Followers

Tuesday, January 03, 2012

Setelah Setahun Belajar Menulis



Di awal tahun 2011, aku berkomitmen untuk mengikut banyak audisi naskah maupun lomba di blog. Meskipun tidak terlalu banyak, namun aku upayakan dalam sebulan, minimal ada 1-2 kegiatan yang aku ikuti.

Hasilnya ada yang menyenangkan dengan gelimangan hadiah, mulai dari buku, snack, coklat dan berbagai souvenir hingga uang. Alhamdulillah. Meski tak menutup ada juga yang tak begitu menyenangkan, seperti ditolak naskah, atau didelete ama editor. Hiks..., tapi semua itu pengalaman yang berharga sekali. Alhamdulillah lagi.

Berikut kesimpulan data yang berhasil aku buat, berdasarkan daftar kiriman naskah selama tahun 2011 :

1. Jumlah Keseluruhan Naskah yang dikirim, baik untuk lomba blog, audisi antologi, cerpen anak maupun naskah novel adalah : 62 Naskah.
Spesifikasi naskah : 3 naskah resensi+majalah, 27 naskah antologi, 7 naskah cerita anak, 12 naskah FF, 11 naskah blog, 2 naskah novel anak.

2. Naskah yang ditolak/tidak menang audis/lomba : 16 Naskah.

3. Naskah yang ditolak dikirim ulang ke tempat lain : 4 Naskah, dengan hasil 2 naskah diterima penerbit lain dan 2 naskah lainnya dalam proses pengeditan.

4. Naskah Yang diterima oleh PJ antologi, tapi ditolak oleh editor penerbit : 1 naskah.
Kejadian ini membuatku jadi hati-hati dalam mengikuti suatu audisi naskah antologi, khususnya di tahun 2012 ini.

5. Naskah yang masuk dalam bentuk buku di tahun 2011 : 16 buku, dengan spesifikasi : 1 buku cerita anak solo, 3 buku kumpulan cerita anak (sebagai kontributor), 12 buku antologi (2 antologi sebagai penyusun dan 10 antologi sebagai kontributor)

6. Naskah yang berhasil terbit dalam majalah : 2 naskah ( Majalah Bobo dan Majalah Pena)

7. Sisa naskah lainnya, insyaAllah dalam proses pengeditan dan penerbitan. Mudah-mudahan panen di pertengahan tahun 2012.

Alhamdulillah, di tahun 2011, aku mendapatkan banyak sekali pengalaman, pembelajaran serta sharing ilmu yang sangat bermanfaat terkait dunia menulis.

InsyaAllah tahun 2012, akan lebih fokus pada cerita-cerita di dunia anak. Berharap lebih banyak lagi buku karya sendirian terkait buku cerita anak. amiin.

***



Tetap Semangaaat !!!



***



Foto milik pribadi. Diambil setahun lalu, setelah pulang dari belanja buku di Guangzhou :))

Monday, June 20, 2011

Sentuhan Dunia Maya Pada Duniaku




Pertama… Lewat Email

Aku ingat sekali, ketika bulan Februari 1998, selesai mengikuti Training of Trainee mengenai Hak Kekayaan Intelektual di Jakarta, aku pertama kali mengenal bagaimana kerja sebuah internet dikaitkan dengan dunia HKI tersebut. Aku juga pertama kali melirik sebuah website untuk belajar membuat email. Eudoramail.com. sebuah situs yang beberapa tahun lalu, diakuisis oleh Lycos.com.

Entah apa kabarnya email pertamaku itu. Sebuah email yang membuatku rajin mengirim email ke prof. Prof. William Fryer III - seorang Profesor dari Amerika Serikat - yang memberikan materi mengenai internet dan HKI serta secara sangat cerdas menjabarkan bagaimana sebuah email bekerja.

Aku sempat merasa sangat gaptek, namun berkeras untuk belajar. Meski belum memiliki fasilitas internet di rumah, aku tetap rajin main ke warnet. Tak jarang, aku mampir ke kantor Papaku, sekedar untuk menumpang belajar internet di kantornya.

Hingga akhirnya, aku memiliki beberapa email, dan mulai menularkan kebiasaan berinternet kepada mahasiswa-mahasiswaku.


Ke Dua, Menularkan Dunia Maya Pada Mahasiswa


Excitement atau rasa senang yang meluap karena mengenal system surat elektronik baru tersebut membuat aku berani berkenalan dengan banyak staf pengajar dari luar negeri. Dengan bermodal hanya satu tempat warnet di Palembang pada tahun 1998 tersebut yakni di Kantor Pos Pusat, aku rajin memantau email seminggu sekali.

