Saturday, July 28, 2012

[Catatan Ramadan] ASI-8 : Jaga Makanan

Aku memang bukan ahlinya, dalam urusan mengkorelasikan ASI dengan makanan. Namun ada kalanya, naluri atau feeling seorang Ibu, muncul, ketika terkait efek makanan yang dimakannya dengan kondisi bayinya.

Berdasarkan pengalaman pribadiku, ternyata ada korelasi antara jenis makanan yang seorang ibu menyusui makan, dengan bayi yang minum ASI dari dirinya.

Dokter anak yang menangani kelahiran Billa juga menyarankan agar aku tidak mengkonsumsi kacang-kacangan, ketika di hari 10, (Billa masih di RS dan aku sudah ngekost depan RSPI), ternyata wajah Billa merah-merah. Aku memang makan gado-gado siang harinya.

Boleh dibilang, selama menyusui Billa, aku harus ekstra hati-hati terhadap makanan dan minuman yang masuk ke perutku. Hingga usianya jelang 1 tahun, ternyata Billa cukup rentan terhadap kacang-kacangan, tomat, coklat, makanan yang pedas-pedas serta seafood.

Untuk kacang-kacangan, tomat, coklat dan seafood, efek alergi ke Billa langsung terlihat di wajahnya serta kulit tubuhnya yang langsung merah-merah dan berair. Gatal dirasakannya. Sehingga Billa cenderung rewel.

Sementara, terhadap makanan pedas yang kumakan, efeknya ke Billa, cenderung mencret dan pup nya sempat beberapa kali berdarah.

Menurut dokter sih, ini terkait juga dengan darah ibunya yang juga alergi seafood dan terasi. Aku menyukai dua jenis makanan tersebut, meskipun efek sampingnya adalah muncul bentol-bentol kecil berair di bagian kaki atau sekitar dekat telapak kaki.

Dulu, waktu masih SMP hingga menikah, sekujur kakiku penuh dengan bekas gigitan nyamuk, garukan bentol yang gatal dan luka-luka bekas garukan. Jorok banget, dan kesannya seperti kena “percikan bom” –itu istilah adek-adekku-. Kalau mertua bilangnya,”kurek” alias bekas koreng. Huaaa…

Tapi dulu aku gak gitu perduli. Tetep aja cuwek dengan kondisi kulit alergian seperti itu. Hingga akhirnya, setelah menikah, aku putuskan untuk mengurangi seafood dan terutama sambal terasi. Hasilnya memang sepadan, sudah 10 tahun terakhir ini, kakiku tak ada gatal-gatal dan bekas gatalnya pun tak ada lagi. Lumayan mulus. Hehehe

Nah, kembali ke cerita terkait bayi, karena aku alergian, maka kata dokter, kemungkinan besar, anaknya pun akan mengidap alergi juga, meskipun tak tahu alergi terhadap apa.

Ketika Billa pertama kali di rumah, Billa selalu bersin di pagi hari, ternyata ia alergi udara pagi dan boneka. Maka aku menyimpan semua boneka hadiah dari keluarga dan memandikannya di atas jam 8 pagi. Ini mirip dengan Mama dan adik-adikku yang alergi udara pagi, dan dijamin di rumah orang tuaku di Palembang, tiap pagi selalu ada irama bersin sahut menyahut. Hehehe

Setelah usia 6 bulan, bersin-bersin itu menghilang dengan sendirinya.  

Namun alergi terhadap makanan, masih terus terjadi, hingga usia 1 tahun. Makanya Billa baru kukenalkan dengan susu formula di usia 18 bulan. Untuk campuran makanan tambahannya, aku menggunakan ASI dan air putih.

Walhasil, selama setahun menyusui Billa, aku hanya makan nasi putih, daun katuk atau daun bayam di bening, dan ikan goreng lele. Aku bahkan tak berani makan telur ceplok. Khawatir pengaruhnya ke Billa. Setahun lho, aku hanya makan makanan jenis tersebut. Makanya aku gak heran, kalau Billa demen banget makan lele goreng dan sayur bening. Hehehe

Awalnya, aku tak begitu yakin, ada korelasi antara ASI dengan makanan, namun dokter anak yang kutemui, memberikan daftar makanan yang memicu alergi pada anak. Rata-rata seperti yang aku tulis di atas, yakni kacang-kacangan, makanan pedas, tomat, ikan laut dan lainnya. *aku kehilangan brosur dari dokter tersebut nih, mudah-mudahan ntar bisa ketemu lagi. L

Sebaliknya, dengan Dek Aam, aku yang mewaspadai kondisinya, khawatir seperti Billa. Maka hari-hari pertama, kuisi dengan jenis makanan yang sama dengan yang kumakan pada waktu menyusui Billa. Yakni lele goreng, nasi putih dan sayur bening.

Tapi aku bosan. Iseng aku cicip sambal bikinan Mama. Kutunggu reaksinya terhadap pup ataupun kondisi Aam. Gak ada masalah… Lalu perlahan, aku menyicipi jenis makanan lain, hingga ke cemilan coklat, teh dan seafood.

Sempat sih, Aam ngalamin gatal-gatal sekujur tubuhnya. Kembali kuatur makanannya hanya beningan, tapi ternyata Aam masih mengalami gatal. Akhirnya aku tukar sabun untuk mandinya, dari merek J ke merek Sebamed. Ternyata berhasil! Ternyata Aam “hanya” alergi pada jenis sabunnya. Sejak itu dia dipakein sabun Sebamed, hingga hari ini aman. Akupun nyobain jenis makanan lain lagi setelah itu.  

  Alhamdulillah,  ternyata Aam tidak mewarisi alergi seperti Billa. Aku bisa makan jenis apa pun selama dalam porsi wajar.

Aku coba makan kacang-kacangan dan coklat. Aam biasa aja.

