Showing posts with label aam. Show all posts
Showing posts with label aam. Show all posts

Tuesday, October 25, 2016

(Sharing Parenting) 7 Hal Yg Patut Diperhatikan Orang Tua Saat Hunting Sekolah Untuk Anak

Memiliki anak adalah sebuah karunia sekaligus titipan yang harus kita jaga dengan baik. Selain menjaga keimanan, kesehatan dan pergaulannya, kita sebagai orang tuanya patut memberikan pendidikan yang terbaik untuk mereka.

Lalu, apakah pendidikan yang terbaik itu harus identik dengan sekolah mahal? atau sekolah favorit? atau sekolah yang internasional?

Tidak bisa kita nafikan, bahwa pendidikan yang paling utama adalah dari rumah. Berasal dari contoh dan pelajaran dari orang tua masing-masing anak. Baru kemudian kita titipkan pada pendidikan di luar rumah. Meski sudah jamak pula, saat ini adanya lembaga Homschooling sebagai alternatif sekolah di rumah atau di satu lembaga khusus yang bekerja sama dengan pola dasar homeschooling.

Aku, tidak akan membahas soal Homeschooling, mengingat aku tak memiliki pengalaman soal ini. Meski, aku juga melibatkan diri dalam komunitas online Homeschooling, dengan tujuan memperkaya pengetahuanku mengenai pola mendidik anak di rumah atau saat anak-anak liburan dan butuh pendidikan melalui games atau permainan dan juga traveling atau jalan-jalan.

Kembali ke perihal pendidikan  lewat jalur formal atau sekolah. Adalah bukan hal mudah juga menentukan indikator saat mencari atau hunting sekolah bagi anak. Apalagi jika ini adalah anak pertama.

Berikut ini aku coba membagi pengalamanku saat mencari sekolah bagi putri pertamaku, yang kemudian memudahkanku saat memilih sekolah untuk putra keduaku.

1. Kondisi Keuangan

Dompet dan Kalkulator Adalah bagian krusial

Bicara memilih sekolah, berarti bicara budget pendidikan yang disiapkan oleh calon orang tua. Hal ini menjadi krusial, agar ke depan, orang tua tidak salah kesulitan dalam membayar biaya sekolah si anak.

Aku pribadi melakukan hunting nyaris ke 10 sekolah dasar di sekitar rumah. Yang kulakukan terlebih dahulu adalah membahas pada suami, perkiraan dana yang sudah disiapkan selama ini untuk kepentingan sekolah anak-anak. Ini bukan soal anak sulungnya saja, tapi juga mengantisipasi adik-adiknya juga. 

Budget pendidikan yang telah ditetapkan range atau batasan atas dan bawahnya akan memudahkan kita dalam menentukan pilihan sekolah. 

Bisa jadi range yang dipilih di kisaran  hingga 2 juta. Jika sampai pada level ini, maka pilihan sekolah negeri dekat rumah bisa menjadi alternatif. Sementara untuk sekolah swasta, baik berbasis islam ataupun umum, rangenya lebih bervariatif. ada yang 3 juta sampai 10 juta. Lalu ada 10 juta hingga 20 juta. Juga range di atas itu pun tidak sedikit. 

Sebagai orang tua, tentu kita menginginkan yang terbaik untuk anak. Namun tidak boleh lengah dan tak juga boleh lupa diri. Kantong ekonomi kita harus menjadi standar utama. 

Untuk putriku, aku dan suami sudah mempunyai asuransi dan juga tabungan. Sebetulnya cukup untuk masuk ke sekolah swasta berbasis islam dengan range 35 juta hingga 50 juta. Tapi masalahnya, aku dan suami memilih menurunkan range atau kisaran biaya yang akan dikeluarkan. Kami mengutamakan biaya masuk sekolah separuh dari range dana yang kami miliki. Kenapa demikian? Alasannya personal sebetulnya. Kami menginginkan bisa tetap menabung uang dari asuransi itu ke dalam bentuk lain, dan juga memperkirakan tetap banyak pilihan untuk sekolah swasta yang bagus di range 15 hingga 20 juta (biaya masuknya). 

Dengan demikian, kalkulator logika dibutuhkan di sini. Aku dan suami bukan tipikal ngoyo. Memiliki uang cukup tapi memaksakan diri masuk ke sekolah yang meski terjangkau, namun secara kualitas bisa ditemukan di sekolah lain yang biayanya sedikit lebih murah. Kelebihan biaya tersebut tentu bermanfaat untuk kembali ditabungkan dan digunakan untuk kebutuhan lain di saat yang tepat. 

Beberapa contoh di depan mataku menunjukkan, beberapa orang tua yang ngotot memasukkan anaknya ke sekolah dengan range terjangkau, namun pas atau cukup, membuat mereka memikir ulang saat hendak mendaftarkan adik dari anak mereka tersebut. Ada juga yang berkeluh kesah padaku, memikirkan ongkos ke sekolah, tidak saja ongkos kendaraan, namun tambahan-tambahan biaya yang muncul saat ada kegiatan. Bukan rahasia umum lagi, jika bersekolah di tempat yang cukup mahal, maka setiap kali ada kegiatan, orang tua murid kembali harus merogoh kantong lebih dalam untuk memberi tambahan dana jajan bagi anak tersebut. Misalnya saat karyawisata atau fieldtrip atau saat ada kegiatan lain yang mungkin melibatkan orang tua. 

Kupastikan, jika aku masuk ke sekolah dengan budget yang sama persis dengan dana pendidikan kami, itu artinya, aku dan suami harus mengeluarkan dana lagi untuk hal-hal tersebut di atas. Sebaliknya, jika aku memilih sekolah yang bagus namun biayanya tak sebesar sekolah yang rangenya sesuai budget, artinya, aku dan suami memiliki dana lebih. Sehingga saat anak membutuhkan dana tambahan terkait kegiatan di sekolah (seperti yang kutulis di atas), maka aku dan suami tak akan merasa dibebani atau kebakaran jenggot. Karena biaya tersebut sudah bisa diantisipasi dengan sisa uang yang sudah kami tabungkan tersebut. 


2. Jarak Tempuh Sekolah


Jarak tempuh mempengaruhi mood anak dalam sekolah
Terus terang, hal lain yang menjadi pertimbanganku adalah jarak tempuh. Mengapa? Karena aku berhitung dengan fisik dan kesiapan mental si anak, jika sekolah terlalu jauh. Hitungan jarak di sini aku hitung dengan waktu. Di kawasan jabodetabek, kayaknya, jarak agak sulit jika dihitung berdasarkan hitungan meter atau kilometer. Karena tingkat kemacetan menjadi pertimbangan dalam menghitung jarak tempuh tersebut.

Maka, range atau ukuran yang kugunakan adalah 5 menit hingga 30 menit adalah jarak tempuh yang dekat. Artinya, dengan ukuran jarak tersebut, aku bisa menghitung kondisi anak dan diriku saat mempersiapkan dirinya berangkat sekolah.

Ini juga pengukurannya dengan kendaraan bermotor yaa... bukan jalan kaki. Hehehe

Apabila budget sudah diperkirakan, maka jarak tempuh menjadi alat memfilter sekolah-sekolah yang menjadi piihan. Paling tidak, seumpama kita memiliki 15 pilihan sekolah berdasarkan budget, maka pilihan jarak tempuh dapat membuat kita mengurangi keruwetan memilih sekolah, yakni hanya melihat sekolah-sekolah dengan jarak tempuh yang sudah kita tentukan sendiri.