Rasanya happy sekali mendapatkan kenyataan bahwa melalui email aku dapat berhubungan dengan banyak orang di dunia ini dalam waktu singkat. Kegiatan ini berlanjut pada chatting, surfing/gogglingserta mengikuti berbagai milis yang memiliki banyak infomasi.

Rasa happy dan excitement ini langsung kubagikan kepada mahasiswa-mahasiswaku. Semua mahasiswa kuwajibkan untuk memiliki email dan menyerahkan hasil tugasnya melalui email. Aku minta mereka latihan mencari data atau mensurfing data dari internet. Meskipun mereka menggerutu dan bisa dipastikan mengomel dibelakangku, tapi aku tidak perduli.

Tahun 1998 itu, belum banyak dosen di fakultas tempat aku mengajar yang bisa menggunakan internet. Semua mahasiswaku awalnya mengeluh mengenai biaya sewa internetnya. Sebagian lagi mengeluh mengenai langkah-langkah registrasi yang berbahasa Inggris.

Aku tidak perduli, bahkan aku bilang ke mereka, "Bagi yang merasa kurang mampu, boleh minta uangnya ke aku dan yang tidak mengerti bahasa Inggris, harus bawa kamus tiap ke warnet...Hehehe."

Saat itu telah kuniatkan bahwa mahasiswa yang mengikuti mata kuliah Hak Kekayaan Intelektual harus belajar internet dan lulus mata kuliah itu dengan kemampuan menggunakan email dan internet dengan baik.

Akupun senang sekali, mendapati kenyataan, meskipu di awal perkuliahan kebanyakan mahasiswa itu mengeluh, namun di akhir kuliah, semuanya berbalik. Karena, akhirnya semua mahasiswaku menikmati kegiatan tersebut. Bahkan sebagian dari mereka menyombongkan dirinya ke beberapa mahasiswa lain tentang serunya mata kuliahku dan internet tersebut.



Ke Tiga, Ketika Ngeblog Membuatku Menjadi Rajin menulis


Sekitar tahun 2004, adalah masa pertama kali aku berkenalan dengan dunia blog. Aku mencoba menjadi blogger di blogspot.com dan sekali-sekali menulis blog juga di friendster. Berada jauh dari kota kelahiranku –Palembang – dan menempuh tugas belajar di Jawa Timur, tepatnya di kota Malang, membuat aku mencari kegiatan yang positif. Banyaknya waktu luang ditambah banyaknya warnet bertebaran di kota Malang tersebut mempermudah diriku menggunakan fasilitas internet.

Hampir tiap 2-3 kali dalam seminggu aku pasti ngeblog. Namun minat untuk serius menulis di blog mulai aku jalani pada Mei 2007 ketika aku mengenal fasilitas jejaring sosial Multiply.com.

Aku berkenalan dengan banyak penulis senior. Hingga akhirnya aku memberanikan diri untuk mencoba ikut dalam audisi naskah antologi. Akhirnya, sejak tahun 2008, resmi aku menjadi seorang contributor. Karena sejak menjadi bagian dari kumpulan cerita mengenai suami istri dalam buku Persembahan Cinta yang disusun Pipiet Senja, aku mulai melirik dunia menulis secara serius.

Meski terkesan tidak produktif, karena tahun 2009, hanya ikut serta dalam kumpulan cerita para penikmat Long Distance Love yang disusun oleh Imazahra, namun aku membuat resolusi di akhir tahun 2009 tersebut. Bahwa mulai tahun 2010, aku akan serius belajar menulis.


Ke empat, Akhirnya Dunia Maya Membuatku Memilih Menjadi Penulis.



Pilhan yang aneh memang. Ketika karirku berjalan baik sebagai seorang dosen, justru kehadiran anak dan perkenalan dengan dunia maya, membuatku memilih untuk menjadi seorang penulis.

Kecintaanku pada dunia maya tidak melahirkan pengalaman jelek, aku malah menikmatinya dengan meyakini, bahwa melalui dunia maya aku bertemu para penulis senior yang rendah hati dan mau berbagi. Melalui dunia maya aku jatuh hati dengan dunia menulis. akhirnya melalui dunia maya, aku memilih untuk menjadi seorang penulis.

Tak ayal, sejak tahun 2010, aku menggila dengan begitu rajinnya mengikut berbagai audisi naskah antologi. Tidak sekedar belasan, namun puluhan audisi naskah aku ikutan. Tak hanya di bidang non fiksi, namun juga fiksi.

Begitu besarnya dunia maya ini mempengaruhi hidupku untuk bekerja keras belajar menjadi seorang penulis.