Aku coba makan makanan yang pedas, Pup Aam normal dan Aam tetap tidur nyenyak.

Aku coba tomat, tak ada reaksi apapun pada Aam.

Asyiiiiik, berarti aku gak perlu diet jenis makanan nih selama menyusui Aam. ^_^V

Boleh dibilang, selama menyusui bayi, kita sebagai ibu, memang harus selalu waspada. Jangan anggap sepele merah-merah di wajah, atau sesak nafas ataupun pup yang berbeda warna atau berdarah yang dialami bayi. Bisa jadi itu pengaruh dari makanan si ibu.

Saranku yang paling penting adalah, di minggu-minggu pertama, makanlah jenis makanan yang aman, seperti sayur beningan, ikan air tawar serta daging. Untuk mengetahui bayinya alergi atau tidak,  pelan-pelan melakukan “percobaan” mengganti jenis makanan. Dan pada prinsipnya, jika makanan apapun dimakan dalam jumlah yang wajar, bukan berlebihan, misalnya sampe minum kopi atau teh bercangkir-cangkir sehari, atau makan coklat berbatang-batang, tentulah tak baik untuk bayi. Bayi bisa rewel, sakit perut ataupun alergi parah.

Jadi, para ibu sekalian, selalu waspada dengan jenis makanan yang masuk ke tubuh kita, karena bisa jadi ada pengaruhnya pada bayi, terutama jika bayi kita ternyata rentan atau alergi pada jenis makanan tertentu.

Berikut beberapa link informasi yang mungkin bermanfaat untuk dibaca :

1.    Fakta tentang Asi. 

2.    Pengaruh Makanan Pada ASI. 

3.    Tips Memperkecil Resiko alergi pada bayi.

4.  Artikel terkait alergi, untuk melihat korelasi antara anak dengan Ibu yang mengidap alergi juga.

5.    Cara mendeteksi alergi pada bayi.

6.    Tips mencegah alergi pada bayi. 

 

Semoga bermanfaat.

***

Pamulang, hari puasa ke 8. Ngantuk euy…. 

Friday, July 27, 2012

[Catatan Ramadan] ASI-7 : Baju Menyusui, Perlu Gak Sih?

Foto diambil di depan waterfall buatan di Guangzhou, aku pake baju menyusui lho.. 


Kalau gak gara-gara hamil, mungkin gak terpikir untuk memiliki baju menyusui ya? Hehehe…

Terus terang, ketika pertama kali menyusui, aku menggunakan baju daster dengan kancing bukaan depan. Meskipun pilihan warna menarik, serta berbahan kaos, ternyata ketika proses belajar menyusui, aku merasa tak begitu nyaman. Karena proses membuka kancingnya saja sudah lama, belum lagi daerah menyusui jadi sulit tertutupi…

Untungnya sih, selama proses belajar menyusui dan memberi ASI ini, berlangsung di ruang khusus menyusui di RS Pondok Indah, sehingga tak ada kaum hawa di sana. Cukup para emak-emak yang baru abis lahiran dan sama-sama belajar menyusui. Jadi gak gitu malu, kalau rada grogi atau terlihat tak  nyaman selama proses belajar menyusui tersebut.

Singkat cerita, akhirnya, aku pun mencari tahu perihal baju menyusui.

Tentu yang kutelusuri lebih dahulu adalah Online Seller di Multiply donk! Hehehe. Aku melihat seorang Mpers, sayangnya sekarang gak gitu aktif, Tria Yusa yang cantik , yang selain rajin ngeblog, juga menjual baju menyusui milik Milkyway. Aku coba beli satu dan ternyata cukup nyaman, meski harganya relatif gak murah. Hiks…

Akhirnya aku pun beli beberapa baju dengan varian bukaan serta model dan warna yang cocok untukku.

Berhubung aku menyusui cukup lama, nyaris 3 tahun. Aku juga sempat, minta dibuatin baju gamis dan baju untuk pergi pesta, sama Maya atau Bunda 3F dengan bahan dariku.

Sementara, untuk alternatif baju menyusui bahan kaos juga, sekarang ini, aku juga beli online dengan Mbak Tika (Yustika). 

Eits… jangan skeptis dulu dan bilang kalau aku promosiin Online Seller yaaa.. hehehe.. Toh tema tulisan hari ini, membahas penting gak sih baju menyusui?

Nah, kembali ke tema tersebut, ternyata, aku memang terbantukan sekali menggunakan baju menyusui ini. Sebagai perempuan yang menggunakan jilbab, rasanya tak cukup, menutupi proses menyusui ini hanya dengan jilbab saja atau apron. Boleh dibilang, menggunakan baju menyusui sangat membantu, terutama menghindari aku dari rasa segan atau malu, ketika si bayi menjerit-jerit minta ASI di mal atau tempat yang tak ada ruang menyusuinya.

Tak sekali dua kali, baik Billa ataupun Aam saat ini, meminta ASI di saat “tak tepat” bagi Bundanya. Hihihi.

Misalnya, ketika sedang makan siang di salah satu foodcourt yang tak ada ruang menyusui. Maka bermodal jilbab panjang, baju menyusui yang nyaman, bayipun akan tenang melakukan proses minum ASI, tanpa perlu orang lain tahu. “Selese” kata orang melayu… alias nyaman bagi si ibu, nyaman bagi si bayi. ^___^V

Jadi kalau ditanya, penting gak sih baju menyusui? Ya menurutku, penting banget ya…

Bisa bayangkan gak sih?, kalau pas pesta atau acara resmi keluarga besar, tahu-tahu bayi kita menangis minta ASI? Yaaaa, tetap bisa kog kasih ASI dengan pakaian yang dikenakan. Kalau pakai baju gamis tanpa kancing depan, ya angkat ampe atas bajunya, atau kalau pake kebaya, ya buka dulu kancing atau penitinya… hehehe Lumayan repot kan ya?

