Showing posts with label billa. Show all posts
Showing posts with label billa. Show all posts

Tuesday, October 25, 2016

(Sharing Parenting) 7 Hal Yg Patut Diperhatikan Orang Tua Saat Hunting Sekolah Untuk Anak

Memiliki anak adalah sebuah karunia sekaligus titipan yang harus kita jaga dengan baik. Selain menjaga keimanan, kesehatan dan pergaulannya, kita sebagai orang tuanya patut memberikan pendidikan yang terbaik untuk mereka.

Lalu, apakah pendidikan yang terbaik itu harus identik dengan sekolah mahal? atau sekolah favorit? atau sekolah yang internasional?

Tidak bisa kita nafikan, bahwa pendidikan yang paling utama adalah dari rumah. Berasal dari contoh dan pelajaran dari orang tua masing-masing anak. Baru kemudian kita titipkan pada pendidikan di luar rumah. Meski sudah jamak pula, saat ini adanya lembaga Homschooling sebagai alternatif sekolah di rumah atau di satu lembaga khusus yang bekerja sama dengan pola dasar homeschooling.

Aku, tidak akan membahas soal Homeschooling, mengingat aku tak memiliki pengalaman soal ini. Meski, aku juga melibatkan diri dalam komunitas online Homeschooling, dengan tujuan memperkaya pengetahuanku mengenai pola mendidik anak di rumah atau saat anak-anak liburan dan butuh pendidikan melalui games atau permainan dan juga traveling atau jalan-jalan.

Kembali ke perihal pendidikan  lewat jalur formal atau sekolah. Adalah bukan hal mudah juga menentukan indikator saat mencari atau hunting sekolah bagi anak. Apalagi jika ini adalah anak pertama.

Berikut ini aku coba membagi pengalamanku saat mencari sekolah bagi putri pertamaku, yang kemudian memudahkanku saat memilih sekolah untuk putra keduaku.

1. Kondisi Keuangan

Dompet dan Kalkulator Adalah bagian krusial

Bicara memilih sekolah, berarti bicara budget pendidikan yang disiapkan oleh calon orang tua. Hal ini menjadi krusial, agar ke depan, orang tua tidak salah kesulitan dalam membayar biaya sekolah si anak.

Aku pribadi melakukan hunting nyaris ke 10 sekolah dasar di sekitar rumah. Yang kulakukan terlebih dahulu adalah membahas pada suami, perkiraan dana yang sudah disiapkan selama ini untuk kepentingan sekolah anak-anak. Ini bukan soal anak sulungnya saja, tapi juga mengantisipasi adik-adiknya juga. 

Budget pendidikan yang telah ditetapkan range atau batasan atas dan bawahnya akan memudahkan kita dalam menentukan pilihan sekolah. 

Bisa jadi range yang dipilih di kisaran  hingga 2 juta. Jika sampai pada level ini, maka pilihan sekolah negeri dekat rumah bisa menjadi alternatif. Sementara untuk sekolah swasta, baik berbasis islam ataupun umum, rangenya lebih bervariatif. ada yang 3 juta sampai 10 juta. Lalu ada 10 juta hingga 20 juta. Juga range di atas itu pun tidak sedikit. 

Sebagai orang tua, tentu kita menginginkan yang terbaik untuk anak. Namun tidak boleh lengah dan tak juga boleh lupa diri. Kantong ekonomi kita harus menjadi standar utama. 

Untuk putriku, aku dan suami sudah mempunyai asuransi dan juga tabungan. Sebetulnya cukup untuk masuk ke sekolah swasta berbasis islam dengan range 35 juta hingga 50 juta. Tapi masalahnya, aku dan suami memilih menurunkan range atau kisaran biaya yang akan dikeluarkan. Kami mengutamakan biaya masuk sekolah separuh dari range dana yang kami miliki. Kenapa demikian? Alasannya personal sebetulnya. Kami menginginkan bisa tetap menabung uang dari asuransi itu ke dalam bentuk lain, dan juga memperkirakan tetap banyak pilihan untuk sekolah swasta yang bagus di range 15 hingga 20 juta (biaya masuknya). 

Dengan demikian, kalkulator logika dibutuhkan di sini. Aku dan suami bukan tipikal ngoyo. Memiliki uang cukup tapi memaksakan diri masuk ke sekolah yang meski terjangkau, namun secara kualitas bisa ditemukan di sekolah lain yang biayanya sedikit lebih murah. Kelebihan biaya tersebut tentu bermanfaat untuk kembali ditabungkan dan digunakan untuk kebutuhan lain di saat yang tepat. 

Beberapa contoh di depan mataku menunjukkan, beberapa orang tua yang ngotot memasukkan anaknya ke sekolah dengan range terjangkau, namun pas atau cukup, membuat mereka memikir ulang saat hendak mendaftarkan adik dari anak mereka tersebut. Ada juga yang berkeluh kesah padaku, memikirkan ongkos ke sekolah, tidak saja ongkos kendaraan, namun tambahan-tambahan biaya yang muncul saat ada kegiatan. Bukan rahasia umum lagi, jika bersekolah di tempat yang cukup mahal, maka setiap kali ada kegiatan, orang tua murid kembali harus merogoh kantong lebih dalam untuk memberi tambahan dana jajan bagi anak tersebut. Misalnya saat karyawisata atau fieldtrip atau saat ada kegiatan lain yang mungkin melibatkan orang tua. 

Kupastikan, jika aku masuk ke sekolah dengan budget yang sama persis dengan dana pendidikan kami, itu artinya, aku dan suami harus mengeluarkan dana lagi untuk hal-hal tersebut di atas. Sebaliknya, jika aku memilih sekolah yang bagus namun biayanya tak sebesar sekolah yang rangenya sesuai budget, artinya, aku dan suami memiliki dana lebih. Sehingga saat anak membutuhkan dana tambahan terkait kegiatan di sekolah (seperti yang kutulis di atas), maka aku dan suami tak akan merasa dibebani atau kebakaran jenggot. Karena biaya tersebut sudah bisa diantisipasi dengan sisa uang yang sudah kami tabungkan tersebut. 


2. Jarak Tempuh Sekolah


Jarak tempuh mempengaruhi mood anak dalam sekolah
Terus terang, hal lain yang menjadi pertimbanganku adalah jarak tempuh. Mengapa? Karena aku berhitung dengan fisik dan kesiapan mental si anak, jika sekolah terlalu jauh. Hitungan jarak di sini aku hitung dengan waktu. Di kawasan jabodetabek, kayaknya, jarak agak sulit jika dihitung berdasarkan hitungan meter atau kilometer. Karena tingkat kemacetan menjadi pertimbangan dalam menghitung jarak tempuh tersebut.