Semuanya tak sia-sia. Akupun menikmati, setiap kali buku antologi yang memuat tulisanku lahir. Hingga muncul sebuah resolusi baru di akhir tahun 2010. Bahwa, aku harus memiliki minimal sebuah buku solo.

Lagi-lagi komunitas di dunia maya, seperti Blogfam family serta Group Menulis di beberapa jejaring sosial, mengantarkanku menjadi salah seorang yang rajin mengikuti workshop. Wah, dari dunia maya hingga menjadi komunitas di dunia nyata. Aku belajar banyak dari komunitas di dunia maya ini. Semua itu tak sia-sia. Sungguh tidak sia-sia.


***

Jadi, aku pikir, jika memang kita pintar dan baik dalam memanage dunia maya sesuai keinginan kita, maka semuanya akan menghasilkan sesuatu yang positif. Siapa yang bisa mengira, dari hanya sekedar mengenal sebuah email dan blog, aku akhirnya menularkan semangat menggunakan internet serta ngeblog kepada mahasiswa dan keluargaku. Bahkan kini, semangat menulispun selalu aku tularkan kepada teman-teman di dunia maya.

Dunia maya, memang sebuah dunia yang tak fana, namun jika kita pintar menggunakannya, akan banyak hikmah kita raih bersamanya.



***

Thursday, February 17, 2011

[sayembara naskah qultummedia] Sembilan Tahun Menanti


Sembilan Tahun Menanti
By Dian Onasis

Prolog
Laksana  sebuah godam besar menghentak diriku. Dentuman dasyat datang dari Sang Maha Hakim, Allah yang Maha Adil, di saat berita “perginya” calon putraku yang telah bersemayam 29 minggu dalam rahim ini. Aku tersadarkan, betapa Allah adalah yang paling berhak atas kehidupan calon anak-anakku.
Isak tangis yang hadir di hati, rasanya tak lebih sebagai wujud ego manusia belaka. Aku terhenyak dan menangisi diri akan kepergian salah satu calon anak kembarku tersebut. Aku, seorang perempuan yang telah lama menanti kehadiran anak dalam pernikahan. Sembilan tahun kujalani kehidupan sebagai istri, tanpa memiliki seorang keturunan. Rinduku pada seseorang yang memanggilku “Bunda” telah sampai pada titik pasrah.