Nah kalau pake baju menyusui? Kan tinggal mojok doank berdua bayinya. Terus kasih deh ASInya, sambil kita ngobrol bareng suami atau nyambi makan cemilan. ^___^V 

*Pengalaman pribadi niiiih…

Emang sih, bisa aja komen, kalau udah tahu lagi menyusui, ngapain jugaaaa datang ke pesta-pesta…? Nah lho, kalau yang nikahan adik ipar? Atau sodara sepupu yang dekat banget? Atau kalau si ibunya sendiri bosenan di rumah, piye? Hehehe

Boleh dibilang, aku termasuk beruntung deh, hidup di jaman, manusia Indonesia nya kreatif bikin baju dan menjualnya dengan mudah. Aku gak perlu jalan keliling-keliling toko. Cukup dengan mencari di internet dan belanja deh… tapi syarat utama, teteuuup… belilah dengan smart, tempat OS yang dapat dipercaya, ukuran tubuh yang sudah terukur, dan jangan over budget yaaaa!

Oh iya, sekedar buat temen-temen yang gak yakin, kalau aku nyaman banget pakai baju menyusui, bisa lihat deh, foto-fotoku dengan tag  guang zhou, di seluruh foto tersebut, aku menggunakan baju menyusui. Dan sangat-sangat membantuku menyusui Billa selama di bus, taman, kereta api bawah tanah dan mobil. Tentu juga dibantu oleh si gendongan jarik alias gendongan batik. hehe

***

Ini beberapa toko online di luar MP, yang mungkin juga bisa dijelajahi tokonya : 

1. Toko MamaHamil

2. Toko MilkyWay

3. Toko Baju Hamil dan Menyusui

4. Toko Baju Menyusui 

5. Toko Baju Hamil yang modis 

6.  Toko Momsmiracle 

7.  Toko rekomen dari Anne 


ssst,.. aku gak dibayar sedikitpun ataupun tidak dikasih diskon lho oleh toko-toko di atas. Hanya membantu mempermudah mencarikan linknya saja. Dari banyak toko di atas, aku hanya pernah nyoba belanja di Milkyway. Pada akhirnya, aku lebih nyaman beli OS di MP, apalagi kalau ownernya aku cukup kenal, meski belum pernah ketemu. Hehehe 


***


Pamulang, hari ke 7, Kangen kumpul keluarga nih… hiks hiks.. 

Thursday, July 26, 2012

[Catatan Ramadan] ASI-6 : Apa Itu Kolostrum?

gbr pinjem di sini 

 

Alkisah, di beberapa daerah di Indonesia, ternyata ada kebiasaan membuang cairan susu pertama yang keluar dari payudara seorang ibu yang baru melahirkan. Kebiasaan ini,  menyebutkan kalau cairan yang pertama keluar itu adalah “sisa darah kotor” atau “susu kotor” sehingga bayi akan sakit jika meminumnya.

 

Aku sampai merinding membaca berita ini. Padahal, kolostrum adalah cairan emas. Karena ia mengandung antibodi dan nutrisi yang sangat banyak bagi bayi.

 

Aku pribadi bersyukur, termasuk ibu yang “melek” urusan ini. Bisa jadi faktor kemudahan informasi, faktor umur ketika hamil (9 tahun menanti anak, cukuplah menjadi modal mendapatkan banyak informasi, hehehe) serta faktor dukungan keluarga besar. Membuatku ketika melahirkan Billa (meski premature) tetap bisa memberikan cairan emas itu padanya.

 

Awalnya memang aneh, kog ASI yang keluar warnanya tak seperti umumnya ASI dan juga sangat sedikit. Ternyata oh ternyata.. itulah kualitas dan kuantitas kolostrum. Jumlahnya sangat sedikit dan warnanya kekuningan serta kental. Produksi kolostrum hanya terjadi di beberapa hari pertama saja (maksimal hingga hari ke-empat). Apapun kondisi melahirkannya, baik normal ataupun caesar, cairan emas ini tetap akan dihasilkan oleh seorang ibu.

 

Setelah lewat beberapa hari, barulah digantikan oleh cairan ASI yang selama ini kita kenal berwarna bening hingga putih susu.

 

Berdasarkan buku Seri Ibu dan Anak : Menyusui Bayi Anda (Karya Heather Welford) halaman 25, dijelaskan bahwa Payudara memproduksi kolostrum, cairan yang bernilai tinggi, kaya akan antibodi, untuk memenuhi kebutuhan bayi. Cairan ini juga mengandung zat-zat laksatif dan membantu bayi mengeluarkan kotoran. Cairan ini mempersiapkan sistem pencernaan untuk menghadapi ASI dan antibodi yang dikandungnya memberikan perlindungan unik melawan risiko yang ada di lingkungan barunya—dunia luar.

Warna kolostrum bervariasi, mungkin kental menyerupai krim atua lebih encer dan kuning pucat seperti benang, transparan atau berwarna gading. Biasa juga disebut “Cairan Emas”

 

Berikut, beberapa link terkait informasi mengenai kolostrum :

- Apa itu Kolostrum? 

- Susu istimewa untuk bayi baru lahir.

- Mengenal sejuta manfaat kolostrum. 


Demikian, semoga bermanfaat. 


***

Pamulang, hari ke 6 puasa. Hari pertama Kakak Billa masuk sekolah lagi nih!

Wednesday, July 25, 2012

[Catatan Ramadan] ASI-5 : Ketika Rasa Sakit Mendera

Billa lagi demen gigit-gigit, usia 7 bulan. 


Masa yang menguji ketahanan dan kesabaran seorang ibu, yang baru belajar menyusui adalah, fase ketika ASI belum banyak keluar, sementara produksi ASI telah terjadi. Maka pembengkakan di daerah payudara itu sangat menyiksa.

