bisa marah dengan suara tinggi, terutama ketika  aku tak mampu mengontrol diri. Lalu, aku? Mulai belajar merendahkan suara dan mengurangi kebiasaan memotong omongan kalau orang tua dan dia berbicara. Susah, tapi bisa.

Dia selalu mengukur semua hal dengan kepastian. Sudah jamak jika ia memasang sesuatu di dinding, maka ia menggunakan alat ukur yang memastikan semuanya lurus, seimbang dan tepat pada tempatnya.
Sementara aku? Yang terpikir, hanyalah … yang penting dipasang. Atau yang penting semua tersusun. Tak peduli ukuran, letak atau keseimbangan.

14 tahun berlalu, membuat ia masih tetap bekerja dengan caranya, namun terkadang ia harus mengakui, cara demikian cukup menghabiskan waktu. Hingga akhirnya, sekali dua kali, ia menerima kenyataan jika ada pajangan, gambar atau sesuatu yang menempel di dinding yang tak rapi, namun terpasang. 

Pola kerjanya rapi, bahkan menyusun baju di lemari dan koper untuk berpergian pun terukur.
Jangan tanya tentang aku. Biasa menulis dengan tumpukan buku di sekitar, mengambil baju dengan menarik yang aku suka serta memasukkan baju dalam koper hingga padat sepadat-padatnya.

Bertahun beradaptasi, akhirnya ia menerima fakta, ada kalanya waktu tak berpihak padanya. Karena pekerjaan sering kali membuatnya tak sempat menyusun rapi semuanya. Ia harus menelpon dari jarak jauh, memastikan koper sudah siap sebelum berangkat. Tak bisa lagi mengomel melihat tumpukan buku, kertas dan alat tulis, karena menyimpan puluhan hingga ratusan kalimat untuk buku-bukuku. Semuanya tak rapi, meski aku berusaha, jika luang, kukembalikan pada tempatnya. Meski sangat jarang itu terjadi. Namun Dia tahu, menulis adalah duniaku, sama seperti aku tahu, pergi jauh meninggalkan keluarga sudah menjadi rutinitas pekerjaannya. Jadilah, kami tak saling menuntut. 

Bahkan, tadi malam, ketika makan sepiring rujak potong di Kafe Betawi menjelang nonton Man of Steel, ia memilih buah-buah yang ia suka saja. Sementara aku, tak perduli buah apa yang kuambil dan masuk ke dalam mulutku. Baginya, ia harus menyiapkan mental untuk rasa buah yang dimakannya. Sementara bagiku, kombinasi buah-buahan yang tak terduga rasanya, memberikan sensasi dan keunikan sendiri ketika menikmati kunyahan rujak di mulutku.  
Demikian pernikahanku. Bak utara dan selatan... bak sepasang rel kereta... tak pernah sama... tapi satu arah. Tak pernah satu rasa, tapi berniat indah nan rata. 

Baru 14 tahun. Adaptasi dilakukan, tanpa pernah putus.

[Aam] Setahun Usiamu...

Setahun sudah... :) 




Tahun lalu.... dini hari, aku menuntaskan pendengaranku pada juz terakhir ayat-ayat Allah.
Kutarik udara perlahan memenuhi paru-paru, meski bukan oksigen 100 persen segar yang kuhisap, karena pendingin udara kamar rumah sakit yang menggantikannya.

"Sudah subuh?" bisik suami perlahan.

Aku mengangguk.

Jantungku kembali berdegup lebih kencang dari biasanya.

Tak lama, wajah suster yang berdinas pagi menyelinap di antara tirai penutup tempat tidurku.

"Selamat pagi, Bu. Sudah siap? Sebentar lagi, saya bawa kursi rodanya ke mari ya..." Seutas senyum tulus meniti wajahnya.

Aku mengangguk.

Tarikan nafasku makin menderu.

Ini adalah kali ke dua aku akan menjalani operasi caesar. Jika dulu dilakukan, di luar jadwal dan keadaan, sehingga tak cukup waktu bagiku menyiapkan mental, hingga pasrah menjalaninya.
Namun, saat ini, aku yang memilih tanggal 20 Maret 2012, untuk menerima kehadiran putra ke duaku. Mental yang kukira telah siap, ternyata malah memompa derap jantung karena harus menjalani pengalaman operasi caesar kembali. Bayangan proses operasi dan setelahnya yang tak akan nyaman dalam hitungan minggu, berkelebat memenuhi otak dan pikiranku.

Jadi Ibu Memang Tak Boleh Panik


Ayah, Aam dan Billa, beberapa bulan yang lalu :) 


Aku tak pernah berpikir, jika cuaca teramat terik di hari Kamis, 14 Maret 2013 beberapa hari lalu, akan menjadi awal “hebohnya” hari-hariku berikutnya.

Seperti biasa, kujemput putriku, Kakak Billa, dengan menggowes sepeda. Lokasi sekolah relatif cukup dekat. Cukup 5 menit mengendarai sepeda, aku sudah tiba di Al-Zahra Villa Dago Pamulang. Kukenakan topi pada Billa. Peluh mengalir cukup deras di tubuhku. Pertanda matahari menjelang 12 siang itu memang tak begitu bersahabat.