Satu Pergi dan Satu Berjuang Untuk Hidup.
Ketika Allah, Sang Maha Penyejuk Hati berkenan menitipkan sepasang janin kembar dalam rahimku, tak tergambarkan ungkapan rasa gembira. Sewaktu dokter menyatakan aku hamil, airmata bahagia menyumur di ujung mataku. Bahkan, di saat dokter menyampaikan berita bahwa aku akan memiliki dua orang anak sekaligus, bahagia dalam hati melompat menembus langit-langit ruang putih rumah sakit. Airmata haruku jebol detik itu juga.
Sebuah berita gembira yang paling nikmat yang pernah kuterima.Tak putus rasa terima kasih pada Allah kupanjatkan. Aku betul-betul menikmati masa-masa kehamilan tersebut. Imaginasiku meretas, menyaksikan bayangan dua manusia kecil nan ceria berlari-lari hendak memelukku dan memanggilku “Bunda”.
Namun, aku akhirnya terhenyak pada kenyataan, karena pada minggu ke 29 kehamilan, detak jantung, aliran darah dan perkembangan tulang calon anak laki-lakiku telah berhenti. Semua hilang tanpa sebab yang pasti. Sudden Death, demikian dokter menyebutnya. Aku termangu, terdiam dan menahan isak. Mencari mata penguat jiwa pada diri suamiku. Aku genggam erat jemari suamiku mengharapkan aliran kekuatan diri menghadapi cobaan ini. Berminggu aku membentuk mental dan fisikku untuk menjadi ibu dari dua orang anak sekaligus, namun Allah berkehendak lain, mencabut semua rencanaku dan menggantikannya dengan pilihanNYA.
Airmataku tumpah sesaat. Ya… hanya sesaat. Karena ketika batinku menangis bersamaan dengan cucuran airmata yang menganak sungai, rahimku pun kontraksi. Calon anakku yang perempuan ternyata memberi isyarat bahwa ia masih hidup dan tengah berjuang untuk kehidupannya.
Aku tersadarkan. Calon putriku masih bertahan. Ia sepertinya ingin mewujudkan asaku menjadi seorang Ibu. Fase berdukaku secara pelan kukikis. Tahapannya berganti menjadi fase perjuangan bagi calon putriku, sejak pertama kali aku harus menginap di rumah sakit hingga satu bulan berikutnya. Aku terbaring istirahat di sana.  Aku nikmati setiap tahap pemeriksaan diri  sebagai upaya mendapatkan sebuah panggilan “Bunda” dari anakku. Suntikan pematangan paru-paru bagi janin perempuanku kala itu adalah salah satu yang  membuatku “menikmati” rasa kesakitan setiap kali obatnya merayap menyelusuri tubuh ini. Badanku bak diserang ratusan semut merah ketika obat menjalar ke seluruh tubuh.
Aku melewati proses melahirkan seorang bayi laki-laki yang telah tanpa nyawa selama sebulan dalam rahimku. Tubuh almarhum putraku telah membiru layu dan hanya memiliki berat 700 gram. Selang beberapa menit, lahir bayi perempuanku dalam kondisi memprihatinkan karena premature. Tak ada tangisan bayi sama sekali. Dalam kepasrahan, kusempatkan tiap detik yang kumiliki  untuk menghipnotis diri dengan mengucapkan ratusan kali istigfar serta berbagai ayat pendek yang kuingat. Aku bahkan sempat mendapat serangan darah tinggi sebentar. Namun berhasil kembali stabil beberapa menit kemudian. Kondisi ini menjadikan mentalku harus siap untuk segala kemungkinan.
Di saat melahirkan, aku melihat prosesnya dengan keadaan sadar. Dokter terlebih dulu mengangkat jasad bayi laki-lakiku, kemudian tubuh bayi perempuanku berwarna merah muda pucat, dikeluarkan oleh dokter dalam posisi sungsang. Tak lama, aku pun dibujuk untuk tidur dan mengistirahatkan mata dan tubuhku oleh dokter anastesi.  Sayup kudengar tangisan bayi selang 10 menit dari dikeluarkannya bayi-bayi tersebut dari rahimku. Kemudian, aku tak ingat apa-apa  hingga pagi datang menjelang. 
Akhirnya, putriku diijinkan Allah menjadi bagian dari keluargaku, setelah berteduh dalam rahim selama 33  minggu. Perjuanganku menjadi ibu pun bermula dari kelahiran Siti Syarifah Salsabila Onasis. Seorang anak perempuan yang aku doakan melalui namanya untuk menjadi perempuan mulia dunia akhirat yang dijanjikan mata air surga.

Pelukan Pertama
Nyaris 24 jam pasca aku memasuki ruang operasi, aku berusaha belajar duduk dan berjalan. Kuminta suster membuka infus. Sembari menahan rasa sakit atas luka operasi caesar, aku berhasil duduk di kursi roda dengan selang kateter masih kupegang. Aku beritikad kuat, untuk  menemui bayi perempuanku. Sementara mayat bayi laki-lakiku tak dapat aku jumpai, karena telah dibawa pulang oleh ayah ibuku. Ia akan dimakamkan tepat di depan rumahku. Agar selalu dekat denganku.  
Memasuki ruangan intensif bagi para bayi baru lahir itu, membuat hati berdebar kencang. Tak kala aku melihat kondisi putriku. Begitu banyak selang terpancang ditubuhnya. Pada hidung, mulut, dada, pusar dan kakinya. Semua digantungi oleh selang dan kabel. Ia terlihat begitu mungil dan rapuh. Tanganku gemetar menerima dirinya dalam pelukan. Ini adalah pertemuan pertama kami. Aku menanti suara tangisnya yang tak kunjung keluar. Salsabila hanya memberikanku pertunjukan beberapa gerakan kecil saja.
Rasa sakit tak begitu aku rasakan. Meski khawatir dengan keadaanya, aku tetap mencoba berpikir positif dan konsentrasi pada tubuh mungil berukuran 2 kg yang ada di pelukan. Aku berikan ia cairan ASI pertama. Peluh membasahi tubuh ini. Suamiku dengan sabar menghapus keringatku sembari memegang selang kateter. Selama proses menyusui pertama kali itu, jantungku berdebar sangat kencang. Sesaat, aku mengira terkena serangan jantung. Sebegitu hebatnya pengaruh pelukan dan menyusui pertama kali bagi tubuhku.
Kuelus pelan tubuh kecil itu, kucium hangat pipinya sembari khawatir selang oksigennya tersentuh. Ya Allah, mahluk mungil ini yang kelak akan memanggilku Bunda, bisik hatiku perlahan.
Ada airmata yang tertahan. Biarlah ia menggenang di pelupuk. Karena ini bukan airmata kesedihan. Airmata ini adalah kebahagiaan sekaligus kekhawatiran. Sesaat aku membatin, Akankah putriku dapat bertahan?.  Kembali kucium lembut dirinya. Gosokan tangan suami secara ringan di punggungku terasa mengalirkan rasa hangat dan keyakinan bahwa anak kami akan segera sehat.
Putriku secara perlahan menghisap ASI. Refleksnya menerima makanan alamiah nan sempurna ciptaan Allah dari tubuh ini membuatku terenyuh. Ada getar-getar lembut menyelusup ke hati. Kesempurnaan menjadi seorang ibu telah tercapai. Melahirkan seorang anak dan menyusuinya menjadi moment terpenting dalam hidupku. Mengalahkan detik ketika aku diwisuda, saat aku menikah bahkan ketika aku dinyatakan hamil sekalipun.
Kesabaranku dan suami menanti kehadirannya selama 9 tahun pernikahan kami membuahkan kebahagiaan tak terkira. Rasa sakit dihina dan dicerca banyak orang yang menganggapku mandul, pertanyaan-pertanyaan yang menorehkan luka di hati karena lama tak memberi keturunan bagi suami, kalimat sarkasme yang menghampiri, akhirnya terjawab di akhir bulan Agustus 2008. Hari ketika aku diberikan kesempatan menjadi seorang Bunda.