 

Aku pribadi mengalaminya di hari ke tiga pasca operasi caesar. Sementara salah seorang tanteku bercerita, pernah mengalami yang namanya Mastitis, atau radang kelenjar susu. Tanteku sampai ke dokter dan diberi pengobatan.

 

Ketika terjadi pembengkakan, salah satu tips yang diberikan oleh suster, di RS tempat aku melahirkan, adalah dengan melakukan massage pada daerah tersebut (dengan menggunakan minyak zaitun), mengompresnya dua tiga kali sehari, atau ketika mandi, dengan menggunakan handuk kecil. Gonta ganti pakai air hangat dan air dingin. Ini sangat membantu mengurangi pembengkakan dan rasa sakit.

 

Aku cukup rajin melakukannya ketika melahirkan Billa. Selain memang karena sering dipompa (Billa masih di RS, sementara aku sudah keluar RS, sehingga harus menyetok ASI demi niat ASI eksklusif), juga karena aku baru pertama kali punya anak. Jadi pelajaran yang diberikan para suster cukup lengket di kepalaku.

 

Akibat menggunakan pompa ASI, maka lecetlah yang kudapat. Deuuuuh kalau lagi menyusui, nyerinya minta ampun. Salah satu tips, yang kupakai untuk mengurangi rasa perih adalah mengeluarkan sedikit ASI sebelum dan sesudah menyusui, dan melumurinya pada puting dan sekitarnya. Lumayan mengurangi rasa sakit dan cepat menyembuhkan, karena daerah tersebut jadi lembab dan tidak kering.

 

Kalau sekarang sih, aku tidak serajin itu lagi. Hanya sekali-sekali massage, namun tetap melumuri ASI pada daerah putting sebelum dan sesudah menyusui Aam. Mungkin karena sudah punya pengalaman menyusui Billa, ditambah tak harus menggunakan pompa, aku tidak mengalami rasa sakit yang berlebihan, ketika menyusui Aam. Alhamdulillah.

 

Fase sakit berikutnya, yang mungkin menguji tingkat kesabaran, adalah ketika si bayi mulai tumbuh gigi. Deuuuh ngebayanginnya aja aku udah ngilu dan merinding. Gigitan bayi yang gusinya gatal karena mau tumbuh gigi, ditambah uji coba si bayi dengan menggigit ketika minum ASI, benar-benar menguji kesabaran dan daya tahan ibu terhadap rasa sakit.

 

Terus terang, dulu, aku sempat marah juga ketika Billa sambil ketawa-tawa, menggigitku. Bahkan pernah, aku melepaskan Billa yang sedang menyusu, dan meninggalkannya detik itu juga, dan aku pergi sambil menjerit kesakitan.

 

Ibuku memang sudah memperingatkanku soal ini. Tapi aku tak pernah menyangka bahwa sakitnya nggak main-main. Hehehe.

 

Terhadapa Billa, aku suka memencet hidungnya jika ia menggigitku dengan sekuat tenaganya. Heheheh, berhasil juga membuatnya melepaskan gigitan. Kadang-kadang dengan bujukan juga bisa mempan, meski aku membujuknya dengan wajah meringis menahan sakit.

 

Entahlah kalau si Aam ini nanti ya? hiks…. Mudah-mudahan gak bikin aku naik darah karena kesakitan. Hehehe

 

Demikian, salah satu fase perjuangan jadi Ibu support ASI nih…

 

***

 

Pamulang, Puasa ke 5, bangunnya kesiangan nih. Hiks… 

Tuesday, July 24, 2012

[Catatan Ramadan] ASI-4 : Kondisi “Lebay” Di Awal Pemberian ASI

gambar pinjem di sini 


Mungkin saja, yang kualami ini tidak sama dengan yang dialami oleh ibu-ibu yang baru menyusui pertama kali. Bahkan dapat pula, reaksi si ibu terhadap kelahiran masing-masing anaknya berbeda.

Ketika aku menyusui Billa, fase empat hari pertama menyusui adalah fase tersulit. Aku tak menyangka bahwa aku akan terkena sindrom Baby blues.

Baby Blues Syndrome (sering juga dikenal sebagai postpartum distress syndrome) ini merupakan perasaan sedih atau gundah yang dialami oleh seorang ibu setelah melahirkan. Umumnya perasaan “lebay” ini berlangsung tak lebih dari 2 minggu. Bisa saja hanya beberapa hari, seperti yang kualami. Jika lebih dari 2 minggu, berarti udah termasuk dalam kategori Depresi atau postpartum depression.

Di salah satu link yang memberikan info sehat, menjelaskan beberapa gejala baby blues syndrome, di antaranya:

1.    Menangis tanpa sebab yang jelas

2.    Mudah Kesal

3.    Lelah

4.    Cemas

5.    Tidak Sabaran

6.    Enggan memperhatikan si Bayi

7.    Tidak percaya diri

8.    Sulit beristirahat dengan tenang

9.    Mudah tersinggung


Jika, seorang ibu yang baru melahirkan dan dalam proses memberi ASI bagi anaknya, kemudian mengalami beberapa gejala seperti itu, maka dapat dipastikan, si ibu mengalami baby blues syndrome.


Aku pribadi, awalnya tak percaya kalau kondisi ini akan mampir padaku. Penantian panjang terhadap Billa selama 9 tahun, rasa-rasanya tak mungkin mengakibatkan aku jadi “lebay”. Aku merasa sudah mempersiapkan diri sedemikian rupa berbulan-bulan.

  Namun faktanya, jumlah ASI yang tak langsung banyak, proses belajar memberi dan menerima ASI antara aku dan Billa yang tidak langsung nyaman, serta rasa sakit pasca operasi caesar, mendukung munculnya perasaan tidak percaya diri, aku pun sulit beristirahat dengan tenang, lelah dan ujung-ujungnya menangis tersedu-sedu tanpa sebab yang jelas.