Billa sendiri terlihat agak rewel, karena sesampai di rumah, ia tak begitu ceria, namun tetap bersedia main bersama Najwa –putri Lilis pembantuku- beberapa saat menjelang makan siang.

Nafsu makan Billa mendadak hilang, meskipun soto betawi kegemarannya yang kusajikan. Namun, aku tak pernah terpikir, jika suhu tubuh Billa merambat naik.

Ketika jam 2 pagi, Billa mulai rewel, tidurnya tak nyenyak, dan mengeluh terus. Aku yang terlelap dan sangat mengantuk, karena harus mengurus Aam yang tak sembuh batuk pileknya, merasa terganggu. Terus terang, jika ingat sikapku malam itu, menyesal sekali rasanya, karena nada suaraku meninggi.

“Kakak, tidur donk… sudah malam! Apalagi yang dikeluhkan?” bentakku dengan kesal. Kepalaku mulai pusing.

Tapi, Billa masih mengeluh. Aku menyentuh tubuhnya. Niatku adalah menyuruhnya diam. Aku kaget, mendapati suhu tubuhnya panas sekali. Buru-buru, kuambil termometer dan mengukur suhunya.

“MasyaAllah, 39,5 derajat!” Aku segera mengambil obat turun panas, agar Billa bisa tidur lebih nyaman. Memberinya obat bukan perkara sulit. Ia meminumnya dan segera berbaring.

Keesokan paginya, kubangunkan si Kakak untuk sekolah.

“Darah?!”

Aku panik, melihat tetesan darah di sekitar kepala Billa. Segera kuperiksa hidungnya, dan ternyata mengalir dari hidung Billa. Ini pertama kali aku melihat mimisan sebagai akibat suhu tubuh tinggi. Billa kusuruh berbaring terlentang, perlahan kubersihkan lubang hidungnya. Kakak Billa izin sekolah hari itu juga.

[Billa] Mengenal 4 huruf


Kakak "membaca" gambar
@trans hotel


Aku tidak pernah memaksa Billa (4 tahun 4 bulan) untuk membaca di usia dini. Namun, acap kali aku memegang buku, Billa akan aku ikutsertakan dalam dunia buku.

Namun, 2 bulan terakhir ini, aku terpikir untuk mengajarinya membaca. Karena sejak usia 2 tahun, Billa sudah mengenal huruf latin dan huruf hijaiyah. Sayangnya, aku kurang maksimal mengajak Billa untuk mengingat-ingat dan mengenal kembali huruf hijaiyah. InsyaAllah ini akan menjadi PR besar untukku, agar Billa bisa mengaji lebih baik di tahun 2013 ini.


Kembali ke masalah belajar membaca, karwna aku sudah bosan mengajarinya, dan dia terlihat tidak tertarik. Maka sudah lebih 3 minggu ini, tak pernah aku ajak belajar membaca lagi. Aku kembali pada prinsip, jika tak nyaman untuk anak, ya sudah. Ikuti saja maunya. 



Entah mendapat pencerahan dari mana, tahu-tahu malam tanggal 3 Januari 2013, si Kakak (demikian biasanya aku memanggil Billa) memintaku untuk memegang setumpuk flash card yang ia punya. Lalu sambil bermain, melempar dan juga menduduki flash card itu, ia mengajakku mengeja kata-kata.


Alhamdulillah, tak pernah mengira.

Akhirnya, si Kakak bisa mengeja kata dengan 4 huruf, sedikit sulit untuk 5 huruf dan mulai belepotan untuk 6 huruf ke atas.

Tak apa,... bagiku ini sebuah kemajuan yang sangat mengejutkan. Mudah-mudahan, hari-hari berikutnya, Kak Billa akan selalu bermain dengan kata-kata, mencintai kata-kata tersebut dan suatu hari kelak, merangkai kata-kata dalam tulisan. Amin. 




Medio Awal Januari.

Thursday, February 21, 2013

Tuesday, August 07, 2012

[Catatan Ramadan] ASI-16 : Obat Terbaik untuk Anakku

gambar pinjem dari sini 

Hari ini aku mau cerita pengalaman pribadiku seputar penyakit “ringan” maupun kondisi kesehatan yang tak menyenangkan yang dialami oleh anak-anakku, namun dapat ditanggulangi dengan ASI sebagai pertolongan pertama.

Pertama kali aku mendengar istilah bayi dengan bilirubin tinggi atau kalau umumnya suka dibilang bayi kuning, adalah ketika Billa berusia 4 hari. Aku ingat betul, betapa khawatirnya hati ini. Namun dokter Rina, sebagai dokter anak yang menangani kelahiran Billa, membuatku akhirnya percaya, bahwa Billa dapat sehat dan tak akan mengalami masalah kesehatan yang berat, jika aku percaya diri dalam memberikan ASI.

Karakter beliau yang tegas dan smart, sangat mendukung mentalku untuk yakin, bahwa dengan supply ASI sebanyak dan sesering mungkin, maka billirubin Billa akan kembali normal.