Hal ini memang sangat subyektif. Ada banyak orang tua yang menganggap perjalanan 1 jam ke sekolah bukanlah masalah. Anak-anak bisa tidur lagi di mobil atau belajar dalam kendaraan tersebut.
Namun, tidak sedikit, anak-anak yang mood pergi sekolahnya menjadi buruk, akibat jarak tempuh yang relatif jauh apalagi karena macet, dan ini bisa mempengaruhi perasaan dan kenyamaan si anak saat bersekolah. Meski tidak berarti sekolah jauh akan membuat anak jadi tempramental, tidak demikian. Akan tetapi, memilih sekolah dengan jarak relatif dekat, akan membuat nyaman si anak dan kemungkinan kesal karena macet juga tidak muncul.

Beberapa temanku, memilih menyekolahkan anak dekat rumah, juga dengan pertimbangan keamanan. Sebagian beranggapan jika sekolah dekat rumah, anak sudah kenal lingkungannya. Kemudian, jika anak ketinggalan bawa PR atau pakaian olahraga atau buku, tidak menyulitkan diri si anak dan orang tua.

Aku pribadi, dulu bersekolah di SD negeri dekat rumah. Hanya berjalan kaki sekitar 5 menit saja. Meski terkadang kupilih jalan memutar, agar jauh dan lebih banyak pemandangan sih.. hehehe
Sementara untuk anakku, kupilih sekolah dengan jarak tempuh kurang lebih 20 menit di saat lancar. dan 30-45 menit saat macet melanda secara tiba-tiba (misalnya ada cor2an atau ada kendaraan  lain yang bermasalah di tengah jalan). Sejauh ini, anakku tak terlalu bermasalah. Selama 2 tahun pertama kuantar secara pribadi ke sekolahnya, dan ia memilih ngobrol atau tidur. Hanya saat ada UTS atau US, ia memilih belajar di mobil.
Sejak, menggunakan anter jemput mobil sekolah, ia memilih ngobrol dengan teman-temannya. Sehingga waktu 20an menit itu terasa cepat baginya. Apalagi dia tipe anak yang suka bicara. hehehe


3. Kurikulum dan Pola Didik Sekolah



Lokasi Sekolah Ini Menjadi Daya Tarik Anakku


Hal berikutnya yang patut diperhitungkan adalah pola didik dan kurikulum sekolah. Setiap orang tua pasti punya cita-cita dan rencana tersendiri terhadap pola didik anak. Namun jangan juga dilupakan, jika setiap anak memiliki karakter yang tak sama dengan anak-anak lain.

Aku pribadi menginginkan kurikulum yang tidak terlalu padat. Terus terang, aku mencari sekolah yang tidak memberikan PR kepada anak-anaknya. Jadi kalau bisa, semua urusan belajar itu ada di sekolah. Saat pulang sekolah, waktu bagi anak adalah bermain dan istirahat.

Beberapa sekolah bagus, kuperhatikan dari kelas 1 SD sudah memberikan setumpuk PR pada anak-anaknya. Aku mengukur kondisi dan kemampuan anakku. Tipikal kreatif dan tak bisa diam, serta tak begitu menyukai dunia akademik. Maka pilihan sekolah tanpa PR paling tidak di 3 tahun pertamanya di Sekolah Dasar termasuk hal yang menarik perhatianku. Di sekolah anakku yang sulung sekarang, dia jarang membawa pulang pekerjaan dari sekolah. Selama setahun itu tidak sampai 10 PR yang dikerjakan. Karena pola jam sekolah hingga siang (melewati jam 14.00) membuat sekolah memilih pelajaran dituntaskan di sekolah.

Pola didik di sekolah juga perlu diperhatikan. Untuk anak yang senang akademik dan tak ada masalah dengan duduk diam di bangku, tentu berbeda dengan anak yang senang alam terbuka dan kreativitas serta tak senang duduk berlama-lama di bangku. Cara guru menghadapi mereka, juga kiat guru mengantisipasi beberapa murid yang memiliki performance beda tersebut, termasuk  yang kuperhatikan dan kucari info terkait hal ini dari para orang tua yang anaknya pernah bersekolah di sekolah yang kudatangi.

Ada sekolah yang tidak melabel diri sebagai sekolah inklusif, namun menerima anak-anak yang berbeda dan berkebutuhan khusus. Ada sekolah yang terang-terangan tidak menerima kondisi anak-anak yang berbeda. Ada juga sekolah yang hanya mendasarkan diri pada tes masuk anak, tanpa memperhatikan prestasi lainnya. Dan ada juga sekolah yang inklusif, namun tentu dengan tambahan biaya dan lain sebagainya.

Pola didik ini tentu patut menjadi perhatian. Terutama jika memiliki anak yang khas dan istimewa. Buatku pribadi, cara guru menghadapi putriku saat jumpa, atau sikap kepala sekolah saat ditemui dan dimintai info soal pola didik sekolah, termasuk hal yang menjadi perhatian utama. Mungkin atau bisa jadi, tak banyak orang tua yang secerewet itu. Namun, jika memiliki anak yang khas atau istimewa, tentulah pola didik demikian menjadi hal yang patut diperhatikan.


4. Fasilitas Sekolah



Fasilitas sekolah perlu disesuaikan dengan minat anak 

Sebagian besar orang tua memilih sekolah, karena tertarik dengan fasilitas sekolah. Dan memang ini penting banget, jika si Anak juga berminat atas fasilitas tersebut.

Jangan sampai, orang tua tertarik pada sebuah sekolah yang punya 2 kolam renang, tapi si anak gak suka berenang. Anak malah suka kalau yang ada tim marching bandnya, atau yang punya klub science atau hal lainnya.

Sekedar mengingatkan,... memilih sekolah ini adalah untuk mendukung minat anak, bukan minat orang tua, apalagi karena supaya terlihat keren.

Sekedar gambaran fiksinya nih.... Kita bayangkan percakapan dua orang ibu-ibu berjumpa di satu tempat...

"Hei... anakmu sekolah di mana?"

"Itu lho...sekolah XXXXX yang ada kolam renang sendiri."

"Waaah, anakmu suka renang toh?"

"Errr... nggak juga sih,...dia demennya science club gitu, tapi kan keren kalau sekolah ada kolam renang sendiri..."

Dan si penanya akan bengong cantik dengar alasan demikian. Hehehe..

Tapi, jika anak kita memang demen olahraga, apalagi renang... maka patut kita mencarikan sekolah yang mendukung kegiatannya. Apalagi kalau sampai menjadi perwakilan sekolah dalam lomba-lomba tingkat nasional. Wah, keren banget itu!

Fasilitas lain tidak saja terkait olahraga. Tapi juga terkait fasilitas katering dan antar jemput. Ini memudahkan orang tua juga sebetulnya. Apalagi kalau ketemu sekolah yang pulangnya diatas jam 2 siang. Kudu pake katering, kecuali ibu atau orang rumah tipe rajin masak dan rajin anter makanan. Maka bisa diskip nih fasilitas katering sekolah. Demikian juga fasilitas antar jemput. Jika dihitung jauh lebih murah pake anter jemput, maka gunakan fasilitas ini. Tapi jika jatuhnya mahal atau tidak mengganggu jadwal kerja kita sebagai orang tua, maka fasilitas ini tak perlu dijadikan tolok ukur.