Terlalu  Protektif
Putriku tak dapat langsung kubawa pulang. Ia terlebih dahulu harus menginap selama 28 hari di rumah sakit. Saat aku dan suami membawanya pulang, kugendong putriku dengan sangat hati-hati. Aku bahkan berikhtiar, mulai hari itu hanya aku sendiri yang akan mengasuhnya. Aku nyaris seperti orang yang tak masuk akal, ketika tak satu orang pun yang kuijinkan untuk mengendong putriku. Pengecualian hanya berlaku bagi kedua orang tua dan mertuaku. Nyaris selama 3 bulan pertama, hingga aku meyakini bahwa fisik dan mental putriku sudah stabil, baru aku perbolehkan satu dua orang lain mengendongnya. Itupun dengan berbagai persyaratan, seperti harus cuci tangan, baju bersih dan tidak dalam keadaan sakit menular seperti flu atau batuk.
Banyak pihak di belakangku yang membincangkan sikap kaku dan protektifku  sebagai ibu. Aku tak perduli. Aku pikir, bukan mereka yang menjalani kehidupanku. Mereka tidak harus menunggu 9 tahun untuk mendapatkan momongan seperti yang kualami. Serta bukan mereka yang harus kehilangan janin laki-laki dan berjuang untuk kehidupan janin perempuan. Egoku menyatakan, adalah wajar jika aku menjaga kesehatan putriku begitu ketat, hingga aku yakin ia cukup kuat menerima keberadaan orang lain selain ibunya.
Beruntung, sikap protektif ini tak berlangsung lama. Akupun sadar, bahwa bagaimanapun juga, putriku kelak akan menjadi seorang mahluk sosial. Ia pun akan menjadi manusia yang harus mandiri. Perlahan aku berupaya membenahi hati. Menyakini bahwa putriku bahagia bersama orangtuanya. Tumbuh kembangnya mengarah ke hal yang baik dan sehat. Kekhawatiranku yang dianggap orang berlebihan, mulai berkurang. Aku belajar sabar menjadi seorang ibu dari seorang perempuan kecil yang tumbuh kembangnya tak secepat bayi seusianya.
Ketakutanku sempat memuncak, ketika di usia 9 bulan, putriku belum dapat duduk sendiri, tak bisa merangkak bahkan tak punya gigi. Namun kekhawatiranku punah setelah di usianya ke 10 bulan semua kemajuan fisiknya muncul secara bersamaan. Putriku merangkak mundur. Iapun tertawa ceria ketika berhasil duduk sendiri dan tumbuh gigi. Bahkan ia tumbuh menjadi perempuan mungil ceria yang sangat aktif. Hari-hariku sebagai Ibu diisinya dengan kelincahannya yang penuh cinta.

Epilog
“Bunda…Bundaaaa…” suara kecil itu memanggilku. Aku terkesima. Selama ini dia memanggilku dengan beragam panggilan seperti Wowok, Dada, Buda dan panggilan lainnya. Namun kali ini, tepat di usianya yang ke dua tahun dengan lancar ia memanggilku Bunda. Ketika kami sekeluarga berada di kota Guangzhou, kaki mungilnya berlari menuju ke arahku dan ia meneriakkan kata “Bunda” untuk pertama kalinya. Hatiku penuh dengan rasa bahagia yang tak terkatakan.  