Pengalaman ini sangat berharga, karena ketika Aam juga mengalami billirubin yang lumayan tinggi, aku tak terlalu khawatir. Secara mental aku sudah tahu apa yang harus kulakukan, sehingga secara fisik, aku tinggal berusaha untuk tidak terlalu capek, agar ASI ku mengalir cukup untuk kesehatan Aam.

Pengalaman lain yang sangat membekas di hati, adalah ketika Billa terserang muntah-muntah dan diare di usianya ke 18 bulan, dan kami berada di Guangzhou. Kala itu adalah hari ke 2, dan aku tak tahu harus berobat ke mana, dan bagaimana komunikasi dengan dokternya.

Menjelang mendapatkan penerjemah dan dokter anak, Billa mengalami suhu tubuh yang tinggi dan tiba-tiba drop, hingga lemas sekali. Aku menyusui Billa sekitar 48 jam sebelum akhirnya kuputuskan untuk ke Gawat Darurat di Klinik dekat hotel kami menginap.

Tubuh Billa menyusut, dan berkurang 2 kilo. Hanya ASI 100% yang masuk ke dalam tubuhnya. Aku tak berani memasukkan susu formula ke tubuh Billa, dan Billa selalu memuntahkan bubur saring buatanku.

Akhirnya nyaris 2 hari, Billa bertahan dengan ASI saja. Aku nyaris kehilangan daya, akal dan sempat putus asa. Menyesali kepergianku ke Guangzhou. Namun, ketika aku ingat, bahwa Billa bergantung pada ASIku, dan aku harus tenang untuk menghasilkan ASI yang cukup bagi kesehatan Billa, maka kukuatkan mentalku, kuhanya menangis dalam sholat, dan terus menerus kuberikan ASI pada Billa.

Alhamdulillah, kamipun berhasil mendapatkan penerjemah, terus menemukan dokter anak yang tepat. (sebelumnya sempat ke dokter anak di RS pemerintah, tapi aku gak percaya dengan cara memeriksanya, entahlah.)

Saat itulah, aku sangat percaya, bahwa ASI memberikan kekuatan bagi Billa untuk bertahan hingga bertemu dokter yang tepat.

Selain dua kejadian di atas, aku juga banyak mendapatkan informasi, jika bayi terserang demam, diare, batuk dan pilek, maka obat atau penolong pertamanya adalah ASI. Aku termasuk orang tua yang tidak langsung pergi ke dokter, jika bayinya mengalami demam. Biasanya kutunggu hingga 48 jam atau 72 jam, dan memantau suhu tubuh bayi, sambil terus memberikan ASI.

Waktu Billa sempat diare, aku juga menghentikan susu formula, dan kembali memberikan ASI full untuk dia, hingga dia terlihat nyaman dan mau makan bubur kembali.

Kalau Billa dan Aam selesai disuntik imunisasi, biasanya rewel ataupun tubuhnya sedikit menghangat, maka ASI lah yang menjadi penolong utamanya. Alhamdulillah…

***

Pamulang, puasa hari keeeee…. 18 ya?

Ugh ini jeleknya kalau sempat dua hari keluar dari jalur kebiasaan.. jadi gak konsisten postingnya.. huhuhu…

Sunday, August 05, 2012

[Xenophobia] Am I A Xenophobia Maker?