Saat hunting buat anakku kemaren, aku termasuk memikirkan soal Katering. Soalnya aku kebetulan bukan tipe yang bisa masak, dan kegiatan mengurus anak bungsu juga mempengaruhiku untuk tidak bolak balik ke sekolah, guna penghematan dana bbm.

Fasilitas lain yang bisa dipertanyakan ke pihak sekolah adalah jenis-jenis ekstra kurikuler yang diberikan oleh sekolah. Ini tentu kembali lagi terkait kesukaan atau hobby si anak.

Sebagian orang tua, bisa jadi memperhatikan toilet dari sekolah. Apakah bersih...? Apakah terpisah laki-laki dan perempuan? Bagimana tempat wudhunya? Pemeliharaannya seperti apa?  dan hal lainnya. *makasih temanku, Etta Erinda sudah mengingatkan soal penting ini.

Namun, pada prinsipnya, Fasilitas yang paling mendasar yang patut dicermati, adalah fasilitas kelas dan lapangan. Ini harus sesuai dengan biaya yang harus kita keluarkan. Perbandingan jumlah anak dengan guru, perbandingan lapangan untuk anak berkreativitas juga lapangan parkir patut dipertimbangkan.

Kita bisa mencoret banyak hal dalam urusan fasilitas ini jika keuangan kita terbatas, atau memang kita lebih mengutamakan sekolah dekat rumah. Ini hanya patut dipertimbangkan jika dana mencukupi dan hobby atau kesukaan anak harus diakomodir. Itu saja.


5. Kemudahan Bagi Adiknya Kelak


Aam menyukai TK ini karena penuh alpabet dan diskonya lumayan karena kakaknya sekolah di situ















Buatku pribadi, kemudahan bagi adik dari anak pertama untuk bisa ikut masuk ke sekolah tersebut, termasuk yang kupertimbangkan.

Misalnya, apakah sekolah TK dari yayasan SD tersebut memiliki kebijakan yang sama? Atau apakah ada potongan diskon jika adiknya satu yayasan dengan kakaknya. Atau kemudahan-kemudahan dalam urusan antar jemput dan lainnya.

Hal ini dapat diterapkan terhadap sekolah swasta sih. Kalau negeri biasanya gak gitu pengaruh. Kecuali memang, orang tua juga sudah paham dengan kondisi sekolah si kakak, sehingga bisa mengukur tingkat kebutuhan terhadap karakter si Adik. Kira-kira sekolah si Kakak dapatkah menjadi sekolah buat si Adik ?

Aku termasuk orang tua yang memikirkan hal ini. Karena putra bungsuku termasuk anak istimewa berbakat (gifted child), sehingga memiliki kebutuhan khusus. Dan sekolah tempat anak sulungku tersebut termasuk yang welcome dengan karakter anak istimewa seperti Aam. Tidak ada tes khusus dan para gurunya sejauh ini tidak keberatan mendidik Aam yang tak bisa diam dan sulit berkomunikasi dalam bahasa Indonesia.

Beberapa sekolah bagus lainnya kucoret dari list, karena mereka mengetes anak-anak TK sebelum masuk dan beberapa guru atau kepala sekolah berterus terang tidak menerima anak berkebutuhan.

Bagaimanapun, urusan demikian gak bisa disepelekan. Kenyamanan anak sekolah tentu harus jadi pertimbangan utama.


6. Prestasi Sekolah


Piala sebagai indikator prestasi sekolah 

Pemasangan piala di halaman masuk gedung adalah salah satu trik menarik dari Sekolah. Aku pribadi gak begitu memperhatikan piala-piala ini. Buatku ini adalah bonus dari kesepakatan diriku terhadap kondisi sekolah yang sudah kupilih menurut point-point sebelum ini.

Namun, mengetahui prestasi sekolah adalah  hal yang baik. Jika kelihatan sekolah tersebut banyak meraih prestasi di bidang olahraga, maka bisa jadi mendukung anak kita yang menyukai olahraga. Atau jika anak kita suka dunia akademik, maka melihat banyak piala di bidang akademik akan membuat kita yakin bahwa kita tak salah pilih sekolah untuk anak. Dan banyak lagi hal-hal positif yang tergambar dari piala-piala tersebut.

Hanya saranku, pastikan kalau piala-piala itu adalah wujud prestasi sekolah dalam 5 tahun terakhir. Artinya, kegiatan yang menghasilkan penghargaan prestasi itu rutin dilakukan. Serta sekolah komit dan konsisten mengirim anak didiknya atas prestasi tersebut. Ini penting, mengingat banyak sekolah yang tidak konsisten dalam mendapatkan prestasi. Kita sebagai orang tua harus waspada akan model sekolah seperti ini .



7. Kenyamanan Diri Anak 


kenyamanan.
gambar pinjem dari sini 


Untuk point terakhir ini, sifatnya sangat subyektif.

Kenapa?

Karena untuk orang-orang yang memiliki anak dengan keunikan tertentu, maka kenyamanan anak saat bersekolah harus jadi pertimbangan. Agar tidak menguras energi setiap harinya.

Aku termasuk yang memikirkan hal ini. Setiap hari kutanyakan pada anak sulungku, apakah ia merasa harinya menyenangkan hari ini saat ia bersekolah. Jika jawabanya YA dalam kurun waktu tiga bulan.... bisa jadi ia sudah merasa nyaman dengan kondisi dan pola didik sekolah.

Aku nggak bisa bayangkan, jika setiap kali pulang sekolah, anakku menangis, atau diam seribu bahasa menahan tekanan batin karena dibully, atau tak sanggup mengikuti target sekolah atau guru yang tak mau mengerti kemauannya.

Namun, untuk anak yang normal kondisinya, serta keuangan tak mencukupi bersekolah di swasta, maka bisa jadi kenyamanan anak tak terlalu  menjadi perhatian utama.

Meski, buatku, bersekolah di sebuah SD yang sekelasnya ramai itu menyenangkan. Selain biasanya deket rumah, juga banyak teman dalam satu kelas. Jika tipe anak kita senang bergaul, menyukai kelas yang ramai, tak terpecah konsentrasi saat belajar di kelas jika banyak teman, maka pilihlah sekolah model demikian. Karena anak kita akan nyaman dengan banyak teman.

Bisa jadi, akan ada orang tua yang beranggapan aku berlebihan menetapkan poin ke 7 ini sebagai salah satu hal yang patut diperhatikan saat memilih sekolah, namun bukan kewajibanku menjawab dan menjelaskan alasan detailnya. Buatku pribadi, hak memilih sekolah buat anak, tidak menjadikan kita sebagai orang tua menjadi hakim bagi pilihan sekolah oleh orang tua yang lain. |

Setiap orang tau punya ukuran terkait kenyamanan anak-anak. Dan bukan hak kita menilainya. Karena setiap anak itu dilahirkan berbeda. Hanya kemauan kita membaca kebutuhan diri anak dan berusaha obyektif untuk menilainya lah yang membantu anak tumbuh kembang dengan tepat di wadah pendidikan yang tepat untuk diri si anak.