  Aku mengalami fase ini di hari ke dua hingga ke empat, pasca operasi. Aku ingat betul, ketika aku menangis tersedu-sedu, aku bilang ke suamiku, “Bang, jangan marahin Dian ya…. sepertinya Dian bukan ibu yang baik. Sepertinya Dian mengecewakan Billa, karena ASI Dian sedikit sekali keluarnya,” dan kalimat selanjutnya sudah tak jelas, karena aku sudah meraung menangis tersedu-sedu di dalam kamar RS.

  Bang Asis waktu itu hanya mengelus-elus punggungku, dan menarik tubuhku untuk mau dipeluknya. Dia tak banyak bicara. Namun keberadaannya, pelukannya dan tarikan nafasnya yang turut menandakan ikut prihatin, sedikit mengobati rasa gundahku.

  Bang Asis juga tidak mengomeliku sama sekali.  Dia hanya bilang, “Kita kan sudah lama menanti kehadiran anak, rasanya tak bersyukur sekali, jika kita mengeluh akan kondisi yang ada. Jika Dian tak nyaman, banyak-banyak istigfar saja. Ada Abang di sini.” Terus terang aku tak ingat detail kalimatnya, namun kurang lebih seperti itu yang dikatakan suami padaku. Rasa khawatir dicap sebagai ibu yang kurang baik pun luntur  perlahan.

  Memang butuh waktu 1-2 hari kemudian bagiku untuk membangkitkan rasa percaya diri dan aura positif di diri ini.

 

Bagaimana caraku mengalahkan baby blues?

 

Selain curhat dengan suami dan juga memperbanyak baca zikir, aku pun bersikap “seperti orang gila”, ngomong sendiri di depan cermin. Aku bilang…. “aku, ibu yang baik, aku pasti menghasilkan ASI yang cukup bagi Billa dan aku pasti mampu mengurus Billa dengan baik, seperti ibu-ibu yang lain.”  Kalimat itu  kuulangi terus, sambil memassage payudaraku yang membengkak karena sepertinya produksi ASI mulai muncul. Setiap kali bercermin, aku melemparkan senyum terbaikku untuk diriku sendiri, dan menganggukkan kepala, seolah-olah hari ini adalah hari yang terbaik untuk memberikan ASI.

  Aku lakukan semua di kamar mandi lho…. Soalnya malu juga kalau inget kelakuan itu. Tapi outputnya lumayan bagus, kog. Aku jadi makin percaya diri, meskipun Billa tidak cepat bertambah beratnya, namun mentalku sebagai ibu baru sudah lebih tertata dengan baik.

  Berbeda dengan kelahiran Aam, aku sama sekali tak mengalami baby blues. Kalaupun ada gejala kecapekan ataupun mudah tersinggung, itu lebih disebabkan kondisi di sekitar waktu itu. Tak lama aku merasakan hal ini. Karena segera aku pakai jurus “anti lebay” di depan cermin. Hehehe.

 

So, buat para ibu muda yang lagi menyusui atau akan menyusui, tak perlu khawatir dengan kondisi “lebay” ini. Ada solusinya dan bujuklah suami untuk selalu membantu menetralisir keadaan dengan mendukung kondisi kita. insyaAllah, “lebay”nya bisa berkurang atau hilang.

 

***

 

Pamulang, puasa hari ke empat, alhamdulillah bisa bangun untuk manasin lauk buat makan sahur suami yang bersiap berangkat ke offshore lagi hari ini. 

Sunday, July 22, 2012

[Catatan Ramadan] ASI-3 : Lain Anak, Ya Lain Cerita


          Kali ini aku hanya ingin berbagi cerita, mengenai pemberian ASI pertama kali untuk Kakak Billa dan untuk Dek Aam. Lain anak, emang lain pengalamannya ya?

          Mungkin sebagian besar teman di MP sudah pernah baca, kalau Billa sebenarnya memiliki saudara kembar. Yup, Allah berbaik hati padaku dengan memberikan dua janin dalam rahim dan berjenis kelamin laki-laki dan perempuan, setelah menanti 9 tahun lamanya. Allah juga yang Maha Paling Tahu dengan kondisi diriku, sehingga anak yang dititipkan kepadaku dan suami hanya satu orang, perempuan, yang dilahirkan dalam kondisi premature (33 minggu).

          Singkat cerita, aku melahirkan Billa dan almarhum Miftah secara caesar pada tanggal 30 Agustus 2008. Miftah sendiri sudah meninggal (diperkirakan)  pada tanggal 29 Juli 2012 (sebulan sebelumnya). Pasca operasi yang berlangsung pada jam 11.30 malam itu, aku cukup lama mengalami “tidur” karena obat bius, meski waktu operasi, aku dibius lokal saja.

          Nyaris 24 jam kemudian, aku baru belajar untuk duduk. Itupun karena komentar dokter anak yang cukup keras. “Katanya mau ASI Ekskslusif, harusnya sudah bisa berjalan menuju ruang intermediate untuk menyusui anaknya.” Demikian kalimat sang dokter kepada Bang Asis ketika membesuk Billa. Akibat kondisi premature dan ada masalah sedikit pada pernafasan dan pencernaannya, Billa diletakkan di ruang intermediate (lebih ringan ketimbang di NICU). Sehingga jika mau menyusui, aku harus datang ke ruang tersebut.

          Dengan perjuangan yang kuat, karena masih mengalami rasa sakit dan masih memakai kateter, aku diantar oleh suster dan Bang Asis, dengan menggunakan kursi roda menuju ruang intermediate.