Maka, range atau ukuran yang kugunakan adalah 5 menit hingga 30 menit adalah jarak tempuh yang dekat. Artinya, dengan ukuran jarak tersebut, aku bisa menghitung kondisi anak dan diriku saat mempersiapkan dirinya berangkat sekolah.

Ini juga pengukurannya dengan kendaraan bermotor yaa... bukan jalan kaki. Hehehe

Apabila budget sudah diperkirakan, maka jarak tempuh menjadi alat memfilter sekolah-sekolah yang menjadi piihan. Paling tidak, seumpama kita memiliki 15 pilihan sekolah berdasarkan budget, maka pilihan jarak tempuh dapat membuat kita mengurangi keruwetan memilih sekolah, yakni hanya melihat sekolah-sekolah dengan jarak tempuh yang sudah kita tentukan sendiri.

Hal ini memang sangat subyektif. Ada banyak orang tua yang menganggap perjalanan 1 jam ke sekolah bukanlah masalah. Anak-anak bisa tidur lagi di mobil atau belajar dalam kendaraan tersebut.
Namun, tidak sedikit, anak-anak yang mood pergi sekolahnya menjadi buruk, akibat jarak tempuh yang relatif jauh apalagi karena macet, dan ini bisa mempengaruhi perasaan dan kenyamaan si anak saat bersekolah. Meski tidak berarti sekolah jauh akan membuat anak jadi tempramental, tidak demikian. Akan tetapi, memilih sekolah dengan jarak relatif dekat, akan membuat nyaman si anak dan kemungkinan kesal karena macet juga tidak muncul.

Beberapa temanku, memilih menyekolahkan anak dekat rumah, juga dengan pertimbangan keamanan. Sebagian beranggapan jika sekolah dekat rumah, anak sudah kenal lingkungannya. Kemudian, jika anak ketinggalan bawa PR atau pakaian olahraga atau buku, tidak menyulitkan diri si anak dan orang tua.

Aku pribadi, dulu bersekolah di SD negeri dekat rumah. Hanya berjalan kaki sekitar 5 menit saja. Meski terkadang kupilih jalan memutar, agar jauh dan lebih banyak pemandangan sih.. hehehe
Sementara untuk anakku, kupilih sekolah dengan jarak tempuh kurang lebih 20 menit di saat lancar. dan 30-45 menit saat macet melanda secara tiba-tiba (misalnya ada cor2an atau ada kendaraan  lain yang bermasalah di tengah jalan). Sejauh ini, anakku tak terlalu bermasalah. Selama 2 tahun pertama kuantar secara pribadi ke sekolahnya, dan ia memilih ngobrol atau tidur. Hanya saat ada UTS atau US, ia memilih belajar di mobil.
Sejak, menggunakan anter jemput mobil sekolah, ia memilih ngobrol dengan teman-temannya. Sehingga waktu 20an menit itu terasa cepat baginya. Apalagi dia tipe anak yang suka bicara. hehehe


3. Kurikulum dan Pola Didik Sekolah



Lokasi Sekolah Ini Menjadi Daya Tarik Anakku


Hal berikutnya yang patut diperhitungkan adalah pola didik dan kurikulum sekolah. Setiap orang tua pasti punya cita-cita dan rencana tersendiri terhadap pola didik anak. Namun jangan juga dilupakan, jika setiap anak memiliki karakter yang tak sama dengan anak-anak lain.

Aku pribadi menginginkan kurikulum yang tidak terlalu padat. Terus terang, aku mencari sekolah yang tidak memberikan PR kepada anak-anaknya. Jadi kalau bisa, semua urusan belajar itu ada di sekolah. Saat pulang sekolah, waktu bagi anak adalah bermain dan istirahat.

Beberapa sekolah bagus, kuperhatikan dari kelas 1 SD sudah memberikan setumpuk PR pada anak-anaknya. Aku mengukur kondisi dan kemampuan anakku. Tipikal kreatif dan tak bisa diam, serta tak begitu menyukai dunia akademik. Maka pilihan sekolah tanpa PR paling tidak di 3 tahun pertamanya di Sekolah Dasar termasuk hal yang menarik perhatianku. Di sekolah anakku yang sulung sekarang, dia jarang membawa pulang pekerjaan dari sekolah. Selama setahun itu tidak sampai 10 PR yang dikerjakan. Karena pola jam sekolah hingga siang (melewati jam 14.00) membuat sekolah memilih pelajaran dituntaskan di sekolah.

Pola didik di sekolah juga perlu diperhatikan. Untuk anak yang senang akademik dan tak ada masalah dengan duduk diam di bangku, tentu berbeda dengan anak yang senang alam terbuka dan kreativitas serta tak senang duduk berlama-lama di bangku. Cara guru menghadapi mereka, juga kiat guru mengantisipasi beberapa murid yang memiliki performance beda tersebut, termasuk  yang kuperhatikan dan kucari info terkait hal ini dari para orang tua yang anaknya pernah bersekolah di sekolah yang kudatangi.

Ada sekolah yang tidak melabel diri sebagai sekolah inklusif, namun menerima anak-anak yang berbeda dan berkebutuhan khusus. Ada sekolah yang terang-terangan tidak menerima kondisi anak-anak yang berbeda. Ada juga sekolah yang hanya mendasarkan diri pada tes masuk anak, tanpa memperhatikan prestasi lainnya. Dan ada juga sekolah yang inklusif, namun tentu dengan tambahan biaya dan lain sebagainya.

Pola didik ini tentu patut menjadi perhatian. Terutama jika memiliki anak yang khas dan istimewa. Buatku pribadi, cara guru menghadapi putriku saat jumpa, atau sikap kepala sekolah saat ditemui dan dimintai info soal pola didik sekolah, termasuk hal yang menjadi perhatian utama. Mungkin atau bisa jadi, tak banyak orang tua yang secerewet itu. Namun, jika memiliki anak yang khas atau istimewa, tentulah pola didik demikian menjadi hal yang patut diperhatikan.


4. Fasilitas Sekolah



Fasilitas sekolah perlu disesuaikan dengan minat anak 

Sebagian besar orang tua memilih sekolah, karena tertarik dengan fasilitas sekolah. Dan memang ini penting banget, jika si Anak juga berminat atas fasilitas tersebut.

Jangan sampai, orang tua tertarik pada sebuah sekolah yang punya 2 kolam renang, tapi si anak gak suka berenang. Anak malah suka kalau yang ada tim marching bandnya, atau yang punya klub science atau hal lainnya.

Sekedar mengingatkan,... memilih sekolah ini adalah untuk mendukung minat anak, bukan minat orang tua, apalagi karena supaya terlihat keren.