***
Pamulang, 15 Februari 2011.

Sunday, February 06, 2011

Bumi Milik Anak Cucuku…









Oleh Dian Onasis


Hari ini, Bumi menyapa pagiku dengan senyum cerah. Meski aku tahu, tidak selamanya senyum itu akan terus ada. Barusan aku melihat seorang laki-laki membuang sampah tidak pada tempatnya. Meski demikian, Bumi tetap berbaik hati memberikan udara bersihnya.

Meski, tak lama udara bersih itu dihadiahkannya. Karena, jika siang menjelang, udara telah berubah warna dan rasa. Aku tak sanggup menghisap terlalu lama asap knalpot dari berbagai kendaraan yang sudah uzur usianya. Tidak layak jalan, namun dipaksakan juga oleh pemiliknya.

Pagi ini, aku berjumpa seorang Ayah. Mengendarai sepeda dan menutup mulutnya dengan kain khusus penutup mulut.

“Selamat Pagi Ayah, hendak bekerjakah ?” Sapaku ramah.

“Iya…” Jawabnya penuh kehangatan. Namun aku tak bisa melihat senyuman karena tertutup kain.

“Bike to Work?” Tanyaku tanpa menunggu jawaban lama, karena anggukan kepala segera meresponku.  Aku menyukai si Ayah. Ia termasuk orang-orang yang sadar akan penitipan diri Bumi padanya.

Sejak manusia pertama kali diturunkan Tuhan ke bumi, maka sejak itu Bumi dititipkan Tuhan kepada manusia. “Ini Bumi, AKU titipkan kepadamu, wahai Manusia, untuk dijaga dan diserahkan kepada generasi penerusmu.” Demikian aku yakin Tuhan berbicara dengan manusia pertama di bumi. Bumi tak pernah diberikan kepada manusia. Ia hanya meminta untuk dijaga agar generasi berikutnya dapat turut menikmati setiap jengkal hikmah dan nikmat dari Bumi ini.

Aku teringat pohon mangga depan rumah. Ia telah tumbuh belasan mungkin puluhan tahun, jauh sebelum diriku menempati rumah ini. Tak ada niat sedikitpun untuk menebangnya. Meskipun satu demi satu banyak pohon mangga di sekitar rumah telah ditebang oleh para pemilik tanah. Alasannya, karena sang akar pohon telah merusak jalan, serta khawatir ditimpa pohonnya jika angin bertiup kencang.




Aku cukup sedih juga melihat kematian demi kematian pohon mangga tetangga. Butuh waktu bertahun-tahun untuk menyatakan keberadaan dirinya di Bumi ini. Namun cukup satu hari saja, si pohon mangga tak memiliki nyawa yang terhubung dengan tanah. Padahal keberadaan sebuah pohon itu sangat besar hikmahnya. Oksigen yang ia hasilkan untuk kepentingan manusia. Serapan air dalam akarnya membantu penyerapan air hujan yang makin sulit dilakukan karena semua tanah tertutup aspal dan semen. Daun-daunnya memberikan kenyaman perlindungan dari panasnya sinar matahari di siang hari. Sayangnya tak semua orang menyadarinya. Aku turut berduka atas kematian para pohon-pohon mangga di komplek perumahanku.

Aku juga patah hati melihat foto-foto lama sungai Ciliwung. Melihat para Noni-Noni Belanda menyelusuri keindahan kota Batavia dengan perahu cantiknya. Jakarta nampak bak kota Venesia. Hanya butuh waktu tak sampai 100 tahun untuk menjadikan sungai Ciliwung sebagai kambing hitam segala keresahan masyarakat. Mulai dari bau sungai yang menyengat, warna air sungai yang menghitam dan tumpukan sampah yang tak indah di pandang.





Belum lagi, tuduhan sungai Ciliwung sebagai sungai yang menyebabkan seringnya banjir di ibukota Negara. Padahal… Apa salah si Ciliwung jika tubuhnya sudah tak lagi dihargai manusia Jakarta yang dititipkan oleh generasi sebelumnya ? Tak ada rasa bersalah ketika sebuah sampah dilempar begitu saja ke dalam sungai. Tidak ada perasaan sedih melihat hitamnya warna air sungai akibat banyaknya limbah rumah tangga yang mengalir setiap hari.

Apa penyebab semua ini ?