Karenanya...

Pelajari karakter anak kita, fokus pada kenyamanan bersama serta sesuaikan dengan budget kantong, baru kita hunting sekolah. 

Happy Hunting everyone.. :) 







Tuesday, December 22, 2015

Applikasi Menggambar Bagi Anak

Aam sendiri sudah rutin menulis di usia menjelang 3 tahun
Meski belum mau diajak menulis yang banyak, tapi aktivitas ini masih rutin dilakukannya

Banyak orang tua, dan termasuk aku dan suami yang sebetulnya mengkhawatirkan efek dari keberadaan gadget di dalam lingkungan rumah kami. Namun sejalannya waktu, tak mungkin menolak kecanggihan tehnologi tersebut di kehidupan kita. Akupun akhirnya memberikan kesempatan pada Aam untuk mengenal juga aplikasi di gadget.

Sebetulnya Aam adalah penyuka youtube khusus lagu tentang alpabet dan angka. Seiring waktu, dengan bertambahanya umur Aam, kemampuannya pun bertambah. 

Usia 3 tahun lebih sedikit, Aam sudah mulai mampu membaca dan sedikit menulis. Aplikasi menggambar yang ada di samsung tab milikku pun menjadi sasarannya menulis dan menggambar. Jenis aplikasi menggambar ini banyak ditemukan di play store android. Tinggal kita orang tuanya saja yang memilihkan. Caranya tentu dengan memperhatikan review pengguna, juga rank yang diberikan oleh para pengguna serta target usia pengguna. Jadi, tak perlu khawatir dalam mendownload sebuah aplikasi menggambar...selama sudah kita telusuri lebih dahulu review dan target usia penggunanya.

Pokoknya sebagai orang tua,... dari awal penggunaan aplikasi sudah kita waspadai. 

Aku juga terharu. Karena pencapaian yang didapat Aam ini tak disangka-sangka. Jika ingat betapa dulu Aam didiagnosa autis serta speech delayed. Tak mengira jika kini Aam sudah bisa menulis dan membaca, tanpa aku ajari secara khusus. 

Pada akhirnya, penggunaan gadgetpun kuberikan namun kubatasi hanya pada aplikasi yang mendukung kesukaannya dalam hal menggambar dan menulis. Mudah-mudahan aku pun semakin kuat dalam mengontrol penggunaan gadget. Sambil berharap...manfaat yang diberikan oleh tehnologi ini pada anak-anakku juga besar, ketimbang mudhorat yang harus kuwaspadai. Amin. 

Ini Karya Aam di usianya menjelang 3 tahun 

Sunday, March 29, 2015

(Aam) 3 Tahun Yang Seru...

Aam usia 2,5 tahun

Nama lengkapnya, Muhammad Ammar Al Mumtaz Onasis...

Tahu nggak, kenapa aku ngotot kasih nama Mumtaz...?

Karena aku bermimpi, di saat usia kandunganku masuk 6 bulan. Dalam mimpi itu aku memanggil seorang anak laki-laki kecil yang lincah ke sana ke mari, Kupanggil dia..."Hei Mumtaz!" beberapa kali.

Ketika bangun tidur, kuingat nama itu.
Ketika bisa di depan komputer kucari arti nama itu.

Kutemukan ini pada link tentang nama 

Mumtaza - bahasa Arab - untuk Perempuan - artinya Yang Paling Istimewa. Sementara ada kata Mumtaz dalam bahasa Arab juga yang berarti : Istimewa, lebih menonjol dari yang lainnya. 
Mumtaz - bahasa Spanyol - untuk laki-laki - artinya Yang Paling Pintar

Juga menemukan kalimat ini terkait kata Mumtaz di link ini : 

Arti nama mumtaz adalah menyolok, dibezakan. sangat indah.Nama mumtaz bisa digunakan untuk nama bayi laki-laki. Nama Mumtaz berasal dari bahasa benggala dengan jumlah huruf sebanyak 6 karakter dan diawali dengan huruf M.


Singkat cerita, aku jatuh cinta pada nama Mumtaz. Dan kuutak-atik nama calon anak ke-3ku ini menjadi : Muhammad Ammar Al-Mumtaz Onasis. Kata Ammar adalah permintaan dari ayahnya, yang menginginkan anaknya menjadi Pemimpin. Kata Muhammad karena mengikuti sunnah, agar bisa meniru jejak sikap Sang Rasulullah. 

Cara penulisan nama ini, mirip dengan nama Putra pertamaku, almarhum Muhammad Miftahurrahman Onasis. Kata Miftah kutemukan sebagai nama yang selevel dengan kata Salsabila, saudara kembar alm.Miftah. Salsabila berarti Mata Air Surga. Sementara Miftah berarti Kunci Pintu Surga. 

Baiklah..., *lap airmata... i miss my miftah already.... 

Mari kita kembali bercerita tentang Aam. 

Aam lahir secara caesar, di usia kandungan minggu ke 38. Itu adalah 17 hari setelah kepergian Papaku. Kisah tentang kepergian Papa yang begitu mengiris dan membuatku menjadi lemah fisik dan mental, pernah kutuliskan di blog, dengan judul Tiket Kepergian. Sehingga, yang awalnya aku berniat melahirkan secara normal, mengingat jarak kelahiran yang relatif jauh dengan kehamilan pertama, tapi ternyata aku give up, karena secara mental dan fisik, aku letih. 


Aam, si anak kangguru, selalu ikut kemanapun aku pergi

Aku baru pulang dari Singapore akhir Februari, dan mendarat di rumah sakit karena demam tinggi. Lalu awal Maret harus terbang ke Palembang, karena kepergian Papa secara mendadak. Padahal Papa sudah bersiap untuk ke Jakarta di tanggal 2 Maret tersebut, menemaniku melahirkan. 
Tanggal 6 Maret aku sudah boyong Mama ke Jakarta lagi. Dan keletihan yang teramat sangat itu, mendorongku memilih untuk menyelamatkan Aam, karena aku tak memiliki lagi tenaga untuk melahirkan secara normal. Mentalku drop, fisikku ikut KO. 

Akhirnya, lahirlah anak ke-3 ku ini, dengan suara tangisan yang kencang di RS Pondok Indah. 4 Jam kemudian, sudah dengan lahap dan pintar menyusu ASI padaku. Subhanallah, rasanya lengkap sekali karunia Allah untuk aku dan suami.

Semua berjalan menyenangkan. Aam lulus ASIX dengan sempurna. Lalu mulai mengenal makanan tambahan. Di sini kadang aku merasa kurang berhasil, karena aku jarang memberinya makanan yang buatan sendiri. Sebagian besar adalah kepingan roti dan bubur instan, sebagaimana kakaknya dulu kuperlakukan. 

Aam, tapi termasuk bayi yang memiliki banyak kemampuan yang lebih dulu dari Billa. Jika Billa, putriku baru punya gigi dan baru bisa duduk di usia 9 bulan, dan baru bisa berjalan di usia 15 bulan. Maka beda dengan Aam, yang sudah tumbuh gigi di usia 6 bulan, kemudian duduk di usia 7 bulan, hanya melewati fase merangkak sekitar 4 minggu, lalu berjalan dan berlari di usia 9-10 bulan. 