 ***

“An abnormal fear or hatred of foreigners and strange things.”
Mata perempuan itu menatap lekat tulisan pada layar.  Hening sebentar. Ia sepertinya mencoba menelaah kata-kata tersebut.
Perlahan terdengar hembusan nafasnya. Kembali senyap.
Tak lama, tangannya kembali memegang tetikus.
“Klik!”
“A person unduly fearful or contemptuous of that which is foreign, especially of strangers or foreign peoples.”
Keningnya berkerut sedikit. Keminiman ilmu yang dimilikinya, mengharuskan otaknya bekerja lebih keras dari biasa, guna mengunyah mentah-mentah kata-kata asing tersebut. Kali ini bukan resep atau cerita anak yang dijadikannya kata kunci di mesin pencari, namun kata asing yang semakin hari, semakin membuatnya bertanya-tanya, apa definisinya ya?
Tangannya kembali menscroll tulisan yang ada di layar komputernya. Sekali-sekali kegiatan terhenti, karena harus membuka kamus terjemahan Inggris –Indonesia.
“Ugh, inilah akibat kursus bahasa Inggris hanya untuk dapetin sertifikat doank.” Gerutunya dalam hati, sementara tangannya sibuk membolak balik lembar kertas kamus, setebal bantal boneka anaknya.
“Ah coba di laman lain, ah….” Pikirnya makin ingin tahu.
“Hatred or fear of foreigners or strangers or of their politics or culture”
“Hemmm, politik dan budaya dari orang asing pun masuk dalam indikatornya ya?” bisiknya perlahan. Tangan kirinya bergerak perlahan mencari gelas teh hangat, yang sudah disiapkannya sebelum melakukan pencarian data pagi itu.
Suara menyeruput air teh, sedikit memecahkan keheningan subuh. Aliran teh hangat menelusuri kerongkongannya. Nyaman, namun pikirannya tidak.
Mulut perempuan berusia jelang 40 tahun itu kembali berkomat-kamit, membaca sebait kalimat.
Xenophobia is defined as “an unreasonalble fear or hatred of foreigners or strangers of of that which is foreign or strange. It comes from the Greek words (xenos) meaning “stranger”, “foreigner”, and (phobos), meaning “fear”.
Jemarinya melakuan kebiasaan lama, yakni mengelus-elus dagunya. Sesekali kepalanya terlihat sedikit miring. Bertanda ia sedang berpikir keras.
“Wah, dari bahasa Yunani, toh, kata Xeno berasal?” pikirnya. Sesaat kemudian ujung bibirnya sedikit naik, ada sedikit senyum meruncing di sana.
“Kog ya, aku jadi inget sodara jauhku yang bernama Seno, sih? Penyebutannya aja mirip, artinya pasti gak sama, ah….” Gigi geliginya muncul sekilas menyertai senyum, yang sayangnya lebih mirip seringai. Entah kenapa, di saat serius begini, malah muncul konsep sontoloyo menyamakan kata Xeno dengan Seno. Kepalanya menggeleng sebentar. Berusaha mengusir kekonyolan yang baru saja menggodanya.
“Klik!” Tetikusnya kembali bekerja.
Kali ini Oxford English Dictionary secara online dibukanya. Muncul kalimat, xenophobia include : deep-rooted, irrational hatred towards foreigners, unreasonable fear or hatred of the unfamiliar, especiallya people of other races.
Meski tak letih, namun perempuan itu meletakkan punggungnya pada kursi komputer. Lagaknya, ia mulai mencoba membentuk pattern atau cetakan pola pikir dalam otaknya, yang kalau tak rajin digunakan, dijamin akan sama dengan kondisi museum tua di kawasan Kota.
“Apa aku seperti itu ya?” Tanyanya pada diri sendiri. Senyap. Tak ada jawaban. Lalu, ia berdiri, perlahan berjalan menjauhi komputer di ruang kerjanya. Berjingkat sebentar. Entah, alasannya tak jelas, mengapa harus berjingkat di rumah sendiri?. Perlahan, dibukanya pintu kamarnya. Lampu temaran di kamar, tak membuatnya sulit untuk memandangi satu persatu wajah anak-anaknya.
Aura tenang bayi laki-lakinya yang berusia 4 bulan membuatnya tersenyum bahagia sebentar. Matanya terbiasa dengan remang kamar dan mencari wajah anak perempuannya. Anak perempuannya yang beberapa minggu lagi, akan berusia 4 tahun, tampak pulas dengan gaya tidurnya yang rusuh.
Tiba-tiba, tanpa dapat ditahannya, kilasan-kilasan frame cerita sehari-harinya muncul bertubi-tubi.
“Udah, Billa di dalam aja. Gak usah ikut Bunda. Cuma sebentar, kog, Bunda beli tahunya. Si tukang tahunya ada di depan. Kakak gak usah ikut-ikutan, ntar diculik tukang tahu itu.”
Adegan sesaat itu terjadi di malam hari, karena tukang tahu itu selalu menjual tahunya malam hari. Meski tahu jualannya si Tukang Tahu itu enak, tapi hati perempuan itu sering tak nyaman setiap kali laki-laki dewasa, dengan baju seadanya, berkulit hitam terpanggang matahari dan bahkan mungkin ditambah sinar bulan, berdiri menunggunya membayar tahu belanjaan. Laki-laki itu selalu menyapa anak perempuan kecilnya dengan ramah, jika putrinya berkeras hati untuk tetap melihat si Tukang Tahu.
Kali lain,
“Eh, kakak di dalam aja. Udah…, gak usah ikut-ikutan belanja sayur. Bunda gak suka kakak baek-baek sama laki-laki asing kayak tukang sayur itu. Awas, ntar kakak diambilnya lho….! Mau jauh-jauhan sama Bunda?”
Kalimat itu sekali-sekali muncul dari mulut si perempuan, ketika putrinya bersikeras ikut serta menemaninya belanja pada tukang sayur, yang rutin melintasi jalan di depan rumah. Penampilan si Tukang Sayur yang mirip si Tukang Tahu, membuatnya khawatir, terutama, setiap kali laki-laki dewasa itu mencoba menyapa putrinya dengan ramah.
Di kesempatan berbeda,
“Hush, gak boleh bicara ama orang asing, termasuk tukang ojeg, ya!” perintahnya dengan suara berbisik pada putrinya. Ketika putrinya yang sangat ramah itu menyapa si Tukang Ojeg. Lagi-lagi, sikap perempuan itu mendokrin putrinya, agar tak beramah-ramah pada laki-laki dewasa dengan penampilan, yang juga mirip si Tukang Tahu dan si Tukang Sayur.
Deg!
Rasa-rasanya ada yang tak beres pada dirinya. Tiba-tiba, pagi itu, hati si Perempuan yang juga berkulit tak putih, terasa penuh sesal.
“Duh, apa yang sudah aku lakukan? Apa aku sekedar berprasangka buruk pada penampilan laki-laki dewasa yang lusuh? 
Atau aku termakan berita-berita tentang penculikan serta perkosaan terhadap anak kecil, yang dilakukan oleh orang-orang asing di sekitar rumah? 
Terlalu khawatirkah aku akan berita  yang ada di televisi dan media massa lain tentang kejahatan orang dewasa terhadap anak kecil?
Ataukah aku mulai ketakutan tanpa alasan pada orang-orang asing yang sebenarnya berprofesi baik itu?” Pikiran perempuan tersebut berkecamuk. Rasa bersalah mulai muncul.
Perlahan, tangannya menutup pintu kamar. Tiba-tiba seperti muncul udara dingin di sekitar tubuhnya. Ada gementar kecil perlahan menyusup. Ia mulai waspada terhadap dirinya sendiri. Ada yang tak beres pada konsep buatannya mengenai orang asing.
Tak lama, ia kembali duduk di kursi di depan komputer. Tangannya mengelus tetikus, menggenggam dan mengarahkannya pada beberapa laman yang masih terpampang di layar.
Sebaris paragraf penjelasan mengenai karakter orang yang xenophobia muncul. Ia mendekatkan wajahnya sedikit maju ke arah layar. Memastikan mata dengan kacamata plusnya membaca dengan baik. Otaknya -lagi-lagi- mencoba mencerna tulisan dalam bahasa Inggris. Sedikit keluh muncul dalam hatinya, setiap kali harus bekerja keras menerjemahkan kalimat-kalimat asing itu. Namun dikalahkannya keluhan tersebut, demi harapan mendapat masukan positif bagi kesalahan yang mungkin telah dilakukannya.
“A xenophobic person has to genuinely think or believe at some level that the target is in fact a foreigner. This arguably separates xenophobia from racism and ordinary prejudice in that someone of a different race does not necessarily have to be of a different nationality. In various contexts, the terms "xenophobia" and "racism" seem to be used interchangeably, though they can have wholly different meanings (xenophobia can be based on various aspects, racism being based solely on race, ethnicity and ancestry). Xenophobia can also be directed simply to anyone outside a culture, not necessarily one particular race or people.”
Matanya melekat pada kalimat rasis dan prasangka yang muncul berdampingan dengan kata xenophobia. Meski masih kesulitan menelaah semua kalimat tersebut. Hatinya agak tidak tenang. Sebuah tanda tanya besar muncul di kepalanya.
“Apakah aku telah menjadi seseorang yang membentuk karakter xenophobia pada putriku sendiri? Am I already, a xenophobia maker?