          Sesampai di sana, aku tertegun melihat kondisi Billa. Karena tubuh Billa penuh kabel dan selang. “Duh, bagaimana cara menyusuinya?” pikirku ragu. Tanganku menggenggam erat tangan Bang Asis. “Dian takut, Bang. Bisa gak ya?” bisikku pada Bang Asis. Bang Asis tersenyum dan meyakinkan aku, bahwa aku pasti bisa belajar menyusui Billa.

          Ketika suster memberikan Billa kepadaku, rasanya tangan ini gemetar minta ampun. Aku takut sekali menjatuhkan Billa yang mungil, karena beratnya kurang lebih 2 kilo saja. Apalagi selang dan kabel di tubuhnya, plus suara mesin di sekitarnya, membuat jantungku berdegup makin kencang.

          Perlahan aku mencari posisi yang “nyaman”, dengan tetap memakai kateter, memeluk Billa dengan sesantai mungkin. Aku khawatir Billa tahu kalau aku “ketakutan”. “Assalamualaikum, Billa… Ini Bunda. Kita sama-sama belajar memberi dan minum ASI, ya Nak,” sapaku perlahan. Billa terlihat masih tertidur. Gerakannya halus sekali, sehingga aku tak yakin, apakah Billa mau menyusui atau tidak.          

          Tengah malam menjelang dini hari, Aku dan Billa sama-sama belajar memberi dan minum ASI. Peluh mengalir perlahan di punggungku. Aku tak yakin, apakah karena kondisi ruang intermediate yang suhunya diatur agar terasa hangat atau karena kekhawatiran hati ini?

          Alhamdulillah, sebagai bayi yang lahir premature, Billa termasuk bayi pintar yang segera mampu menghisap dengan baik. Suster yang menjaga memuji kondisi ini. Dokter anak yang kebetulan hadir malam itu pun memberi reaksi positif atas keadaan ini, karena ternyata, tak banyak bayi premature yang langsung mampu menghisap ASI dengan baik.

          Ah, aku merasa makin percaya diri. Kondisi Billa yang sedikit “menyulitkan” untuk menyusui, tak menjadi halangan bagiku untuk terus memompa keyakinan, bahwa ASI ku pasti keluar. Billa ternyata sangat membantu “mengajariku” untuk bersabar dalam belajar memberi ASI.

          Sejak malam itu, meski Billa tidak rakus kala menyusu, perlahan berat tubuhnya naik. Walaupun banyak pihak yang “membujuk” agar Billa dibantu susu formula karena lambatnya berat badan Billa naik, aku tetap bertahan untuk ASI eksklusif. Padahal Billa juga kena billirubin di atas score 20. Akhirnya setelah 28 hari, Billa menginap di RS Pondok Indah, aku pun membawa pulang Billa dengan berat 2,4 kilo, dan score billirubinnya kurang dari angka 10.  

          Akupun terus memberikan ASI, hingga lulus ASI Eksklusif. Proses pemberian ASI terus berlangsung hingga usia Billa 2 Tahun 10 bulan. Hehehe.. Lama ya?

          Tak lama setelah aku berhenti memberi ASI, Allah pun dengan kasih sayangNya memberikan kepercayaan padaku dan suami untuk menjaga seorang anak lagi. Alhamdulillah, jika Billa dan almarhum Miftah harus kudapatkan melalui proses yang panjang dan menyakitkan, maka kehadiran Dek Aam justru diluar dugaan. Tanpa terapi, aku hamil.

          Kelahiran Aam juga tidak berlangsung semulus yang aku harapkan. Aku berharap dengan jarak usia 3,5 tahun dengan Billa, aku dapat melahirkan secara normal. Semua dokter yang kutemui, sangat mendukung pilihanku untuk melahirkan secara normal. Namun Allah Sang Maha Menetapkan, telah memutuskan agar aku kembali dioperasi caesar.

          Kepergian Papaku secara mendadak, membuat kondisi mentalku drop. Posisi Aam di minggu 37 sudah masuk ke dalam panggul, namun aku terlalu sering menangis dan merasa letih batin. Aku tak yakin memiliki semangat yang sama lagi seperti sebelumnya. Meski aku tahu ini tak baik, tapi kepergian Papa benar-benar memukul hatiku. Apalagi Papa pergi di hari yang seharusnya Papa bertemu denganku di Jakarta.

          Jika kelahiran Billa tidak diprediksi, karena keburu kontraksi dan bocor ketuban, maka kelahiran Aam, benar-benar direncanakan tanggal kelahirannya. Aku pilih minggu ke 38, tepat tanggal 20 Maret 2012, aku melahirkan Aam dengan kondisi sangat prima. Tekanan darahku stabil. Aku menjalani operasi caesar di pagi hari.

          Aku cukup cepat mengalami fase sadar pasca operasi. Merasakan sakit pasca caesar juga lebih cepat. Namun karena ini pengalaman operasi yang ke dua, aku cukup percaya diri akan kondisiku.

          Sama seperti waktu melahirkan Billa, akupun berpesan pada suster untuk memberikan ASI eksklusif. Kali ini, karena kondisi Aam baik, dengan berat 3,2 kilo dan panjan 47 cm (berbeda dengan Billa yang lahir 2 kg dengan tinggi 43 cm), aku tak perlu menemui Aam di ruang bayi.

          Aku ingat betul, sekitar 4-5 jam pasca melahirkan, suster datang menemuiku dengan menggendong Aam. “Halo Bunda, ini baby nya datang. Mau mimik ASI. Yoook, kita ambil posisi untuk kasih dedeknya minum ASI.” Kata suster jaga, disela-sela teriakan menangis kelaparan milik Aam.

          Aku sempat kaget. Waduh gimana posisinya nih? karena aku belum bisa duduk, masih pakai infus dan kateter. Kondisiku masih belum pulih 100 %. Namun aku coba tenang, aku harus ingatkan diri, bahwa ketenangan hati akan membuat nyaman diri, sehingga ASI insyaAllah dapat diproduksi dengan baik.