Ini adalah senyum dan tawa Aam sebelum usianya setahun.
Terlihat normal sekali
. 

Tenaganya luar biasa kuat. Ia mampu membalikkan keranjang dan semua benda yang menarik perhatiannya. Aam tetap tertarik pada foto hingga usia 13 bulan. Dan kemudian, semuanya mulai tidak menyenangkan. 

Aam tidak mau berbicara satu katapun. Bublingnya terasa aneh di telingaku. Ia nyaris tak pernah menoleh jika dipanggil. Foto-fotonya tetap menarik perhatian, tapi ia sepertinya lebih tertarik pada benda-benda yang melingkar. Ia sanggup membalikkan sepeda roda 4 milik Kakaknya, hanya sekedar untuk memutar roda-rodanya. 

Di usianya yang ke 16 bulan, Aam belum mengucapkan satu katapun (Terlambat Berbicara). Mulai rutin memutar-mutar roda, tidak aware atau peduli siapa aku atau siapa ibunya, tidak tertarik jika dipanggil atau diajak bermain bersama, suka spinning (memutar-mutar) sendiri, berjalan dengan kaki menjinjit dan ujung-ujungnya, yang membuatku semakin khawatir adalah, Aam mulai mengumpulkan benda-benda tertentu, lalu membentuk barisan. Tanpa makna sekalipun. Semakin membuatku khawatir, ketika ia mulai tantrum dan flapping tanpa sebab khusus. Entah ia senang atau marah atau takut.

Di usianya yang ke 16 bulan, aku mengkhawatirkan ciri-ciri yang muncul. Hingga aku tertarik untuk mempelajarinya melalui media youtube, dan aku tercenung mendapati beberapa link, tentang autis dan ciri-cirinya yang mirip dengan kelakukan Aam.  Beberapa kemiripan kelakuan pada Aam, ada pada videoklip tentang autism sign and symptoms ini.  Ada banyak video dan link terkait autisme yang kupelajari. 

Kemudian, ketika ke dokter spesialis anak, spesialis tumbuh kembang, Aam didiagnosa Speech Delayed, dan direkomendasikan untuk Tes Bera (tes pendengaran) dan Konsultasi ke psikolog.
Hasil dari pemeriksaan itu, Aam dinyatakan baik pendengarannya, dan psikolog menetapkan ada diagnosa menuju autisme. Istilahnya High Functioning Autism. 

Aku rasanya mau masuk ke dalam tanah. Rasanya langit runtuh. 

Tak pernah dalam hidupku, akan berhadapan dengan diagnosa autisme pada anak yang kunantikan itu. 

Kupilih second opinion, ke dokter spesialis anak, spesialis syaraf yang juga aktif di sebuah klinik terapi untuk anak berkebutuhan khusus. Dokter ke dua ini tidak melabelisasi apapun pada Aam, tapi menyarankan terapi sensorik integrasi dan jika sudah banyak perkembangan positif, maka bisa dibarengi dengan terapi wicara. Dokter ke dua ini hanya bilang, ada masalah pada tumbuh kembang Aam, dan dapat dikejar dengan terapi yang rutin. 

Maka, sejak itu, di usianya yang baru 17 bulan, Aam menjadi pasien terapi termuda di klinik di depan Pasar Modern BSD tersebut. Terapisnya sungguh sabar dan mampu membantuku untuk bisa menstimulasi Aam. Para terapis itu menandatangani surat keterangan kesehatan aam, dengan kata "diagnosa pdd-nos" (salah satu jenis autis). Kalimat itu sering membuatku miris dan sedih. 

Aku bahkan sempat ngedrop dari segi kesehatan, nyaris jatuh semangat, setiap kali pulang dari terapi. Berbulan-bulan aku berupaya meyakini, bahwa aku bisa melewati fase ini, bahwa Aam akan berhasil menjalani terapi. Namun tetap saja, ada perasaan khawatir yang berlebihan. Akupun akhirnya terkena gejala vertigo dan keletihan yang besar.  

Pertemuanku dengan seorang dokter umum, di sebuah rumah sakit swasta dekat rumah, membuatku bangkit kembali dan bersemangat. Dokter itu cerita memiliki seorang putri dengan IQ 89 dan dia berjuang untuk memberi kepercayaan diri anak tersebut. Anak gadis yang sekarang berteman denganku di dunia maya itu berhasil menuntaskan sarjana pendidikannya dan sekarang sering mendampingi ayahnya yang dokter spesialis tumbuh kembang anak (dokter pertama yang mendiagnosa Aam speech delayed), sebagai narasumber tentang mendidik anak berkebutuhan khusus. 

Setelah menangis selama sejam di ruang praktek dokter umum itu, aku keluar dengan beban yang meringan. Semangatku naik. Dan itu berpengaruh pada diri Aam. 

Memasuki usia ke 24 bulan, kata pertama yang Aam ucapkan adalah Ayah! dan dia mulai mengenali aku sebagai Bundanya. Dan usia 24 bulan itu menjadi momen terbukanya keran kemampuan Aam. Sejak itu, berbagai kejutan diberikannya kepadaku, ayahnya dan kakaknya. 

Mulai dari kemampuan komunikasi yang sangat payah, hingga akhirnya bisa menatap mataku lebih dari 10 detik. Dari tak paham dengan namanya, hingga sekarang bisa menulis nama dan mengeja namanya dengan baik. Begitu banyak kejutan-kejutan yang diberikan oleh Aam, apalagi dia mulai diberikan terapi bicara di usia 24 bulan tersebut. Akhirnya 1 tahun lebih ia terapi, begitu banyak perkembangan positif yang kurasakan. Meski, jika dibandingkan dengan anak seusianya, Aam masih terbilang terlambat. Tapi kami berdua menjadi tim yang solid. Aam mulai mengenaliku dan kami masuk ke fase tidak mau kehilangan. Fase dimana Aam tidak mau ditinggal dan tak mempercayai orang lain. Ini juga butuh stimulasi dan terapi. 


Usia kurang lebih 2 tahun, aam mulai bisa membentuk huruf dan angka
menggunakan media apa saja.
ini adalah kumpulan patahan crayon, yang dibentuknya menjadi huruf  "J" 

Tak apa... aku mulai yakin dengan bantuan komunitas, teman-teman di dunia maya yang bersedia membagi pengalaman mereka tentang anak-anak mereka yang didiagnosa autis, terlambat bicara dan beragam diagnosa lainnya. 

Akhirnya, Aam berhenti terapi, karena terlalu sering sakit. Aam ternyata memiliki alergi yang cukup berat terhadap udara lembab. 
Kemdudian, Aam kumasukkan Paud dekat rumah. Meski hanya 1 semester, aku mulai mengenali beberapa ciri khas lain dari Aam, yang membuatku yakin, Aam bukan autis. 

Ada lompatan kognitif yang dialami oleh Aam. 

Sebelumnya, aku baru ngeh, jika pada anak, secara ringkas ada tumbuh kembang yang seharusnya dialami anak secara runut, Yakni Sensorik - Bahasa - Motorik - Kognitif - Moral. (Tulisan detail tentang ini, dapat ditemukan di artikel blog tentang Tahap Perkembangan Anak Usia Dini.) Aku sendiri menemukan istilah atau urutan itu di komunitas orang tua peduli anak gifted. 