Aku yakin, penyebab utamanya tak lain dan tak bukan adalah karena sikap manusia yang merasa menguasai Bumi. Karakter manusia yang merasa diberikan dan mempunyai hak memiliki sepenuhnya atas diri Bumi. Padahal sudah jelas, Bumi ini hanya dititipkan. Bumi diamanatkan oleh Tuhan kepada manusia untuk dijaga kelestarian hidupnya. Tidak hanya untuk diri manusia saat ini, namun juga untuk generasi berikutnya. Anak cucu manusia itu sendiri.

Sampai kapankah keburukan atas diri Bumi akan berlangsung ?

Mungkin, hingga diri manusia memahami makna kata “diamanatkan”. Makna diwasiatkan untuk menjaga kelestarian Bumi. Jika tumbuh hasrat menjaga tumpangannya di dunia ini, maka akan banyak perilaku positif dalam menjaga kehidupan Bumi yang makin tua ini.

Mari dimulai dari keluarga kita. Para anak-anak sejak mulai bisa berjalan, kita kenalkan dengan yang namanya kotak sampah. Supaya Bumi merasa nyaman, karena tubuhnya tak melulu berisi sampah. Kita kenalkan pada para batita yang baru belajar menggambar, ada kertas bekas yang dapat digunakan.Karena hemat kertas berarti hemat pohon yang ditebang.

Kita latih para batita dan diri kita sendiri untuk tidur dengan mematikan lampu. Serta selalu mematikan alat-alat elektronik yang tidak digunakan. Mari kita ajak anak-anak untuk fokus dan berkreatifitas pada benda-benda disekitarnya yang tak membutuhkan energy listrik. Ada banyak buku yang bisa dibaca. Ada banyak permainan tradisional yang bisa diajarkan. Bahkan kita dapat meningkatkan daya kreasi anak-anak dengan mengajarinya tentang mendaur ulang segala jenis benda yang memungkinkan di sekitar rumah. Kebiasaan dari rumah ini, terus kita tularkan kepada teman, tetangga, saudara dan kolega kantor. Memulainya dari hal kecil, berharap memiliki efek yang cukup besar bagi kelestarian diri Bumi.

Pagi ini, aku kembali tersenyum pada Bumi. Karena sepertinya Bumi berjanji tak akan menangis lagi hingga banjir tanahku, jika semua manusia berjanji menanam kembali pohon-pohon yang telah mereka tebang. Bumi juga berikrar tak akan mengurangi udara bersih bagi manusia, jika manusia berjanji untuk menggunakan kendaraan yang ramah lingkungan. Sepertinya Bumi juga sepakat padaku dan manusia lain. Ia tak akan marah pada manusia, jika manusia menjaga Bumi sebagai sebuah amanah. Karena Bumi tahu, ia tak hanya hak bagi manusia hari ini. Bumi adalah Hak bagi generasi berikutnya. Bumi hanya dititipkan pada manusia hari ini, agar dapat dinikmati oleh anak cucu manusia nanti. 





***

gambar meminjam dari sini :
gbr bumi : http://www.kemalstamboel.com/wp-content/uploads/2009/02/manajemen-bumi-kita-compressed-300x300.gif
gbr pohon mangga : http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/b/bb/Mangifera_indica_old.JPG/200px-Mangifera_indica_old.JPG
gbr sungai ciliwung : http://multiply.com/mu/djawatempodoeloe/image/98/photos/391/500x500/2/btv-BOW.JPG?et=0WADxeVYvDlJZiVCqjChag&nmid=76424202

Monday, January 03, 2011

Hasil Belajar Menulis Beberapa Tahun Ini...




Sejak pertama kali mengenal dunia blog, terutama ngempi di Multiply, aku bertemu banyak orang baik yang mau berbagi info, pengalaman dan hal positif lainnya. Selain silaturahim yang indah terjalin, aku juga mendapatkan pengalaman belajar menjadi kontributor beberapa antologi. Sejak tahun 2008 awal hingga akhir 2010 kemaren, sudah terbit beberapa antologi yang memuat satu buah tulisanku.

Inilah karya-karya tersebut :


Ini adalah buku antologi pertamaku. Disusun oleh Pipiet Senja. Berawal dari buku inilah, akhirnya aku memiliki kepercayaan diri untuk belajar menulis dan terus belajar menulis.
Judul tulisanku disini adalah " Abang Dimataku". Aku bercerita tentang kesabaran suamiku menghadapi karakterku yang keras.




Sedangkan ini adalah buku antologi keduaku. Penyusunnya adalah imazahra. Sebuah buku yang memperkenalkan aku akan sebuah perjuangan mempromosikan buku ke khalayak pembaca. Buahnya manis, karena buku ini best seller, terpilih jadi cover buku non fiksi terbaik pilihan goodreads dan nominasi 5 besar buku non fiksi pilihan pembaca goodreads. Judul tulisanku disini adalah : Kepercayaan, Sebuah Laut Tanpa Tepi. Kisahku sebagai seorang istri pelaut yang harus berjauhan dengan suami sejak awal pernikahan.