          Akhirnya, Aam diletakkan disamping tubuhku, aku dibantu suster dan Bang Asis mengambil posisi tidur agak miring sedikit, dan mencari kenyamanan senyaman mungkin untuk memberi ASI.

          Subhanallah, Aam pintar sekali minum ASInya. Tak perlu berlama-lama,  Aam langsung mencari sumber ASI dan segera menghisapnya dengan baik. Aam betul-betul kelaparan, karena terasa sekali kolostrum yang kuproduksi, dihisapnya dengan lahap. Proses minum ASI pertama kali ini berjalan kurang lebih  hampir satu jam, serta sangat lancar. Aku tak mengalami fase baby blues, tak ada perasaan khawatir tentang kecukupan ASI dan sangat percaya diri akan kondisiku.

          Meski, ternyata sama seperti Kakaknya, si Aam memiliki score billirubin yang cukup tinggi, yakni angka 16. Sehingga aku harus lebih semangat dan sering lagi memberikan ASInya. Seorang suster sempat menyarankan, “Bunda, gak dibantu susu formula saja, supaya score billirubinnya cepat turun?”. Aku langsung menggelengkan kepala. “Meskipun saya tahu, score billirubin akan lebih lama turun jika minum ASI, saya tetap pilih ASI, Suster. Kakaknya dulu scorenya malah di atas 20, dan saya tetap memberikan ASI tanpa bantuan susu formula sekalipun.”

Aku terdengar sangat gigih ya? Itu tak lain, termasuk salah satu caraku menguatkan hati untuk memberikan yang terbaik untuk Aam. Aku ingin Aam cepat sehat, namun tetap minum ASI. Toh, aku cukup beruntung, karena alhamdulillah, biaya rumah sakit diganti kantor Ayah anak-anak, jadi aku tak perlu pusing memikirkan biaya, cukup fokus memberikan ASI untuk Aam. Itu saja tekadku waktu itu.

Aam hanya 10 hari di rumah sakit, Ia keluar dari rumah sakit dengan berat hanya 3 kilo saja, billirubin masih score 12, namun sudah dikhitan. ^_^V.

 Sampai saat aku menulis di blog ini, Aam masih menjalani ASI eksklusif, insyaAllah hingga bulan ke 6 (sekitar tanggal 20 September 2012) nanti. Berat Aam sekarang hampir 7 kilo di usianya 4 bulan. Senyum lebar selalu menghiasi wajahnya setiap kali aku menyapanya, untuk mengajak minum ASI. Mudah-mudahan Aam lulus ASI ekslusif dengan baik, serta terus mendapatkan ASI hingga 2 tahun. Amin.

 

***

Pamulang, hari ke tiga puasa. Kecapekan beresin kamar depan, membuat aku gagal bangun untuk menyiapkan sahur. Hiks hiks.

[Catatan Ramadan] ASI-2 : Salah Satu Ciri Ayah Yang Baik, Yaaa Yang Breastfeeding Father… ^_^V

foto Ayah menggendong Billa usia 7 bulan


Sebelum bercerita tentang alasan diperlukannya “Ayah Menyusui” dalam kegiatan memberikan ASI pada anak tercinta, aku ingin sedikit berbagi informasi, bahwa dalam kehidupan dunia binatang, sebagai jenis mahluk ciptaan Allah yang lebih bodoh dari manusia pun, ternyata kondisi “Ayah Menyusui” ini ada dan mungkin bisa menjadi contoh teladan buat para manusia, yang bertittle Ayah.

Kita lihat, bagaimana Kuda Laut jantan “mengandung” anak-anak mereka dan “melahirkannya” dengan telaten. Tak jarang, jika salah dalam memilih wilayah lautnya, mereka dapat terseret arus yang deras. Demikian juga burung pinguin jantan, yang dengan hati-hati menjaga satu butir telur milik istrinya, setia menjaga dan menanti kelahirannya dengan penuh kasih sayang.

Rasa-rasanya, wajar toh, jika akhirnya, seorang istri yang akan berniat memberikan ASI eksklusif pada bayinya, meminta suami menjadi anggota team dalam urusan memberikan ASI ini?.

Lalu, bagaimana caranya?

Ooooh, banyak banget cara menjadi Breastfeeding Father ini. Mulai dari ikut serta dalam mempelajari tips dan trik menyusui yang dilakukan oleh calon ibu, menemani istri serta bergantian menjaga si bayi sampai melakukan massage pada punggung ibu untuk membuat relaks ibu sebelum ataupun setelah menyusui.

Seorang Ayah bisa menggendong bayinya setelah diberi ASI, menegakkan posisi tubuh bayi dalam gendongan, memeluknya, hingga perut bayi terasa nyaman di dada sang Ayah, hingga akhirnya bayi “atep” atau “bersendawa” untuk melegakan perutnya. Ini juga salah satu kegiatan yang dilakukan Breastfeeding Father.

Karenanya, ketika pertama kali mengetahui diri ini sedang hamil, aku dan suami bersepakat, untuk saling mendukung dalam urusan memberi ASI untuk anak-anak kami kelak.

Aku ingat sekali, ketika menjelang melahirkan Billa secara caesar, aku bilang ke suami, “Yah, nanti, kalau pas udah lahiran, dan Dian mendadak mellow atau sedih-sedih gitu, jangan diomelin ya…? Tolong bujukin Dian untuk tetap semangat memberi ASI.”

Bang Asis hanya menganggukkan kepalanya. Dan, aku bersyukur sekali, anggukan kepalanya itu tidak sekedar basa-basi saja. Namun Bang Asis betul-betul terlibat secara fisik dan emosi dalam perjuangan memberi ASI.