Nah istilah anak gifted ini muncul, akibat seorang teman di dunia maya mengenalkan group itu padaku. Ia melihat postinganku tentang kemampuan Aam yang melesat setelah usianya 30 bulan. 

Aam memang terobsesi dengan puzzle sederhana berupa hurup dan angka. Di usianya ke 18 bulan, ia sudah dengan mahir memasukkan huruf-huruf tersebut di tempatnya, dan di usianya yang ke 20, ia belum bisa bicara, tapi sudah hapal huruf dan angka dengan baik. 

Puncak kenyataan, bahwa Aam bukan autis, adalah ketika ia menemukan solusi pada sebuah masalah. Ia membuat kata POCOYO menggunakan puzzle hurufnya, namun karena huruf O, hanya ada 1 huruf, maka ia membuat O yang lain menggunakan clay/playdoh, lalu menyelipkannya pada kata P C YO, menjadi POCOYO. 


Ini adalah momentum bagiku memandang Aam
ia menyelesaikan masalah ini dengan keren banget!


Dari situ, banyak teman yang menyelami masalah anak berkebutuhan khusus memberiku semangat, dan menyatakan, bahwa Aam tidak autis. 

Aku mulai mempelajari perkembangan Aam, mempelajari informasi tentang anak gifted. *ada artikel menarik yang baru kutemukan saat mencari info tentang gifted child. Aku juga bergabung dengan komunitas terkait ortu yang peduli anak gifted, yang digawangi oleh mbak Julia. (berikut salah satu artikel tulisan ttg anak gifted berdasarkan penjelasan mbak Julia yang memiliki anak gifted).

Saat ini, di usianya masuk ke 3 tahun, Aam sudah meninggalkan ciri-ciri autis, seperti flapping, skimming, menjinjit, tertarik pada roda, terlambat berbicara, tidak respon pada panggilan dan ajakan bermain. 


Aam yang sekarang adalah Aam yang sudah mulai bisa berkomunikasi dua arah, meskipun belum maksimal, sudah bisa berkata dengan 2 kata, merespon panggilan dan ajakan bermain dengan semangat, tidak pernah skimming dan tidak tertarik pada roda lagi. Ia sudah mampu mengetahui cara bermain mobil-mobilan yang tepat, mengerti semua fungsi mainannya dengan baik. 


aam dan sebagian koleksi huruf dan angkanya

Saat ini, Aam sangat terobsesi dengan alpabet dan huruf (termasuk hijaiyah dan bahasa asing). Menguasai alpabet dalam penyebutan English dan Bahasa Indonesia. Mengenal banyak huruf dan mampu spelling dengan baik (tapi harus membaca). Sudah bisa membaca, tapi tergantung moodnya. Untuk kata dengan 3-4 huruf, ia sudah bisa membaca, jika ia ingin. Aam juga malas bermain dengan teman sebayanya, apalagi jika yang diajari itu adalah sesuatu yang ia sudah mampu, seperti mengenal warna dalam dua bahasa, mengenal banyak kosa kata, dan yang sekarang lagi dinikmatinya, menjalankan program youtube dan menonton alpabet dalam bahasa Inggris dan Rusia (untuk yang terakhir ini, kadang bisa kucegah, kadang tidak. terkadang ia menyanyikan lagu dalam bahasa Rusia yang terasa aneh buat telingaku). 

Untuk permainan atau penggunaan tab dan komputer, Aam hanya diajari sekali oleh kakaknya, sisanya ia menghidupkan sendiri dan memilih sendiri program-program  yang diminatinya. Beberapa minggu yang lalu, di bulan Januari, Aam mengejutkanku dengan menulis alpabet dan huruf di atas lantai dengan menggunakan spidol. 

Sumpah! aku tidak pernah mengajarinya menulis. 
huruf A,B,C pertama yang dibuat Aam sendiri
Lembar lain, lanjutan dari huruf sebelumnya. 



Lompatan kognitif inilah yang kemudian dicurigai sebagai kemampuan Aam yang dikategorikan gifted child. Aku tidak terlalu peduli lagi dengan labelisasi yang ada. Aku hanya berdoa dan berharap, Aam bisa mengikuti tumbuh kembang dengan baik. Mungkin saja secara IQ Aam diatas rata-rata (meskipun belum pernah dites), tapi secara emosi, Aam masih harus diajari tentang sopan santun, tentang pergaulan, dan banyak hal lain terkait sosial interaksi dengan sesama anak. Keberadaan Kak Billa (kakaknya) sungguh banyak membantu. Karena Kak Billa yang memiliki masalah dengan preposisi visual ini di usia 5 tahun, tapi memiliki kemampuan berbahasa yang sangat baik, justru membantu Aam dalam bersikap. 

Untuk itu, aku bersyukur sekali, melihat perhatian Kak Billa yang besar terhadap adiknya. Kecerdasan Emosi yang dimilik Kak Billa, bisa jadi di atas normal. Ia sangat peduli dengan adiknya, serta banyak memberikan kehangata dalam berkomunikasi dan bersikap. Aku sungguh terbantu. 
Aam menjelang 3 tahun . Terlihat intens memperhatikan sesuatu
ini Aam sedang melihat cara membuat lego di salah satu toko mainan

Di usianya yang ke 3 tahun, Aam tidak aware dengan hadiah ulang tahun. 
Tapi ia sangat menyukai playdog/clay dan segera membentuk benda-benda, huruf serta angka dengan bahan tersebut. 

Aku masih terus berusaha belajar mengenal perkembangan Aam yang penuh kejutan. Berdoa semoga Aam menjadi anak yang soleh, siapa tahu kemampuannya ini, akan menolongnya menjadi orang yang sosial tinggi, besar dan hebat demi agama dan keyakinannya atas hal-hal yang disukainya. Menjadi kebanggaan orang tua, keluarga, negara dan agamanya. 

Semoga doaku pada namanya, sebagai seorang pemimpian yang istimewa, menonjol dan paling cerdas, dikabulkan Allah SWT. Amin.

Happy belated Birthday My Boy
Bunda tuliskan postingan ini, 9 hari setelah ulang tahunmu. Suatu hari, semoga Aam baca tulisan ini, dan tahu, betapa Bunda bangga memiliki anak seperti Aam dan Kak Billa. I love you son... 



Saturday, January 03, 2015

(Billa) Mencari Pengalaman Selama Liburan Untuk Kak Billa

Ini gaya Kak Billa kalau menikmati hotel gratisan. Menggambar sambil nonton tivi


Liburan sekolah Kak Billa sudah berlangsung cukup lama. Nyaris 3 minggu lebih sejak selesainya ujian susulan yang dihadapinya.

Akibat cacarnya kemarin, dia harus banyak istirahat di rumah, dan terpaksa ikut ujian susulan di tanggal 17 dan 18 Desember 2014. Setelah itu liburan deh...

Selama liburan ini, aku belum memberikan program khusus ke dia. Alasannya, karena fase recoverynya, membuat aku tidak ingin dia terlalu capek. Belum lama dia sehat, eh adeknya, Aam yang sakit cacar. hehehe

Maka, kegiatan outdoorpun dikurangi.