Sekedar gambaran fiksinya nih.... Kita bayangkan percakapan dua orang ibu-ibu berjumpa di satu tempat...

"Hei... anakmu sekolah di mana?"

"Itu lho...sekolah XXXXX yang ada kolam renang sendiri."

"Waaah, anakmu suka renang toh?"

"Errr... nggak juga sih,...dia demennya science club gitu, tapi kan keren kalau sekolah ada kolam renang sendiri..."

Dan si penanya akan bengong cantik dengar alasan demikian. Hehehe..

Tapi, jika anak kita memang demen olahraga, apalagi renang... maka patut kita mencarikan sekolah yang mendukung kegiatannya. Apalagi kalau sampai menjadi perwakilan sekolah dalam lomba-lomba tingkat nasional. Wah, keren banget itu!

Fasilitas lain tidak saja terkait olahraga. Tapi juga terkait fasilitas katering dan antar jemput. Ini memudahkan orang tua juga sebetulnya. Apalagi kalau ketemu sekolah yang pulangnya diatas jam 2 siang. Kudu pake katering, kecuali ibu atau orang rumah tipe rajin masak dan rajin anter makanan. Maka bisa diskip nih fasilitas katering sekolah. Demikian juga fasilitas antar jemput. Jika dihitung jauh lebih murah pake anter jemput, maka gunakan fasilitas ini. Tapi jika jatuhnya mahal atau tidak mengganggu jadwal kerja kita sebagai orang tua, maka fasilitas ini tak perlu dijadikan tolok ukur.

Saat hunting buat anakku kemaren, aku termasuk memikirkan soal Katering. Soalnya aku kebetulan bukan tipe yang bisa masak, dan kegiatan mengurus anak bungsu juga mempengaruhiku untuk tidak bolak balik ke sekolah, guna penghematan dana bbm.

Fasilitas lain yang bisa dipertanyakan ke pihak sekolah adalah jenis-jenis ekstra kurikuler yang diberikan oleh sekolah. Ini tentu kembali lagi terkait kesukaan atau hobby si anak.

Sebagian orang tua, bisa jadi memperhatikan toilet dari sekolah. Apakah bersih...? Apakah terpisah laki-laki dan perempuan? Bagimana tempat wudhunya? Pemeliharaannya seperti apa?  dan hal lainnya. *makasih temanku, Etta Erinda sudah mengingatkan soal penting ini.

Namun, pada prinsipnya, Fasilitas yang paling mendasar yang patut dicermati, adalah fasilitas kelas dan lapangan. Ini harus sesuai dengan biaya yang harus kita keluarkan. Perbandingan jumlah anak dengan guru, perbandingan lapangan untuk anak berkreativitas juga lapangan parkir patut dipertimbangkan.

Kita bisa mencoret banyak hal dalam urusan fasilitas ini jika keuangan kita terbatas, atau memang kita lebih mengutamakan sekolah dekat rumah. Ini hanya patut dipertimbangkan jika dana mencukupi dan hobby atau kesukaan anak harus diakomodir. Itu saja.


5. Kemudahan Bagi Adiknya Kelak


Aam menyukai TK ini karena penuh alpabet dan diskonya lumayan karena kakaknya sekolah di situ















Buatku pribadi, kemudahan bagi adik dari anak pertama untuk bisa ikut masuk ke sekolah tersebut, termasuk yang kupertimbangkan.

Misalnya, apakah sekolah TK dari yayasan SD tersebut memiliki kebijakan yang sama? Atau apakah ada potongan diskon jika adiknya satu yayasan dengan kakaknya. Atau kemudahan-kemudahan dalam urusan antar jemput dan lainnya.

Hal ini dapat diterapkan terhadap sekolah swasta sih. Kalau negeri biasanya gak gitu pengaruh. Kecuali memang, orang tua juga sudah paham dengan kondisi sekolah si kakak, sehingga bisa mengukur tingkat kebutuhan terhadap karakter si Adik. Kira-kira sekolah si Kakak dapatkah menjadi sekolah buat si Adik ?

Aku termasuk orang tua yang memikirkan hal ini. Karena putra bungsuku termasuk anak istimewa berbakat (gifted child), sehingga memiliki kebutuhan khusus. Dan sekolah tempat anak sulungku tersebut termasuk yang welcome dengan karakter anak istimewa seperti Aam. Tidak ada tes khusus dan para gurunya sejauh ini tidak keberatan mendidik Aam yang tak bisa diam dan sulit berkomunikasi dalam bahasa Indonesia.

Beberapa sekolah bagus lainnya kucoret dari list, karena mereka mengetes anak-anak TK sebelum masuk dan beberapa guru atau kepala sekolah berterus terang tidak menerima anak berkebutuhan.

Bagaimanapun, urusan demikian gak bisa disepelekan. Kenyamanan anak sekolah tentu harus jadi pertimbangan utama.


6. Prestasi Sekolah


Piala sebagai indikator prestasi sekolah 

Pemasangan piala di halaman masuk gedung adalah salah satu trik menarik dari Sekolah. Aku pribadi gak begitu memperhatikan piala-piala ini. Buatku ini adalah bonus dari kesepakatan diriku terhadap kondisi sekolah yang sudah kupilih menurut point-point sebelum ini.

Namun, mengetahui prestasi sekolah adalah  hal yang baik. Jika kelihatan sekolah tersebut banyak meraih prestasi di bidang olahraga, maka bisa jadi mendukung anak kita yang menyukai olahraga. Atau jika anak kita suka dunia akademik, maka melihat banyak piala di bidang akademik akan membuat kita yakin bahwa kita tak salah pilih sekolah untuk anak. Dan banyak lagi hal-hal positif yang tergambar dari piala-piala tersebut.

Hanya saranku, pastikan kalau piala-piala itu adalah wujud prestasi sekolah dalam 5 tahun terakhir. Artinya, kegiatan yang menghasilkan penghargaan prestasi itu rutin dilakukan. Serta sekolah komit dan konsisten mengirim anak didiknya atas prestasi tersebut. Ini penting, mengingat banyak sekolah yang tidak konsisten dalam mendapatkan prestasi. Kita sebagai orang tua harus waspada akan model sekolah seperti ini .



7. Kenyamanan Diri Anak 


kenyamanan.
gambar pinjem dari sini 


Untuk point terakhir ini, sifatnya sangat subyektif.

Kenapa?

Karena untuk orang-orang yang memiliki anak dengan keunikan tertentu, maka kenyamanan anak saat bersekolah harus jadi pertimbangan. Agar tidak menguras energi setiap harinya.

Aku termasuk yang memikirkan hal ini. Setiap hari kutanyakan pada anak sulungku, apakah ia merasa harinya menyenangkan hari ini saat ia bersekolah. Jika jawabanya YA dalam kurun waktu tiga bulan.... bisa jadi ia sudah merasa nyaman dengan kondisi dan pola didik sekolah.