***
Pamulang. Terinspirasi pada kisah diri sendiri.
Isi tulisan terdiri atas 1137 kata.
Definisi dan informasi mengenai xenophobia dikutip dari : sini, sana, situ, sebelah sana dan sebelah sini
Diikutsertakan pada lomba menulis bertema xenophobia, milik Liliput Berjilbab. 
Ditulis dengan perasaan penuh kekhawatiran, apakah aku salah faham dengan kata xenophobia? Rasis? Prasangka jelek? Aaaah, apa pun itu. Akhirnya aku jadi belajar banyak setelah menulis ini. 

[Catatan Ramadan] ASI – 15 : Nursing Room


Kalau aku sih nyebutnya ruang menyusui. 

Ada yang nyebutnya Nursery room (meski rasanya ini lebih kepada ruang perawatan bayi ya?) Sementara kalau Nursing room mirip artinya dengan Lactation room, yang artinya lebih kepada ruang private untuk ibu menyusui bayinya. 

Ruang menyusui bisa ditemui di Mal dan Rumah Sakit. Namun sejak beredarnya peraturan pemerintah yang mengharuskan perkantoran mensupport ASI eksklusif, maka sudah banyak perkantoran yang memiliki ruang menyusui (termasuk ruang untuk memerah susu, dan membersihkan bayi selesai pipis ataupun pup).

Nursing room yang paling jadi favoritku kalau ke Mal, adalah di Pondok Indah Mal 2 lantai 3, dekat dengan mushola yang terpisah laki-laki dan perempuannya. 

Kalau yang gak banget itu, nursing room yang di Citos. Gak tau sekarang ya, sejak gak nyaman dengan nursing room ya, aku memilih untuk tidak jalan2 ke sana kalau gak penting banget. 

Beberapa link terkait mengenai hal ini bisa dilihat di : 



InsyaAllah nanti di update lagi cerita ini ya.. Hari in mencuri waktu 30 menit untuk menulis ini langsung pada blog. Belum ketemu foto dan editan yang baik.

***

Pamulang, Hari puasa ke 15, baru pulang dari rapat orang tua dan guru di sekolah Kakak, sekaligus pembentukan badan koordinator kelas, sengaja melibatkan diri, soalnya kalau ada fieldtrip, hanya ortu yang aktif di Bakos, yang bisa mendampingi anaknya. Datang bersama Aam aja nih.. si Kakak jadwal kursus bahasa Inggris di Easy Reader.. :) 




Saturday, August 04, 2012

[Catatan Ramadan] ASI – 14 : ASI BASI?


Pernah gak dengar istilah ASI Basi?