Sementara buku Lovely Ramadan ini merupakan antologi ketiga. Dibuat secara indie oleh seluruh kontributor dengan bantuan penyusun Kang Dani dan indiepublishing.com


Buku ini memuat tulisan lebih dari 60 orang kontributor. Judul tulisanku disini adalah "Ketika Tirai Jendela Ditutup", sebuah kisah mini terkait kenangan duka di bulan Ramadan.

Keunikan buku ini justru dari niat para kontributor yang belajar membuat buku, belajar menjual buku dan belajar untuk memahami seluk beluk membuat sebuah buku indie.

Antologi ini berlanjut dengan antologi dengan judul Lovely Lebaran. aku lolos dua naskah di antologi Lovely Lebaran ini. Namun buku tersebut masih dalam proses pengeditan dan penyusunan. Semoga tahun 2011 dapat berhasil dipublikasikan.






Kemudian, buku antologi ke-empatku. Berjudul : Setan 911. Sebuah antologi terbitan Leutika. Aku mengikuti audisi naskahnya melalui facebook. Judul tulisanku di antologi ini adalah "Perempuan Yang Bermandikan Sinar Bulan Purnama". Kisah nyata yang terkait mistis ini semoga bisa memberi pembelajaran, betapa setan dapat hadir melalui media apa saja, dan kita harus menjaga hati dan keimanan kita dalam menghadapinya.



Sementara, inilah penampakan cover buku antologi kelima ku. Buku yang disusun oleh Pipiet Senja ini merupakan naskah terlama yang baru aku ketahui nasibnya. Alhamdulillah bergabung dalam antologi ini banyak penulis yang sudah cukup ternama seperti Gola gong, Anneke Putri dan lainnya. Judul tulisanku disini adalah "Kesabaran yang menguatkan". Kisah kekuatan mental, hati dan perasaan para perempuan sekaligus upaya mensyukuri semua yang ada di dunia ini sebagai bagian kehidupan yang harus dijalani dengan ikhlas.



Dan inilah, antologi yang digusung oleh Qonita Musa dan kawan-kawan guna mencari dana untuk kepentingan amal dan bantuan kepada korban gunung berapi di Yogyakarta. Sebuah proyek ambisius karena proses pengaudisian naskah hingga terbitnya hanya berlangsung kurang dari 1 bulan saja. Buku inipun berhasil dijual lebih dari 500 eksemplar karena telah di pre-order oleh banyak pihak. Judul tulisanku disini adalah : "Perempuan, Bersabarlah...".

Demikianlah, pencapaianku selama 3 tahun ini. Aku masih harus belajar dan berjuang lebih keras lagi, demi mencapai tahapan penulisan yang lebih baik dan mantap lagi. Doakan tahun 2011 ini aku memiliki buku solo ku ya...

Tuesday, June 09, 2009

Bener ya bisa nyari duit lewat ngeblog ?


Setelah dua tahun absen di blogspot.. terut tau2.. ngerasa banyak kemudahan dan cara ngeblog disini.. rada mirip multiply.. boleh juga nyoba ngeblog lagi disini.. cuma ya perlu siasat deh.. ini blog mau diapain ? harus bertema kan ya ?

apakah hukum ? apakah sebagai ibu baru ? atau sekedar memoar yang kelak mau dibukukan ? atau apa ya ?

well... let me see then....
mungkin dalam minggu-minggu ini akan dipikirkan.. untuk apa blog ini.... ^_^.... sippp.... nyoba ngeblog lagi deh di sini.. mudah2an tambah bermanfaat.. apalagi bisa ngehasilkan uang ya.. ? tapi dipelajari dulu kalau gitu.. ^_^

Tuesday, June 26, 2007

Sekedar sharing...



Gak tau juga mau nulis apa ya...
Saat ini yang terpikir oleh Dian adalah bagaimana mengalahkan diri sendiri..
Bagaimana menjadikan diri sendiri sebagai good competitor, sehingga nantinya bisa menghasilkan banyak hal dan karya yang positif buat Dian pribadi, keluarga bahkan masyarakat...
Akibat dari kehilangan motivasi adalah munculnya rasa malas...dan ini harus dibunuh...
Bagaimana caranya ??
Bagaimana mewujudkan upaya mengalahkan diri sendiri ini..
Sulit kah ? Atau Dian sendiri yang mempersulitnya..
aduuuuh gimana donk......