Aku nggak bisa bayangkan, jika setiap kali pulang sekolah, anakku menangis, atau diam seribu bahasa menahan tekanan batin karena dibully, atau tak sanggup mengikuti target sekolah atau guru yang tak mau mengerti kemauannya.

Namun, untuk anak yang normal kondisinya, serta keuangan tak mencukupi bersekolah di swasta, maka bisa jadi kenyamanan anak tak terlalu  menjadi perhatian utama.

Meski, buatku, bersekolah di sebuah SD yang sekelasnya ramai itu menyenangkan. Selain biasanya deket rumah, juga banyak teman dalam satu kelas. Jika tipe anak kita senang bergaul, menyukai kelas yang ramai, tak terpecah konsentrasi saat belajar di kelas jika banyak teman, maka pilihlah sekolah model demikian. Karena anak kita akan nyaman dengan banyak teman.

Bisa jadi, akan ada orang tua yang beranggapan aku berlebihan menetapkan poin ke 7 ini sebagai salah satu hal yang patut diperhatikan saat memilih sekolah, namun bukan kewajibanku menjawab dan menjelaskan alasan detailnya. Buatku pribadi, hak memilih sekolah buat anak, tidak menjadikan kita sebagai orang tua menjadi hakim bagi pilihan sekolah oleh orang tua yang lain. |

Setiap orang tau punya ukuran terkait kenyamanan anak-anak. Dan bukan hak kita menilainya. Karena setiap anak itu dilahirkan berbeda. Hanya kemauan kita membaca kebutuhan diri anak dan berusaha obyektif untuk menilainya lah yang membantu anak tumbuh kembang dengan tepat di wadah pendidikan yang tepat untuk diri si anak.


Karenanya...

Pelajari karakter anak kita, fokus pada kenyamanan bersama serta sesuaikan dengan budget kantong, baru kita hunting sekolah. 

Happy Hunting everyone.. :) 







Friday, June 19, 2015

[Kreatifitas] Membuat "Tabel" Puasa dan Terawih Serta Ucapan Selamat Datang Ramadhan

Merasa bangga dan senang berhasil membuat sebuah prakarya
itu adalah output yang dikejar dalam sebuah kreatifitas.
Memancing perasaan percaya diri dan menyukai kemampuan diri..:) 


Kali ini, aku akan share, kegiatan Billa menghabiskan puasa hari pertamanya.

Sebelumnya aku sudah membelikan seperangkat alat prakarya untuk Billa. Seperti tahun lalu, Billa mengerjakan Prakarya "Selamat Datang Ramadhan" dan aku membantunya membuat "Tabel Puasa dan Terawih".

Bahan Yang Dibutuhkan : 

Kertas Karton
Kertas Origami
Kertas prakarya lainnya (sesuaikan saja dengan keinginan si anak)
Gunting
Lem
Spidol


Cara membuatnya : 

Pastikan anak memberikan ide. Orang tua hanya mengekskusi Ide anak. Saat ini Kak Billa menginginkan tema buku dan bintang. Maka kami berdua membuat prakarya bergambar buku dan bintang. Sisanya, biarkan anak mengeluarkan kreatifitasnya. Ibu atau Orang tua, cukup mengarahkan. Yang pasti, orang tua harus bersabar menghadapi sikap si anak. Kadang tidak rapi, rumah jadi berantakan dan lain sebagainya.

Berikut beberapa gambar yang menunjukkan tahapan karya kak Billa, dari awal, hingga selesai.

1. Siapkan ide. Gambar ide tersebut. Kak Billa punya ide membuat daun tersenyum, serta bintang tersenyum jika ia berhasil full puasa dan terawih sehari.

gunting, lem dan kertas origami dimanfaatkan 

2. Biarkan rumah berantakan. Nanti jika sudah selesai baru bereskan. Biarkan anak berkreasi dan mengimplementasikan idenya. Pada gambar ini, kak Billa memilih bintang dan buku sebagai tema tabel dan ucapan selamat datang bulan ramadhan. 

lumayan tekun gunting dan menggambar ide


 3. Siapkan juga spidol. Beri kesempatan anak untuk berkreasi. Meski hasilnya menurut kita mungkin "aneh" tapi kondisi membiarkan anak mencurahkan idenya pada karyanya, akan membuatnya tenang dan bangga.

ini adalah bintang puasa dan daun terawih.
ditempel di bintang tempat keterangan puasa, dan buku keterangan terawih 


Biarkan anak menggambar sendiri. Kita juga buat versi kita
Dengan demikian, orang tua juga tidak terlalu membebani diri agar anak harus membuat sebagus mungkin
Prosesnya yang dibutuhkan,
hasil akhir, bisa bagus, jika sering dilakukan

 4. Kegiatan berikutnya, semua yang sudah digunting, segera ditempelkan pada kertas karton yang lebih besar. Selain itu, berikan spidol untuk menggambar sejumlah ide juga di atas karyanya tersebut.

Kak Billa mulai menempel hasil guntingannya 


Sibuk menuliskan kata-kata dan gambar-gambar terkait puasa
ada kalimat Allah, nabi Muhammad, gambar mesjid dan lain sebagainya..: 

Dan inilah hasil akhir dari kegiatan Billa kemarin.
Dia mengaku kecapekan membuat satu karya ini. Itu pula yang menjadi alasan, agar aku, bundanya yang menuntaskan tabel puasa dan terawih...:) 

Ini hasil akhir karyanya.
Ditempel di depan pintu kamarnya. 

Demikianlah...

Semoga sharing prakarya Kak Billa hari ini, bisa memberi inspirasi bagi teman pembaca sekalian..:) sehingga bisa mengisi kegiatan Ramadhan dengan kegiatan yang cukup seru...:) 


Kak Billa dengan karyanya.
Di belakang Billa adalah tabel puasa dan terawih.
Aku mengerjakan sebagian besar, meski ide utama adalah dari Billa
Tabel itu bermanfaat untuk menghitung jumlah puasa yang full dan tidak
serta terawih kak Billa
Pada akhirnya, akan ada reward atas usahanya belajar puasa dan terawih ini..:) 

Saturday, January 03, 2015

(Billa) Mencari Pengalaman Selama Liburan Untuk Kak Billa

Ini gaya Kak Billa kalau menikmati hotel gratisan. Menggambar sambil nonton tivi


Liburan sekolah Kak Billa sudah berlangsung cukup lama. Nyaris 3 minggu lebih sejak selesainya ujian susulan yang dihadapinya.