Atauuuu pernah gak ketemu ama ibu-ibu yang menyusui, terus pas mau kasih ASI nya, terus bilang, “permisi mau ke kamar mandi dulu, mau buang ASI, yang awal ini ASInya basi.” ?

Aku sih belum pernah ketemu ibu yang membuat ASI dari Payudara langsung terus bilang ASInya basi, tapi kalau ibu yang membuang ASI dalam botolnya, pernah… Ya Saya sendiri.. hiks hiks.. (ini gara-gara asisten rumah tangga gak nutup freezer dengan bijak.. walhasil 10 botol ASI perahku semalaman tak terkontrol dengan baik.. dan ketika dipindahkan ke bagian bawah kulkas, aroma dan penampakannya sudah tak layak lagi deeeh... awalnya masih niat berikan ke dek Aam, tapi karena ragu dari freezer, ke kulkas bawah, lalu lewat 2 minggu, ya sutralaah, dengan airmata tertahan, aku buang seluruh ASI tersebut..:((( 

Anyway... 

Istilah ASI Basi itu aneh juga sebenarnya ya?

Ada yang bilang, ASI pertama kali keluar, namanya ASI basi, padahal itu kolostrum. *gubrak gak seeeeh? J

Ada yang bilang, kalau gak menyusui lama, misalnya harus pergi 1-2 hari dan babynya gak bisa ikutan, terus pas ketemu babynya lagi, katanya ASInya sudah basi. 
How comeeeee? Wong ASInya tertutup dan kedap udara dalam payudara ibunya… hehehe.. jelas gak basi donk… J

Jadi, kapan ASI Basi?

Yaaaa, kalau udah diperah ibunya, masuk botol dan diletakkan di luar kulkas, maupun di dalam kulkas. Naaaah.. bisa aja ntar ASInya jadi basi.

Kenapa?

Misalnya, kalau udah diperah, tarok dalam botol susu, terus gak diminum lebih dari sekian jam, nah bisa jadi nanti ASInya basi.

Oh iya, sekedar informasi, ASI perah merupakan ASI yang diambil dengan cara diperas dari payudara untuk disimpan dan nantinya diberikan pada bayi.

 ASI itu bentuknya tidak seperti susu sapi yang homogen, yang tidak terpisah lapisannya sampai kapanpun. Jika didiamkan beberapa waktu, ASI akan terpisah menjadi 2 lapisan. Lapisan atas akan terlihat lebih kental dibanding lapisan bawahna. Itu tidak berarti ASI telah basi. Cukup dikocok perlahan botol atau wadah ASI perah tersebut, hingga larutan ASI kembali membaur atau homogen kembali.

Pengalamanku  jika akan meninggalkan Aam dalam hitungan beberapa jam, biasanya memerah ASI dulu, lalu diletakkan dalam botol susu. Nantinya, jika Aam haus, Ayah atau Nyai-nya yang ada di rumah, akan memberikan susu itu, tentu dengan mengocok botol susu itu dulu. 

*Pagi ini, aku harus mengantar Billa sekolah karena lagi super rewel, lalu ada arisan bakos, ada kegiatan baksos, belum lagi ngecek seragam sekolahnya udah datang apa belum, ke bank bayaran uang sekolahnya.. huhuhu.. jadinya ribet. Karena ayahnya gak gitu bisa kalau diminta multitasking gini.. walhasil, aku pompa ASI 10 menit, dapat 90 cc, tarok di botol dan ayahnya yang kebagian jagain si Aam… hehehe.. Sayangnya waktu aku pulang 3 jam kemudian, ternyata si Aam baru bangun dan minum susu botolnya sama aku …. Huhuhu.. teteuuuup..:) hehehe

Berdasarkan informasi yang aku dapat, dari googling, dari brosur dokter dan dari beberapa majalah parenting, umumnya ASI tidak akan basi dalam waktu tertentu dengan penyimpanan yang benar.

Misalnya, ASI yang baru saja dieprah, akan tahan disimpan dalam botol tertutup dalam suhu udara ruangan sampai dengan 6 jam. Atau jika disimpan dalam thermos yang diberi es batu, akan cukup bertahan hingga 24 jam. Lain lagi jika disimpan dalam kulkas ataupun freezer. Bisa bertahan kisaran waktu 2 minggu, hingga 6 bulan.

2 minggu jika disimpan dalam suhu kulkas bagian bawah, sedangkan 3-4 bulan jika diletakkan di freezer yang tidak terpisah dengan kulkas bagian bawah, atau bisa 6 bulan jika diletakkan khusus pada freezer yang tersendiri.

Link terkait yang cukup informatif ada di blog ini. 

Jadi, gak ada kog ASI basi yang berasal dari payudara ibu langsung. Yang ada ASI basi yang merupakan ASI hasil perah dari ibu. ^_^

Tetap Semangat yaaa !!!


***

Pamulang, Puasa ke 14.. Ah sudah 2 minggu. Akhirnya bisa nulis juga siang ini, ditengah hiruk pikuk being a multitasking mom... huhuhu 
*Belum sempat diedit, belum nyari gambar dan belum nulis untuk artikel jabartoday.com. mana naskah xenophobia masih teronggok dalam bentuk draft... tunggu aku ya Lessy.. hihihi... (emak-emak ngotot nulis). 