Kebanyakan, Kak Billa akhirnya bermain dengan gunting dan kertas. Membuat boneka kertas, membuat rumah-rumahan, bermain clay, dan aktivitas di rumah.

Sempat sih, ikut ayahnya nginep di hotel Arya Duta Sumarecon Tangerang, selama satu malam. Menikmati makan malam bareng, ke toko buku dan jalan-jalan di sekitar hotel. Lumayan membuatnya refreshing, termasuk emaknya juga...hehehe

Sebelum Aam jatuh sakit, aku sempat juga ajak Kak Billa, Kak Balqis (sepupunya) dan Najwa serta Lilis (ART ku), ke Lolypop di Living World, Alam Sutera. Sebuah ajang permainan untuk anak-anak. Kutitipkan mereka pada Lilis, sementara aku, Aam dan suami pergi ke Ace Hardware, beli kebutuhan interior untuk rumah yang sedang dipugar.

Gak punya foto Kak Billa lagi main. Jadi ambil foto dari link ini aja. 


Kak Billa sungguh bahagia hari itu. Seharian ia bercerita tentang permainan yang diikutinya. Meskipun aku merasa, masuk ke Lolypop terlalu mahal untuk anak yang banyak gak beraninya seperti Kak Billa..hehehe.. She skipped so many games at that place.. *sigh...

Aku juga sempat membolehkan Billa main ke rumah Lilis, ART ku, sesorean. Wajah Billa begitu bahagia. Karena di kontrakan Bu Nulis, demikian dia biasa manggil ARTku itu, banyak anak-anak seusianya, terus ada lapangan yang membuatnya bisa main sepeda dengan anak-anak si Lilis.


Sayangnya, aku tidak bisa setiap saat memberikan kesempatan bermain ke rumah Lilis untuk Billa. Karena Lilis juga kerja di rumah lain. Kemaren itu kebetulan si Lilis gak masuk kerja di rumah majikannya satu lagi.

Walhasil, sisa-sisa liburannya, kembali diisi di rumah. Apalagi adeknya, baru saja recovery dari cacar yang lebih parah dari kondisi kakaknya.

Tapi aku masih terus berusaha memberikan satu lagi pengalaman liburan untuk kak Billa. Dia harus punya experience yang menyenangkan hatinya dan membuatnya terkenang seumur hidup.

Maka terpikir olehku untuk mengajaknya naik Kereta Api. Masalahnya, dengan jadwal ayahnya yang super padat, sulit sekali mengharapkan bisa pergi sekeluarga, ke tanah abang ataupun sekalian ke Jawa sana.

Hingga kemarin, kudengar, ayahnya mungkin akan ambil off kantor 2 hari, karena menyelesaikan urusan proyek di laut Jawa sana.

Ah, ini kesempatan yang harus kuambil. pikirku

Maka kubuat proposal kecil, tentang plan dan budget yang akan keluar. Kukirim via email ke ayah Billa Aam. Harap-harap cemas, karena hingga siang, email itu tidak dibalas. Baru menjelang ashar, email itu dibalas dengan satu kata saja. ... OK....

Wah...segera deh, aku hunting tiket kereta api, terus booking kereta. Lanjut hunting hotel, membaca review-review pengguna hotel, juga mengecek lokasi wisata terdekat dari hotel pilihanku. Selain itu juga, menyesuaikan dengan budget yang ditetapkan oleh Ayah Billa Aam...:D

Singkat cerita, seharian kemarin, aku asyik membuat jadwal. Tiket alhamdulillah sudah di tangan. Sudah juga kubayar via minimarket indomaret. Kemudian, booking hotel lewat Agoda juga sudah dibayar. Pin id pemesanan juga sudah di tangan.

I feel so excited.

Karena ini boleh jadi adalah liburan pertama yang aku susun setelah tahun 1999. Kami sebetulnya sering "nebeng liburan" ketika Ayah anak-anak bertugas ke satu daerah atau meeting di banyak hotel. Jadi nyaris, selama ini "ngehotelnya" gratis.

Aam belum setahun, menikmati fasilitas kid playground, salah satu hotel. Aku lupa hotel apa ini...hehehe 


Aku pernah bayar hotel sendiri 2 hari di Bandung, demi menghadiri acara Pesta Awug Paberland, 2 tahun lalu. Setelah itu gak pernah ada istilah hotel bayar sendiri ataupun liburan yang khusus kurencanakan. *Aku tidak menghitung pulang kampung ke Belawan atau pun Palembang sebagai liburan yang direncanakan...

Aku jadi inget, tahun 1999, pertama kali kami berdua (belum ada anak-anak waktu itu), berlibur berdua ke Bandung. Naik bus ke Bandung. Nyari penginepan super murah tapi bersih. Naik becak dan jalan kaki kemana-mana. Bawa-bawa map, persis wisatawan lokal. Hehehe..
Aku terkesan dengan Dago dan Es cendolnya yang sedap. :)

Kami jg pernah melakukan perjalanan bertiga (Billa usia 1 tahun lebih), naik kereta ke Malang, menginap di Wisma Unibraw, dalam rangka mengurus surat mundurku dari s3. Itu tahun 2009 akhir atau 2010 awal kalau gak salah. Billa tidak nyaman selama di kereta. Aku nyaris tidak bisa tidur. Ternyata Billa memang ada sakit waktu itu. Dan baru ketahuan ketika kami berada di Guangzhou.

Singkat cerita....

Ini pertama kalinya, aku menyusun jadwal liburan. Meski hanya 2 hari 1 malam. Beli tiket kereta api secara online, booking hotel lewat Agoda, yang sesuai kantong, dan merencanakan/menetapkan lokasi wisata yang akan dikunjungi selama  di kota tujuan. Mudah-mudahan bisa secara maksimal demi Kak Billa.

Harapanku, semoga Kak Billa merasakan serunya naik kereta, indahnya pemandangan, menikmati jadwal yang sudah kuatur, dan pergi pulang dalam keadaan sehat bahagia. Sehingga ia tak sabar untuk menuliskannya, menggambarnya atau membagi ceritanya ke guru sekolah.

Semoga Aam juga bisa adaptasi dengan rencana liburan ini. Aku tahu, harus siap menghadapi hal diluar prediksi, jika sudah terkait sikap atau reaksi Aam kelak.

Bismillah...

Detail cerita, menyusul setelah liburan berhasil dilakukan. In sha Allah.



Saturday, November 15, 2014

(Sharing Parenting) Beberapa Cara Menstimulasi Anak Yang Punya Masalah Tumbuh Kembang

Putri pertamaku, Kak Billa (6 tahun 2 bulan), mengalami masalah dengan preposisi visualnya. Ia sering dan nyaris menuliskan semua huruf dan angka secara terbalik, tidak suka membaca dan lebih lagi, masih sulit membedakan kanan kiri, atas bawah, depan belakang serta keterangan waktu.

Sementara putra keduaku (bungsu), Aam (2 tahun 8 bulan), didiagnosa pdd-nos dan juga delay speech.

Berikut beberapa tips menstimulasi anak yang kulakukan selama ini.

Tentu saja, aku bukan "a perfect mom" juga bukan "super mom".