Akibat cacarnya kemarin, dia harus banyak istirahat di rumah, dan terpaksa ikut ujian susulan di tanggal 17 dan 18 Desember 2014. Setelah itu liburan deh...

Selama liburan ini, aku belum memberikan program khusus ke dia. Alasannya, karena fase recoverynya, membuat aku tidak ingin dia terlalu capek. Belum lama dia sehat, eh adeknya, Aam yang sakit cacar. hehehe

Maka, kegiatan outdoorpun dikurangi.

Kebanyakan, Kak Billa akhirnya bermain dengan gunting dan kertas. Membuat boneka kertas, membuat rumah-rumahan, bermain clay, dan aktivitas di rumah.

Sempat sih, ikut ayahnya nginep di hotel Arya Duta Sumarecon Tangerang, selama satu malam. Menikmati makan malam bareng, ke toko buku dan jalan-jalan di sekitar hotel. Lumayan membuatnya refreshing, termasuk emaknya juga...hehehe

Sebelum Aam jatuh sakit, aku sempat juga ajak Kak Billa, Kak Balqis (sepupunya) dan Najwa serta Lilis (ART ku), ke Lolypop di Living World, Alam Sutera. Sebuah ajang permainan untuk anak-anak. Kutitipkan mereka pada Lilis, sementara aku, Aam dan suami pergi ke Ace Hardware, beli kebutuhan interior untuk rumah yang sedang dipugar.

Gak punya foto Kak Billa lagi main. Jadi ambil foto dari link ini aja. 


Kak Billa sungguh bahagia hari itu. Seharian ia bercerita tentang permainan yang diikutinya. Meskipun aku merasa, masuk ke Lolypop terlalu mahal untuk anak yang banyak gak beraninya seperti Kak Billa..hehehe.. She skipped so many games at that place.. *sigh...

Aku juga sempat membolehkan Billa main ke rumah Lilis, ART ku, sesorean. Wajah Billa begitu bahagia. Karena di kontrakan Bu Nulis, demikian dia biasa manggil ARTku itu, banyak anak-anak seusianya, terus ada lapangan yang membuatnya bisa main sepeda dengan anak-anak si Lilis.


Sayangnya, aku tidak bisa setiap saat memberikan kesempatan bermain ke rumah Lilis untuk Billa. Karena Lilis juga kerja di rumah lain. Kemaren itu kebetulan si Lilis gak masuk kerja di rumah majikannya satu lagi.

Walhasil, sisa-sisa liburannya, kembali diisi di rumah. Apalagi adeknya, baru saja recovery dari cacar yang lebih parah dari kondisi kakaknya.

Tapi aku masih terus berusaha memberikan satu lagi pengalaman liburan untuk kak Billa. Dia harus punya experience yang menyenangkan hatinya dan membuatnya terkenang seumur hidup.

Maka terpikir olehku untuk mengajaknya naik Kereta Api. Masalahnya, dengan jadwal ayahnya yang super padat, sulit sekali mengharapkan bisa pergi sekeluarga, ke tanah abang ataupun sekalian ke Jawa sana.

Hingga kemarin, kudengar, ayahnya mungkin akan ambil off kantor 2 hari, karena menyelesaikan urusan proyek di laut Jawa sana.

Ah, ini kesempatan yang harus kuambil. pikirku

Maka kubuat proposal kecil, tentang plan dan budget yang akan keluar. Kukirim via email ke ayah Billa Aam. Harap-harap cemas, karena hingga siang, email itu tidak dibalas. Baru menjelang ashar, email itu dibalas dengan satu kata saja. ... OK....

Wah...segera deh, aku hunting tiket kereta api, terus booking kereta. Lanjut hunting hotel, membaca review-review pengguna hotel, juga mengecek lokasi wisata terdekat dari hotel pilihanku. Selain itu juga, menyesuaikan dengan budget yang ditetapkan oleh Ayah Billa Aam...:D

Singkat cerita, seharian kemarin, aku asyik membuat jadwal. Tiket alhamdulillah sudah di tangan. Sudah juga kubayar via minimarket indomaret. Kemudian, booking hotel lewat Agoda juga sudah dibayar. Pin id pemesanan juga sudah di tangan.

I feel so excited.

Karena ini boleh jadi adalah liburan pertama yang aku susun setelah tahun 1999. Kami sebetulnya sering "nebeng liburan" ketika Ayah anak-anak bertugas ke satu daerah atau meeting di banyak hotel. Jadi nyaris, selama ini "ngehotelnya" gratis.

Aam belum setahun, menikmati fasilitas kid playground, salah satu hotel. Aku lupa hotel apa ini...hehehe 


Aku pernah bayar hotel sendiri 2 hari di Bandung, demi menghadiri acara Pesta Awug Paberland, 2 tahun lalu. Setelah itu gak pernah ada istilah hotel bayar sendiri ataupun liburan yang khusus kurencanakan. *Aku tidak menghitung pulang kampung ke Belawan atau pun Palembang sebagai liburan yang direncanakan...

Aku jadi inget, tahun 1999, pertama kali kami berdua (belum ada anak-anak waktu itu), berlibur berdua ke Bandung. Naik bus ke Bandung. Nyari penginepan super murah tapi bersih. Naik becak dan jalan kaki kemana-mana. Bawa-bawa map, persis wisatawan lokal. Hehehe..
Aku terkesan dengan Dago dan Es cendolnya yang sedap. :)

Kami jg pernah melakukan perjalanan bertiga (Billa usia 1 tahun lebih), naik kereta ke Malang, menginap di Wisma Unibraw, dalam rangka mengurus surat mundurku dari s3. Itu tahun 2009 akhir atau 2010 awal kalau gak salah. Billa tidak nyaman selama di kereta. Aku nyaris tidak bisa tidur. Ternyata Billa memang ada sakit waktu itu. Dan baru ketahuan ketika kami berada di Guangzhou.

Singkat cerita....

Ini pertama kalinya, aku menyusun jadwal liburan. Meski hanya 2 hari 1 malam. Beli tiket kereta api secara online, booking hotel lewat Agoda, yang sesuai kantong, dan merencanakan/menetapkan lokasi wisata yang akan dikunjungi selama  di kota tujuan. Mudah-mudahan bisa secara maksimal demi Kak Billa.

Harapanku, semoga Kak Billa merasakan serunya naik kereta, indahnya pemandangan, menikmati jadwal yang sudah kuatur, dan pergi pulang dalam keadaan sehat bahagia. Sehingga ia tak sabar untuk menuliskannya, menggambarnya atau membagi ceritanya ke guru sekolah.

Semoga Aam juga bisa adaptasi dengan rencana liburan ini. Aku tahu, harus siap menghadapi hal diluar prediksi, jika sudah terkait sikap atau reaksi Aam kelak.