Thursday, August 02, 2012

[Catatan Ramadan] ASI – 13 : Jadwal Menyusui (ASI vs SUFOR)

GAMBAR PINJEM DI SINI 


          Satu hal terkait pemberian ASI Eksklusif  dan perlu dipersiapkan secara mental oleh para ibu baru adalah ketentuan jadwal menyusui. Sependek pengetahuan dan pengalamanku, khusus untuk ASI, maka jadwal menyusuinya adalah ON DEMAND, alias sesuai kemauan bayi alias terserah pengennya bayi.

          Lho? Kapan itu terserah maunya bayi?  Ya sesuai permintaan bayi. Bayi akan menentukan sendiri seberapa banyak ia ingin minum ASI. Umumnya, bayi baru lahir akan sering minta disusui, meskipun waktu pemberiannya tidak lama.

          Berdasarkan pengalamanku, Billa dan Aam minum ASI dengan interval 2-4 jam di 3 hari pertama. Baru kemudian, setelah lewat hari ke 4, aku dan bayiku telah mulai saling menyesuaikan diri dalam proses belajar menyusui, secara perlahan tanpa disadari, terbentuk pola menyusui antara aku dan bayiku. Ini natural terjadi, seperti halnya naluri seorang ibu terbentuk dalam proses ini, sehingga tahu kapan bayinya lapar atau sekedar haus belaka.

          Bayi baru lahir yang mendapatkan ASI eksklusif akan cepat merasa lapar. Selain karena lambung mereka sangat kecil, sehingga harus diberikan bertahap (tidak sekaligus), juga karena ASI pada prinsipnya sangat mudah dicerna, dan mengakibatkan rasa lapar pada bayi.

          Yang pasti, jadwal menyusui pada bayi ASI eksklusif tidak bisa dibatasi atau dipatok dengan batas waktu jam. Selaparnya atau sehausnya bayi, maka ibu harus stand by atau siap untuk menyusui. Makin sering menyusui untuk memenuhi kebutuhan bayi,  makan makin banyak produksi ASI si ibu.

          Jika menilik yang terjadi pada anak-anakku, maka makin bertambah usia bayi, maka makin banyak jumlah ASI yang dihisapnya, dan biasanya bayi akan menghisap dalam waktu cukup lama, namun jarak waktu menyusunya jadi lebih jarang. Jika di hari-hari pertama, bayi akan menangis lebih sering karena lebih cepat haus dan lapar, maka makin bertumbuh bayi, maka selama ia kenyang, ia akan jarang menangis, dan jangka waktu minum ASInya bisa lama dengan interval waktu yang lebih berjarak.

Berikut ini adalah, info terkait rutinitas pemberian ASI, kukutip dari clubnutricia :

          Hari pertama : Bayi akan terlihat antusias minta ASI beberapa jam setelah lahir, setelah itu lebih banyak istirahat atau tidur lagi. Namun ibu harus rajin memberinya ASI beberapa kali dalam sehari. (Untuk hal ini, aku harus tega membangunkan Billa atau Aam ketika terlalu lama tertidur dan malas minum ASI)

          Hari ke 2  : Ibu dan bayi masih sama-sama belajar memahami kebiasaan masing-masing, maka sebagai panduan, berilah ASI setiap 1,5 jam hingga 3 jam sekali, atau sekitar 8 -12 kali menyusui dalam 24 jam.

          Hari ke 3 dan ke 4 : Pemberian ASI mulai rutin dilakukan, produksi ASI meningkat sehingga payudara ibu akan terasa penuh. Bayi akan tampak lebih kenyang karena mendapat cukup ASI. Perubahan ini dapat dipantau dari kotoran bayi.

          Hari ke 5 hingga ke 28 : Umumnya ibu dan bayi telah merasa nyaman dalam proses pemberian ASI. Rutinitas mulai terbentuk. Panduan 8 hingga 12 kali pemberian ASI dalam 24 jam, dengan interval waktu 10 hingga 30 menit di satu payudara, cukup sehat untuk ibu lakukan.

          Berbeda dengan pemberian ASI, maka jika bayi yang diberikan susu formula, akan lebih cepat kenyang, mengingat kandungan susu formula lebih kaya lemak ketimbang ASI. Sehingga jadwal menyusuinya pun tidak sesering pemberian ASI. Pemberian susu formula pada bayi juga dapat dengan mudah diberi jadwal. Umumnya, bayi diberi susu formula diberi dalam jarak interval 3-4 jam sekali dengan jumlah susu disesuaikan dengan berat badan bayi.

          Berikut beberapa link yang cukup menarik untuk dibaca, bagi ibu yang ingin tahu lebih banyak perihal jadwal menyusui dengan ASI, ataupun sekedar pembanding dengan susu formula. Selamat membaca…!

- Info tambahan mengenai menyusui bayi baru lahir. 

- info mengenai pembanding ASI dan SUFOR 

- info seputar tanya jawab pengalaman para ibu mengenai jadwal memberikan susu formula bagi bayi.