Ketika harus mengantarkanku pertama kali memberi ASI ke Billa, 24 jam pasca operasi caesar, aku masih kesakitan, tertatih-tatih  berjalan menuju ruang intermediate. Ruang tempat Billa diletakkan dalam kotak kecil dengan beberapa alat serta kabel di tubuhnya.

Aku masih menggunakan kateter, didorong menuju ruangan. Aku sempat tertegun melihat kondisi Billa, air mataku menetes. Aku mencoba menarik nafas panjang. Rasa khawatir menelusuri sekujur tubuhku. Bang Asis sepertinya tahu, dan ia segera menyentuh punggungku, mengelusnya perlahan dan berbisik “InsyaAllah, Bunda pasti bisa menyusui Billa. Kan kita sudah sepakat untuk memberikan ASI eksklusif untuk Billa.”

Aku terhibur dan memberanikan diri mendekati Billa. Menerima Billa dalam gendongan dan belajar memberikan ASI pertama kali, dengan Bang Asis duduk di sebelahku, mengelus tengkuk dan punggungku, sembari terus menghibur dan meyakinkan bahwa aku adalah ibu yang pasti bisa memberikan ASI untuk Billa.

Sikap Bang Asis, yang sangat mendukung proses pemberian ASI , juga ditunjukkannya dengan membelikan aku berbotol-botol air mineral, ikut bangun di tengah malam, jika aku harus berjalan ke ruang menyusui (Billa tidak rooming in karena kondisinya yang premature), melakukan massage pada bagian punggung hingga tengkukku, sehingga terasa lebih relaks akibat ketegangan pada bagian tersebut karena posisi menyusui yang baru dalam tahap belajar.

Ada satu peristiwa penting, yang membuatku sangat berterima kasih pada Bang Asis. Yakni ketika aku sedikit mengalami sindrom baby blues di hari ke 2 dan 3 pasca melahirkan. Aku merasa sangat terpukul karena ASI yang kukeluarkan sangat sedikit. Meskipun tahu itu adalah kolostrum, namun ada perasaan terluka dan sedikit “lebay”, seolah-olah aku bukan ibu yang baik.

Aku menangis tersedu-sedu di kamar. Mengoceh tak keruan dan berbicara tentang diriku  bukan ibu yang baik. Aku mengomeli diri sendiri hingga berurai airmata karena merasa tak sanggup memberikan ASI dan tak mampu menjaga Billa. Aku merasa telah mengecewakan anakku. Ah, kalau aku ingat-ingat, rasanya lucu dan memalukan sekali sikap itu. Namun itulah yang terjadi.

Bang Asis memelukku dengan erat, sembari terus membisikkan kata-kata memberi semangat. “Tak apa-apa menangis, jika memang Dian capek. Tapi tidak berarti Dian menyerah dan tak memberikan ASI untuk Billa. Anak ini sudah kita tunggu kehadirannya selama 9 tahun. Jika 9 tahun saja kita bersabar, tentu sekarang kita pasti lebih bisa sabar menunggu ASI Dian makin banyak.” Demikian diantaranya nasehat Bang Asis padaku.

Aku bahkan sempat bilang, “Ayah jangan marahi Dian ya kalau Dian nangis dan capek batin gini. Capek banget hati Dian, belum lagi ASI nya dikit, sakit dan bekas operasi caesar ini bikin gerakan Dian jadi terbatas.” Aku terus mengeluh. Bang Asis mengangguk-anggukkan kepala sembari terus mengusap-usap punggungku.

Moment itulah yang membuatku sadar, bahwa aku harus terus semangat memberi ASI. Bang Asis tentulah ikut capek. Jadi aku harus bisa menjadi anggota team yang baik. 

Alhamdulillah, di hari ke 3, ASIku mulai keluar dengan baik. Di sini aku mengenal istilah “ASI itu cukup untuk bayi”, bukan “ASI nya banyak atau sedikit”. Karena, kebutuhan bayi terhadap ASI itu berbeda-beda tiap anaknya. Jadi seorang Ibu harus percaya diri dan yakin, bahwa ASInya insyaAllah CUKUP untuk bayinya. Pola pikir ini, terus menerus dijadikan pegangan oleh Bang Asis, setiap kali muncul ketidak-nyamanan dalam proses memberikan ASI untuk pertama kalinya.

Selama di rumah pun, Bang Asis tak keberatan menggendong Billa, dan juga Ammar saat ini, jika aku selesai memberikan ASI. Bang Asis perlahan belajar menggendong, belajar memposisikan bayi yang nyaman untuk bersendawa pasca menyusui, serta berbagi jam jaga ketika awal-awal bayi kami berada di rumah. Yang pasti, Bang Asis tak pernah mengeluhkan sedikitpun perananya menjadi bagian team menyusui ini. 

Setiap kali muncul perasaan ragu atau tak yakin bahwa ASIku ini entah cukup atau tidak untuk anakku, setiap kali itu pula Bang Asis selalu berhasil meyakinkanku bahwa aku pasti mampu memberikan ASI bagi anak kami dengan baik.

Sikap Bang Asis yang mendukung ASI ini, tidak didasarkan karena khawatir susu formula mahal, karena fasilitas kantor  Bang Asis memberikan support dana untuk pembelian susu formula setahun pertama. Namun sikap ini dipilihnya, karena Bang Asis sebagai seorang Ayah, percaya, bahwa ASI adalah yang terbaik untuk anaknya, dan sebagai suami, ia harus mampu dan selalu mendukung istrinya untuk terus memberikan  ASI, termasuk ikut capek dan lelah dalam proses pemberian ASI, akibat diajak gantian begadang dan menjadi tukang pijat istrinya. 

 

Foto Ayah dengan Dek Aam di acara Family Gathering kantor Ayah, di Puncak, Bogor. 

***

Pamulang, Hari ke dua puasa. Pasca menemani suami bersahur.