Bismillah...

Detail cerita, menyusul setelah liburan berhasil dilakukan. In sha Allah.



Saturday, December 13, 2014

Senangnya Menjadi Cover Buku Tahunan!


Cover buku Kak Billa. She loves it so much 


Ketika setahun lalu aku hanya sebagai anggota dari BaKOS (Badan Kerjasama Orang Tua dan Sekolah) di Alzind (Al zahra Indonesia), sudah kuniatkan, jika tahun depannya, Kak Billa masuk TK B, dan aku masuk dalam jajaran BaKOS kembali, maka aku berniat untuk menjadi PIC buku tahunan angkatan Kak Billa

Bukan apa-apa sih, aku punya ide saja untuk dieksekusi

Dan ternyata, tahun ajaran 2013-2014, aku malah terpilih jadi ketua BaKOS TK/KB Alzind. Hal ini memudahkanku untuk lebih fokus lagi pada buku tahunan.

Ini adalah proyek yang memerlukan fokus luar biasa. Nyaris menguras energi dan otak juga, karena dilakukan dengan jarak jauh, dengan lay outernya. '

Proyek ini, dimulai dari foto session. Aku sudah menyiapkan tim dan teman-teman dalam tim ini sangat membantu dan kooperatif. Juru foto yang disewa juga kooperatif banget.

Pada tanggal 21 April, kerjasama dengan kepala sekolah, membuat tema pakaian profesiku, maka anak-anak seluruh TK Alzind menggunakan pakaian sesuai cita-cita mereka. 


cover anak-anak 
Kesempatan ini langsung kugunakan untuk menyiapkan juru foto dan memoto wajah serta seluruh tubuh anak-anak TK B. Hal ini untuk kepentingan buku tahunan tersebut. 

Oh iya, sampai lupa. Buku Tahunan adalah buku yang merangkum kegiatan satu tahun anak TK B. Mulai dari beragam kegiatan in door, out door hingga kegiatan kerjasama dengan BaKOS.

Tahun ini, aku menetapkan tema "Cita-citaku" dan disesuaikan dengan tema tanggal 21 April, yang sebelum-sebelumnya didominasi dengan pakaian adat. 

Aku sudah memastikan kalau buku tahunan kali ini covernya beda. Isinya aku menggunakan atau memakai referensi buku tahunan tahun sebelumnya, ketika Sevy Andriani menjadi ketua BaKOS. Aku suka lay outnya. 

Tahun ini, aku fokus pada cover buku tahunan. Aku memastikan setiap anak memiliki buku tahunan dengan wajah mereka masing-masing di buku tersebut. Sedikit kerja keras dan merepotkan lay outernya. 


isi : kegiatan bakos
Sebulan setelah terkumpul semua foto-foto, aku mulai berdiskusi dengan lay outernya sekaligus editornya. 

Kerjasama ini berlangsung hampir setiap waktu. Pertemuan kami hanya 2 kali secara face to face. Sisanya lewat email. 

Sempat stress juga ketika si editor/lay outer mengalami masalah internal keluarganya. Belum lagi ditambah dengan masalah mati listrik serempak beberapa saat, yang mempengaruhi kinerja komputer si lay outer.

Bahkan hingga hari H seharusnya diserahkan buku tahunannya, aku sakit perut, karena bukunya sampai setelah acara perpisahan kelar. Ampun biyung. 


Wisuda TK Kak Billa. Detik-detik aku memikirkan buku tahunan yang belum datang
Untunglah, timku tetap mensupport. Para orang tua juga tidak meributkan keterlambatan tersebut, karena hasil akhir bukunya menyenangkan mereka. Anak-anak suka melihat wajah mereka di cover buku tersebut. Satu buku satu cover, sehingga rasa memilikinya lebih besar lagi..:)

Seminggu menjelang naik cetakpun aku stress. Gimana nggak, karena beberapa bagian terasa aneh, ada pengulangan foto, cetakan foto yang kecil, terdapat beberapa bagian yang kosong. Aduh, rasanya nyaris mau give up melihat kondisi tersebut.'

Kalau sudah gini, rasanya aku ingin banget belajar melayout sendiri, dan tak bergantung pada orang lain. Hehehe..
isi : kegiatan anak-anak 

Singkat cerita.. proses pembuatan Buku Tahunan selesai. Bukupun sampai di tangan anak-anak. 

Kak Billa pun menikmati sekali cover buku yang ada wajahnya. 

Belum lagi ada komentar dari guru-guru berdasarkan karakter masing-masing anak-anak. 

Terbayar semua letih dan stress yang selama ini melanda. 

Thank u team! 


*detail menyusul. Masih mencari data biaya, estimasi waktu, dan step-step pembuatannya. 



#latepost...
#thank u tanun untuk 3 fotonya...pinjem ya :) 

Saturday, November 15, 2014

(Sharing Parenting) Beberapa Cara Menstimulasi Anak Yang Punya Masalah Tumbuh Kembang

Putri pertamaku, Kak Billa (6 tahun 2 bulan), mengalami masalah dengan preposisi visualnya. Ia sering dan nyaris menuliskan semua huruf dan angka secara terbalik, tidak suka membaca dan lebih lagi, masih sulit membedakan kanan kiri, atas bawah, depan belakang serta keterangan waktu.

Sementara putra keduaku (bungsu), Aam (2 tahun 8 bulan), didiagnosa pdd-nos dan juga delay speech.

Berikut beberapa tips menstimulasi anak yang kulakukan selama ini.

Tentu saja, aku bukan "a perfect mom" juga bukan "super mom".

Jika aku membagi tips ini, karena sudah kulakukan dulu dan ada hasilnya sebelum dibagi ke teman-teman sekalian.

salah satu kegiatan anak-anak di rumah


1. Untuk anak-anak yg motorik halusnya kurang bagus, mengajak anak mewarnai, mencoba ronce kayu2an (ada jualannya), serta belajar menghubungkan titik-titik pd gambar, termasuk membantu menguatkan motorik halusnya.

2. Untuk anak bermasalah dgn preposisi visual, latihan dgn sering menggunakan kata lokasi atau posisi, akan membantu. Misalnya "Kak Billa, tolong letakkan buku itu di kanan televisi", atau "Kak, mundur 2 langkah dulu ya" atau banyak kalimat "perintah" terkait posisi. Selain itu, melatih membiasakan menggunakan puzzle sebagai alat bantu utk tahu kanan kiri, juga bisa. Its work with Billa.