- info Tips menyapih anak di tahun pertama  


***

Pamulang, Puasa ke 13. Aku kog deg-degan dengan hari  ini ya? ^_^V 


Wednesday, August 01, 2012

[Catatan Ramadan] ASI 12 : Memilih RS/Klinik/Tenaga Medis Yang Pro ASI

gambar pinjem dari sini 

Ketika hamil si Kakak Billa, aku termasuk beruntung, karena selama konsultasi dan pemeriksaan kehamilan dengan dokter Yuslam Edy Fidianto, aku sering melihat pamflet, banner serta brosur terkait pemberian ASI, di kawasan Rumah Sakit Pondok Indah.

“Hemmm, berarti RS ini pro ASI”, pikirku.

Aku sekali-sekali menyempatkan diri, ngobrol dengan para susternya, tentang ASI bagi bayi yang baru dilahirkan, tentang tempat menyusui ASI serta tentang susu formula.

Kebetulan, beberapa suster yang kuajak bicara, rata-rata menyatakan mendukung ASI. Susu formula hanya diberikan jika kondisi bayi mengharuskan ada asupan tambahan. Tapi pada prinsipnya diupayakan untuk lebih mengutamakan ASI.

Bahkan, salah seorang suster senior pun berkata, “Dulu, RS ini tidak terlalu pro ASI, namun sejak 5 tahun terakhir (aku ngobrol di tahun 2008 – red), sudah pro ASI sesuai dengan standarisasi yang ditetapkan pihak management. Makanya, tidak ada susu formula yang menjadi sponsor di RS ini.”

Kuperhatikan juga, ruang kursus untuk ibu baru melahirkan, seperti kursus memandikan bayi, kursus memassage payudara, dan kursus laktasi.

Ketika Billa lahir, suster tidak melakukan apa pun, karena aku menyatakan akan ASI Eksklusif. Billa yang baru kususui 24 jam setelah aku operasi, tidak diberikan apapun oleh para suster, bahkan tidak air putih.

Alhamdulillah, ketika Billa kena billirubin demikian juga Aam, aku tetap memberikan full ASI, dan tak ada bantuan susu formula sama sekali. Tenaga medisnya pun tetap mendukung, meski ada satu dua suster yang tetap menawarkan memberi tambahan susu formula agar billirubin anak-anakku cepat turun. Namun, tetap kutolak. *erg, kalau dipikir-pikir, agak keras kepala juga aku ya. Hehehe

Kembali ke tema tulisan, mungkin ada baiknya, para ibu yang hendak melahirkan, mencari informasi untuk memastikan tempat yang diincar buat lahiran itu, sudah pro ASI atau tidak.

Pengalaman dari salah seorang keluargaku, setelah beberapa jama melahirkan, bayinya tidur tenang dan tidak rewel karena lapar. Ternyata, telah diberikan susu formula oleh susternya. Alasannya karena dianggap si ibu masih capek abis lahiran, jadi biar ibu tidak terganggu dulu. *tepok jidat!

Aku sudah feeling gak nyaman, waktu mendaftarkan kamar bagi sodaraku itu, aku diberikan paket “hadiah” dari pihak manajemen, dan sponsornya adalah susu formula bagi bayi. Dan ternyata benar, si bayi diberi susu formula.

Berbeda, jika paket hadiah dari pihak manajemen rumah sakitnya, disponsori susu juga, tapi susu ibu menyusui atau susu ibu hamil, atau makanan padat bagi bayi, kemungkinan untuk pro ASI masih bisa dipantau.

Tips dariku sih, diusahakan, melahirkan di mana pun juga, untuk sedikit berkeras atau berprinsip agar pihak medis dan tempat melahirkan mendukung ASI eksklusif. Bila perlu dinyatakan secara lisan/tulisan dan minta pihak medis untuk berjanji agar tidak memberikan apa pun pada bayi kita, kecuali ASI dari kita.

Resikonya? Ya jelas ada.

Kita sebagai ibu baru, harus belajar lebih cepat cara menyusui, tak boleh komplain apapun jika dibangunkan (karena ibu baru melahirkan cenderung cepat letih di 1-3 hari pertama) setiap bayi menangis karena haus/lapar, karena ASI eksklusif umumnya adalah ON DEMAND, alias menyusui sesuai kehendak bayi. Tidak diatur berapa jam sekali, seperti umumnya memberi susu formula.

Jangan tergoda untuk membiarkan pihak-pihak RS ataupun orang sekitar kita memaksakan susu formula, hanya karena kita ketakutan belum keluar ASI.

Lupakan rasa sakit paska melahirkan, karena ada bayi merah yang membutuhkan ASI kita.

Lupakan segala letih dan lelah, karena  ada anak, titipan Allah, yang kelaparan dan kehausan, dan hanya kita –satu-satunya- sumber makanan  mereka.

So, calon bunda sekalian… siapkan mentalnya untuk yang terbaik bagi anak-anak kita yaaa!

Tetap Semangat!

***

Pamulang, puasa hari ke 12. Senangnya bisa masakin sahur buat Bang Asis, setelah “cuti” seminggu kemaren. Hehehe