Jika aku membagi tips ini, karena sudah kulakukan dulu dan ada hasilnya sebelum dibagi ke teman-teman sekalian.

salah satu kegiatan anak-anak di rumah


1. Untuk anak-anak yg motorik halusnya kurang bagus, mengajak anak mewarnai, mencoba ronce kayu2an (ada jualannya), serta belajar menghubungkan titik-titik pd gambar, termasuk membantu menguatkan motorik halusnya.

2. Untuk anak bermasalah dgn preposisi visual, latihan dgn sering menggunakan kata lokasi atau posisi, akan membantu. Misalnya "Kak Billa, tolong letakkan buku itu di kanan televisi", atau "Kak, mundur 2 langkah dulu ya" atau banyak kalimat "perintah" terkait posisi. Selain itu, melatih membiasakan menggunakan puzzle sebagai alat bantu utk tahu kanan kiri, juga bisa. Its work with Billa.

3. Untuk preposisi visualnya cenderung "berat", seperti terlalu banyak yg salah dan terbalik ketika menulis  huruf, kebiasaan orang tua membacakan buku, mengajak anak menggambar dan membuat cerita (pic book), akan membuat anak menyukai huruf dan angka. Nanti lama-lama si anak bisa dibujuk menulis  cerita sendiri. hal ini ternyata membantu Kak Billa untuk mengalahkan masalahnya. Mudah-mudahan bisa dijadikan referensi untuk menstimulasi dan terapi terkait preposisi visual anak.

belajar bikin pic book sendiri
4. Untuk delayed speech seperti Aam, kebiasaan berbicara dengan melakukan kontak mata (ortu jongkong sehingga mata anak sama tinggi dgn mata ortu) harus sering dilakukan. (eye to eye level). Jadi kita sebagai orang tua, jongkok dan memastikan matanya melihat gerakan bibir kita. Karena pada prinsipnya, anak delayed speech tanpa gangguan pendengaran, lebih bisa konsenstrasi, jika diminta melihat gerakan bibir, daripada diajak berbicara tanpa melihat gerakan mulut.

Jadi, misalnya si anak menginginak sesuatu, tapi tidak ditunjukkannya, maka ibu/ayahnya harus jongkok berhadapan wajah (matanya dan mata kita sejajar), dan tanya ke anak kita..."mau minta bunda ambil apa?" sebutkan satu persatu benda yang diinginkan. Jika tidak bisa, ajak tangannya, minta ia menunjukkan benda yang diinginkannya. Jika sudah tahu bendanya, maka kita akan bilang "Aam mau minta bola, ya?"Lakukan sampe ia mengangguk.

Mungkin sedikit membosankan buat kita, yans udah fasih bicara,t api menguntungkan buat anak yang sulit bicara.

Setahun terakhir ini, jika aku mengajak Aam jalan, maka jika ia pegang batu, aku akan bilang "Aam sedang pegang batu,". Atau jika ia menunjuk pohon, aku akan bilang "iya, itu yang warnanya hijau itu, namanya pohon!". Seterunya, jika anak kita main, makan dan setiap saat. Ibu atau Ayah harus selalu bicara berhadapan dengan anak.

Aam dan koleksi puzzlenya


5. Penggunaan puzzle, koin masuk ke tabungan dan kelereng masuk dlm botol plastik, termasuk membantu anak delayed speech utk konsentrasi, sehingga sambil terapi itu, kita bisa mengenalkan 1-2 kata baru.

6. Menggunakan flash card, media youtube utk lagu dan video alpabet/angka/hijaiyah serta, video yg banyak kata2nya seperti serial Kak Diva, termasuk membantu Aam (anak visual learner) untuk menambah kosa kata. *untuk memahami anak tipe pembelajara visual atau bukan, masih perlu digali lagi. Ini hanya berdasarkan feelingku saja sebagai ibu, yang melihat Aam dan Billa lebih cepat faham jika digunakan alat bantu gambar atau video dalam menjelaskan satu hal.

7. Banyak lagi yg lain yg  bisa dilakukan sambil bermain, seperti menghitung batu-batuan saat jalan sore, menyebutkan benda-benda disekitar, dan yang terpenting lagi, ortunya fokus saat menstimulasi anak-anak.

kakak dan kesukaannya menggambar, untuk melatih motorik halusnya


Aku pribadi memilih mematikan tivi dan mengajak jalan-jalan jika memang harus fokus. Atau menyisihkan waktu khusus utk anak-anak sambil melupakan DL menulis  atau hal-hal yg penting utk diri sendiri.

Jika dirasa tak bisa fokus, aku memilih membiarkan anak2 bermain sendiri, dengan alat-alat bermain seperti puzzle, buku mewarnai, balok-balok dan mainan lainnya.

Meski masih sulit mengatur soal nonton tv, tapi sejauh ini, Kak Billa hanya nonton 2-3 jam sehari saat hari sekolah. Kalau besok libur, memang tidak saya batasi.

Kalau Aam, sudah tdk tertarik banget dgn televisi, lebih suka lihat youtube lagu huruf, angka dan hijaiyah.

Sejauh ini, beberapa stimulasi itu bisa dilakukan.

Sekedar info tambahan, utk Kak Billa terapinya baru dilakukan setengah tahun terakhir ini. Dan saat ini sudah bisa membaca dan tulisan terbaliknya sudah berkurang banyak. Sudah mulai faham keterangan waktu, tapi msh sering salah perihal arah kanan kiri :D

Untuk Aam, stimulasinya dilakukan sejak dia diterapi setahun lalu. Saat ini belum diterapi lagi, aku lanjutkan di rmh aja stimulasinya. Lumayan banyak kosa katanya dan sudah mulai sedikit-sedikit faham dgn kalimat perintah dan tanya.

Demikian sedikit sharingku, semoga ada sedikit manfaatnya buat teman pembaca sekalian.


Friday, July 05, 2013

[Aam] Setahun Usiamu...

Setahun sudah... :) 




Tahun lalu.... dini hari, aku menuntaskan pendengaranku pada juz terakhir ayat-ayat Allah.
Kutarik udara perlahan memenuhi paru-paru, meski bukan oksigen 100 persen segar yang kuhisap, karena pendingin udara kamar rumah sakit yang menggantikannya.

"Sudah subuh?" bisik suami perlahan.

Aku mengangguk.

Jantungku kembali berdegup lebih kencang dari biasanya.

Tak lama, wajah suster yang berdinas pagi menyelinap di antara tirai penutup tempat tidurku.

"Selamat pagi, Bu. Sudah siap? Sebentar lagi, saya bawa kursi rodanya ke mari ya..." Seutas senyum tulus meniti wajahnya.

Aku mengangguk.

Tarikan nafasku makin menderu.

Ini adalah kali ke dua aku akan menjalani operasi caesar. Jika dulu dilakukan, di luar jadwal dan keadaan, sehingga tak cukup waktu bagiku menyiapkan mental, hingga pasrah menjalaninya.
Namun, saat ini, aku yang memilih tanggal 20 Maret 2012, untuk menerima kehadiran putra ke duaku. Mental yang kukira telah siap, ternyata malah memompa derap jantung karena harus menjalani pengalaman operasi caesar kembali. Bayangan proses operasi dan setelahnya yang tak akan nyaman dalam hitungan minggu, berkelebat memenuhi otak dan pikiranku.