3. Untuk preposisi visualnya cenderung "berat", seperti terlalu banyak yg salah dan terbalik ketika menulis  huruf, kebiasaan orang tua membacakan buku, mengajak anak menggambar dan membuat cerita (pic book), akan membuat anak menyukai huruf dan angka. Nanti lama-lama si anak bisa dibujuk menulis  cerita sendiri. hal ini ternyata membantu Kak Billa untuk mengalahkan masalahnya. Mudah-mudahan bisa dijadikan referensi untuk menstimulasi dan terapi terkait preposisi visual anak.

belajar bikin pic book sendiri
4. Untuk delayed speech seperti Aam, kebiasaan berbicara dengan melakukan kontak mata (ortu jongkong sehingga mata anak sama tinggi dgn mata ortu) harus sering dilakukan. (eye to eye level). Jadi kita sebagai orang tua, jongkok dan memastikan matanya melihat gerakan bibir kita. Karena pada prinsipnya, anak delayed speech tanpa gangguan pendengaran, lebih bisa konsenstrasi, jika diminta melihat gerakan bibir, daripada diajak berbicara tanpa melihat gerakan mulut.

Jadi, misalnya si anak menginginak sesuatu, tapi tidak ditunjukkannya, maka ibu/ayahnya harus jongkok berhadapan wajah (matanya dan mata kita sejajar), dan tanya ke anak kita..."mau minta bunda ambil apa?" sebutkan satu persatu benda yang diinginkan. Jika tidak bisa, ajak tangannya, minta ia menunjukkan benda yang diinginkannya. Jika sudah tahu bendanya, maka kita akan bilang "Aam mau minta bola, ya?"Lakukan sampe ia mengangguk.

Mungkin sedikit membosankan buat kita, yans udah fasih bicara,t api menguntungkan buat anak yang sulit bicara.

Setahun terakhir ini, jika aku mengajak Aam jalan, maka jika ia pegang batu, aku akan bilang "Aam sedang pegang batu,". Atau jika ia menunjuk pohon, aku akan bilang "iya, itu yang warnanya hijau itu, namanya pohon!". Seterunya, jika anak kita main, makan dan setiap saat. Ibu atau Ayah harus selalu bicara berhadapan dengan anak.

Aam dan koleksi puzzlenya


5. Penggunaan puzzle, koin masuk ke tabungan dan kelereng masuk dlm botol plastik, termasuk membantu anak delayed speech utk konsentrasi, sehingga sambil terapi itu, kita bisa mengenalkan 1-2 kata baru.

6. Menggunakan flash card, media youtube utk lagu dan video alpabet/angka/hijaiyah serta, video yg banyak kata2nya seperti serial Kak Diva, termasuk membantu Aam (anak visual learner) untuk menambah kosa kata. *untuk memahami anak tipe pembelajara visual atau bukan, masih perlu digali lagi. Ini hanya berdasarkan feelingku saja sebagai ibu, yang melihat Aam dan Billa lebih cepat faham jika digunakan alat bantu gambar atau video dalam menjelaskan satu hal.

7. Banyak lagi yg lain yg  bisa dilakukan sambil bermain, seperti menghitung batu-batuan saat jalan sore, menyebutkan benda-benda disekitar, dan yang terpenting lagi, ortunya fokus saat menstimulasi anak-anak.

kakak dan kesukaannya menggambar, untuk melatih motorik halusnya


Aku pribadi memilih mematikan tivi dan mengajak jalan-jalan jika memang harus fokus. Atau menyisihkan waktu khusus utk anak-anak sambil melupakan DL menulis  atau hal-hal yg penting utk diri sendiri.

Jika dirasa tak bisa fokus, aku memilih membiarkan anak2 bermain sendiri, dengan alat-alat bermain seperti puzzle, buku mewarnai, balok-balok dan mainan lainnya.

Meski masih sulit mengatur soal nonton tv, tapi sejauh ini, Kak Billa hanya nonton 2-3 jam sehari saat hari sekolah. Kalau besok libur, memang tidak saya batasi.

Kalau Aam, sudah tdk tertarik banget dgn televisi, lebih suka lihat youtube lagu huruf, angka dan hijaiyah.

Sejauh ini, beberapa stimulasi itu bisa dilakukan.

Sekedar info tambahan, utk Kak Billa terapinya baru dilakukan setengah tahun terakhir ini. Dan saat ini sudah bisa membaca dan tulisan terbaliknya sudah berkurang banyak. Sudah mulai faham keterangan waktu, tapi msh sering salah perihal arah kanan kiri :D

Untuk Aam, stimulasinya dilakukan sejak dia diterapi setahun lalu. Saat ini belum diterapi lagi, aku lanjutkan di rmh aja stimulasinya. Lumayan banyak kosa katanya dan sudah mulai sedikit-sedikit faham dgn kalimat perintah dan tanya.

Demikian sedikit sharingku, semoga ada sedikit manfaatnya buat teman pembaca sekalian.


Friday, May 16, 2014

(Billa) Ketika Dagu Robek

    

#latepost
#kejadianbulanMei

     Seharusnya, kamis kemaren adalah hari yg menyenangkan bagi Bunda dan Kak Billa. Karena Kami menjalani "me time" quality bersama temen2 Bunda di komite sekolah. Yup, piknik murah meriah di Ancol.
    Kegiatan berlangsung lancar dr jam 7 pagi hingga pulang lagi nyampe rmh jam 5 sore.
    Bunda saat itu keluar pagar, hendak memarkir Mobil Diluar, agar mudah memasukkan motor ke dalam rumah. Karena Dek Aam nangis lihat Bunda, (setelah ditinggal seharian), maka Ayah bawa Aam JJS sebentar.
   Tau-tau terdengar teriak dan tangisan kencang dr dalam rumah. Bunda segera mengunci mobil dan bergegas masuk rumah.
    "Ada apa kak?" Bunda Buru-buru turun dr Mobil yg sudah terparkir diluar. 
     Terlihat Kak Billa menangis memegang Dagunya. Ada darah! 
     Langsung Bunda periksa dagunya, ternyata robek cukup besar dan dalam. Harusnya dijahit. Tapi Kak Billa sudah panik dan ketakutan. Bunda akhirnya memilih untuk memberi betadine dan menutup luka dgn hansoplast. 
     Ternyata Kaka Billa jatuh dari ayunan dalam rumah. Posisi duduk yang tidak pas, membuat dia terjun bebas, nyungsep ke depan. 
     Pagi harinya, luka dagu tersebut tidak mengering. Akhirnya jam 1 siang, Bunda bawa aja ke ugd rs eka (eka hospital) krn khwtr infeksi lukanya. Hari itu libur, jadi terpaksa lewat jalur ugd. 
   Dan benar tebakan Bunda, harus dijahit!. Perjuangan banget utk menjahit dagu Billa, krn Kak Billa ngomel sepanjang waktu. Menyulitkan bagi dokternya.
   Satu jam kemudian, barulah selesai. Capek banget menahan amarah, karena Billa kurang kooperatif. 
   Sekarang, dagu Billa sama deh sama Bunda. Ada jahitan dan tanda bekasnya, seumur hidup akan nangkring di sana. Hehehe. 



Friday, July 05, 2013

[Billa] Menjelang Usia ke 5 Tahun


Kakak baru usia 2 tahun, sudah bawel dan hapal huruf hijaiyah. Sekarang menjelang 5 tahun, kemampuan verbalnya makin menjadi-jadi. Alhamdulillah

Tidak terasa, beberapa minggu lagi, usia Kakak Billa akan memasuki 5 tahun. Aku mulai merasa begitu banyak perkembangan pada karakter dirinya.

Mulai yang biasanya suka ngambek, sekarang sudah nyaris terjadi.

Biasanya, sulit diajak kerjasama, sekarang sudah enak banget. Kooperatif dalam memilih channel tivi  (karena dulu selalu hanya boleh channel Disney Junior, sekarang sekali-sekali Bundanya atau Neneknya boleh lihat chanel tivi yang lain. Duh happynya...hehehe).

Juga tak susah dimintai tolong, misalnya membersihkan sendiri mainannya, ambilin diaper adeknya, atau jagain adeknya sebentar, ketika Bundanya mandi atau sholat dan banyak hal lain yang membuat Bundanya merasa lebih nyaman, paling tidak sekarang yang dihadapi tinggal fase tantrum dek Aam saja. :)

Seiring dengan perkembangan fisik (yang sudah mencapai 100 centimeter, akhirnya semeter juga tinggi si Kakak..ihihiih saking mungilnya), juga berkembang mental dan kecerdasannya.

Tak sekedar ia mulai senang tampil dan juga memadupadankan pakaiannya, Kakak juga mulai suka mengajukan pertanyaan yang membutuhkan jawaban ekstra serius, agar tak salah memberi masukan.

Misalnya, beberapa hari ini, pertanyaan yang sering diajukannya adalah:

  1. Bunda suka masak gak? Nggak suka? Kenapa? Kog Nyai suka masak, tapi Bunda gak suka? Kalau Bunda gak suka masak, terus yang kasih petunjuk Kakak untuk masak siapa? *tepok jidat.  
  2. Superman itu orang islam atau bukan, Bunda? Kalau orang islam kan gak mana bisa terbang seperti itu kan Bunda? *efek dari nonton Man Of Steel...  
  3. Bunda lihat gak di tivi itu? Warna pelanginya ada tujuh. Merah, Orange, Kuning, Hijau, Biru, Ungu dan coklat. Kenapa lagu pelangi-pelangi cuma bilang "merah, kuning, hijau di langit yang biru?" *Bunda mulai meringis... 
  4. Bun... eh Bund... (ini panggilannya gak pernah utuh deh! Kalau gak Bun, Bund, atau Bun-bun... hiks). Kenapa kita harus pipis dan pup setiap hari, sih? Bikin capek bolak-balik ke kamar mandi. *Nah kalau ini Bundanya lumayan bisa jawab deh.... Sok-sok jelasin terkait metabolism tubuh dan kesehatan. Walhasil si Kakak angguk-angguk kepala. Mudah-mudahan emang ngerti, bukan sekedar toleransi ama jawaban Bundanya. hehehe  
  5. Eh Bund, ini lho yang Kakak maksud! (Si Kakak memaksa Bunda melihat tayangan tivi. Tapi Bunda asyik jawabin message temen...heheh). "Ini yang Kakak gak suka. Kalau Kakak kasih tau ke Bunda, sesuatu di tivi, Bunda lihat donk. Ini bukti kalau cerita Princess Sofia ada di dua chanel, satu di Disney junior satunya Disney chanel. Kalau Bunda gak ngelihat, gimana Bunda bisa percaya omongan Kakak!" (reaksinya luar biasa marah, matanya berair, dan kakinya mulai menghentak). *Bundanya gak enak hati dan mulai mersa bersalah deh! Buru-buru tarok hape, dan meminta maaf. Beruntung anak kecil sangat pemurah dan mudah memaafkan. Kakak biasanya langsung berlari mendekati dan memeluk diriku dan mencium pipi.  "Lain kali, langsung lihat ya Bun, kalau kakak kasih bukti!" *deuuu masih protes dikit ternyata...hehehe
Banyak lagi sebenarnya, bentuk protes dan pertanyaan-pertanyaan. Sepertinya kudu baca lebih banyak lagi dan nanya lebih dalam lagi ke teman-teman yang sudah melewati fase ini. Mudah-mudahan aku bisa mengarahkan dan memberi jawaban dengan baik dan tak menyesatkan.

Love you, Kakak. :)

[Billa] Mengenal 4 huruf


Kakak "membaca" gambar
@trans hotel


Aku tidak pernah memaksa Billa (4 tahun 4 bulan) untuk membaca di usia dini. Namun, acap kali aku memegang buku, Billa akan aku ikutsertakan dalam dunia buku.

Namun, 2 bulan terakhir ini, aku terpikir untuk mengajarinya membaca. Karena sejak usia 2 tahun, Billa sudah mengenal huruf latin dan huruf hijaiyah. Sayangnya, aku kurang maksimal mengajak Billa untuk mengingat-ingat dan mengenal kembali huruf hijaiyah. InsyaAllah ini akan menjadi PR besar untukku, agar Billa bisa mengaji lebih baik di tahun 2013 ini.


Kembali ke masalah belajar membaca, karwna aku sudah bosan mengajarinya, dan dia terlihat tidak tertarik. Maka sudah lebih 3 minggu ini, tak pernah aku ajak belajar membaca lagi. Aku kembali pada prinsip, jika tak nyaman untuk anak, ya sudah. Ikuti saja maunya. 



Entah mendapat pencerahan dari mana, tahu-tahu malam tanggal 3 Januari 2013, si Kakak (demikian biasanya aku memanggil Billa) memintaku untuk memegang setumpuk flash card yang ia punya. Lalu sambil bermain, melempar dan juga menduduki flash card itu, ia mengajakku mengeja kata-kata.


Alhamdulillah, tak pernah mengira.

Akhirnya, si Kakak bisa mengeja kata dengan 4 huruf, sedikit sulit untuk 5 huruf dan mulai belepotan untuk 6 huruf ke atas.

Tak apa,... bagiku ini sebuah kemajuan yang sangat mengejutkan. Mudah-mudahan, hari-hari berikutnya, Kak Billa akan selalu bermain dengan kata-kata, mencintai kata-kata tersebut dan suatu hari kelak, merangkai kata-kata dalam tulisan. Amin. 




Medio Awal Januari.